Published On: Mon, May 25th, 2015

AIPI Selenggarakan Seminar “Indonesia Sebagai Tapak Ilmiah Dunia”

Share This
Tags

???????????????????????????????Jakarta, 25 Mei 2015 – Indonesia lahir dari sebuah gerakan intelektual, yang berakar pada kegelisahan kaum muda dan terpelajar akan bangsanya. Tokoh-tokoh pergerakan seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Sutan Sjahrir merupakan kaum pemikir dan terpelajar. Hasilnya, pada 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Ilmu pengetahuan telah meletakkan fondasi dalam mendirikan negara ini.

Namun rencana pembentukan suatu Akademi Ilmu Pengetahuan yang sudah direncanakan sejak awal masa kemerdekaan, sekitar 1949, tertunda hingga lebih dari empat dasawarsa kemudian. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia baru berhasil didirikan pada 1990 berdasarkan UU No. 8 Tahun 1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dua puluh lima tahun berselang, AIPI merayakan ulang tahunnya dengan menggelar seminar dan sejumlah workshop selama tiga hari pada 25-27 Mei 2015. Profesor Sangkot Marzuki, Ketua AIPI, mengatakan perayaan ke-25 tahun AIPI merupakan momentum yang tepat untuk menggiatkan kembali pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya ilmiah di Indonesia. “Selama ini kita selalu sibuk dengan isu ekonomi dan politik yang  dirasa lebih genting. Namun, ilmu pengetahuan berperan penting dalam kemajuan suatu bangsa. Apakah kita harus menunggu lebih lama untuk mengedepankan isu pengetahuan? Jika kita ingin menjadi bangsa yang maju, harus dilakukan sejak hari ini,” katanya saat membuka rangkaian acara Silver Jubilee AIPI, Senin, 25 Mei 2015, di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat.

Hari pertama kegiatan AIPI Silver Jubilee dibuka dengan seminar bertema “Indonesia Sebagai Tapak Ilmiah Dunia: Mengikuti Jejak Alfred Russel Wallace”. Seminar ini membahas tentang empat penemuan akbar dunia yang terinspirasi dari bumi Indonesia, yaitu “Asia Tenggara sebagai Stasiun Utama Penyebaran Manusia Modern”, “Manusia Jawa Telah Menggunakan Alat dan Kreativitas 500.000 Tahun Lalu”, “Homo Floresiensis, Spesies Hominid Baru atau Homo Sapiens Abnormal”, dan “Lukisan Gua di Sulawesi Selatan, Bukti Kreativitas Homo sapiens tertua Dunia”.

Sebagai rangkaian dari perayaan 25 tahunnya pada 25-27 Mei 2015, AIPI juga akan meluncurkan sejumlah program seperti Agenda Ilmu Pengetahuan-SAINS 2045 dan Akademi Ilmuwan Muda, serta Indonesian Science Fund (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada Rabu, 27 Mei 2015. Selain itu sejumlah workshop seperti “Workshop on Biosecurity”, “Workshop on Lifestyle Diseases”, dan “Workshop on Emerging Diseases”

Rangkaian kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama AIPI dengan Kementerian Sekretariat Negara, USAID, Pemerintah Australia; kolaborasi dengan berbagai akademi ilmu pengetahuan seperti National Academy of Sciences dari Amerika Serikat, Australian Academy of Science, dan Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda (KNAW); dan lembaga penelitian seperti National Health and Medical Research Council (NHMRC) Australia, dan SEAMEO- QITEP.

Sebelumnya, peringatan 25 tahun AIPI tersebut diawali dengan Sidang Paripurna Anggota AIPI dan pidato kunci dari Profesor B.J Habibie, salah satu pendiri AIPI pada Ahad, 24 Mei 2015.  Dalam sambutannya, B.J. Habibie optimistis  bahwa pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia akan semakin baik seiring dengan semakin banyaknya warga Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Menurutnya AIPI harus fokus membuat impact untuk masyarakat. Anggota AIPI diharapkan dapat bersinergi dan menghasilkan konsep untuk memajukan negeri.

 

Tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) didirikan pada tahun 1990 di bawah Undang-undang Republik Indonesia No. 8/1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Akademi ini dibentuk sebagai badan independen untuk memberikan pendapat, saran, dan nasihat kepada pemerintah dan masyarakat pada akuisisi, pengembangan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. AIPI terbagi dalam lima komisi yaitu Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Komisi Ilmu Kedokteran, Komisi Ilmu Rekayasa, Komisi Ilmu Sosial, dan Komisi Kebudayaan. AIPI berupaya memajukan ilmu pengetahuan melalui berbagai aktivitas seperti konferensi ilmiah dan forum diskusi kebijakan, publikasi, serta pengembangan hubungan nasional dan internasional. Profesor Sangkot Marzuki saat ini menjabat sebagai Ketua AIPI.