Published On: Tue, Dec 1st, 2015

Apakah Indonesia Siap Menghadapi Integrasi ASEAN?

aseanJakarta, 1 Desember 2015- Pelaksanaan Piagam ASEAN akan dimajukan dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 — akankah Indonesia siap?

Sebuah marketplace properti melihat lebih dalam tentang bagaimana negara ini menyiapkan diri dan menganalisis dampak jangka panjang dari perjanjian tersebut.

Piagam ASEAN yang ditandatangani pada tahun 2007 merupakan dasar hukum dari pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sepuluh negara yang termasuk di dalamnya adalah: Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia,
Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan budaya di seluruh daerah.

Beberapa kesepakatan politik penting diantaranya: Deklarasi ASEAN Concord, Bali, 24 Februari 1976; Perjanjian Kerjasama dan Persahabatan di Asia Tenggara, Bali, 24 Februari 1976; serta Perjanjian Persahabatan dan Deklarasi tentang Aksi Bersama Melawan Terorisme, 5 November 2001. Idenya adalah untuk mendorong perdamaian dan stabilitas regional, dalam rangka menarik lebih banyak investasi dan perdagangan antar kelompok.

Indonesia telah menyiapkan Masterplan Percepatan Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sebuah tantangan untuk mencapai target menjadi negara maju pada tahun 2025 adalah ketersediaan infrastruktur. Konektivitas
antar wilayah akan membuka kesempatan pada sektor real estate dan memungkinkan Indonesia mencapai target ambisiusnya.

Program inklusivitas keuangan, peningkatan peraturan yang berkaitan dengan investasi asing, dan dorongan pemanfaatan produk nasional, adalah tuntutan – tuntutan dalam piagam ini. MEA akan menjadi dorongan yang signifikan bagi Indonesia, mengingat peran strategisnya dalam masyarakat. Keberhasilan ASEAN akan terkait dengan keberhasilan Indonesia ke depan, dan menjaga negara ini tetap rendah hati adalah suatu formalitas.

Presiden Indonesia, Joko Widodo, telah memberikan dukungan untuk MEA 2015 dengan cara membuat instrumen kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dan kementerian. Dukungan yang menyeluruh ini memastikan
bahwa Indonesia telah siap untuk berintegrasi.

Steven Ghoos, managing director Lamudi Indonesia berkomentar:

“Dengan integrasi pasar lebih dari 600 juta orang, peluang bagi perusahaan online global sangat besar. Beban hukum internasional tidak lagi membatasi, perusahaan kecil menengah serta startup akan berkembang.”

Steven menambahkan, “jika sebuah perusahaan bisa menjadi pemimpin pasar di Indonesia, maka mereka menguasai 40% dari pasar ASEAN dan hal ini akan menempatkan mereka di posisi yang menguntungkan untuk ekspansi lebih lanjut.”

Pemerintah juga telah membuat rencana percepatan transfer teknologi untuk lebih mendukung UKM agar menjadi lebih inovatif. Ketika persaingan menjadi lebih ketat, mereka yang mengerti tentang teknologi akan diberi penghargaan. Keanggotaan MEA memberikan manfaat yang begitu luas, lengkap dengan tantangan-tantangannya dan Indonesia telah siap dengan apapun yang akan datang.

[r]