Published On: Tue, Dec 8th, 2015

Bagaimana Sektor Real Estate di Tahun 2016? Lamudi Mengeksplornya!

lamudidesJakarta, 7 Desember 2015- Akhir tahun 2015 semakin dekat, pertanyaan besar muncul di benak para profesional bidang real estate yaitu “apa yang akan terjadi di tahun 2016?”. Migrasi dari kota-kota besar, perbaikan infrastruktur dan peningkatan minat dari investor internasional adalah harapan dari para developer real estate di negara-negara berkembang.

 

1. Fokus pada Aplikasi

Ponsel mendorong inovasi di negara-negara berkembang. Pengguna internet di negara-negara ini tidak menggunakan desktop, namun mereka menggunakan ponsel. Jika tahun 2015 perusahaan di negara berkembang lebih fokus kepada website, di tahun 2016 kita akan melihat para profesional real estate akan mengalihkan perhatian mereka ke aplikasi.

 

Oleh karena tingginya biaya internet di negara berkembang, aplikasi kemudian menjadi semakin populer ketika bersangkutan terhadap interaksi dengan perusahaan online. Seiring dengan penetrasi internet yang semakin kuat di daerah-daerah second-tier dan pinggiran kota, berkurangnya biaya konektivitas mobile, kartu SIM menjadi lebih terjangkau dan evolusi dari teknologi mobile, hal itu kemudian meningkatkan penggunaan aplikasi.

 

2. Pertumbuhan Daerah Second-tier

Industri profesional telah mencatat meningkatnya minat terhadap kota-kota di second dan third tier di area perkotaan yang berkembang. Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan pertumbuhan fisik daerah perkotaan termasuk di Colombo, Jakarta, dan Manila. Pertumbuhan daerah ibukota melambat, maka developer dan investor sama-sama mengalihkan perhatian mereka ke kota yang lebih kecil. Di kota-kota second dan third tier, harga properti praktis menjadi lebih murah karena ketersediaan lahan yang lebih banyak dan biaya pembangunan yang lebih rendah.

 

Menurut Kian Moini, co-founder dan managing director sebuah portal properti yang berfokus pada pasar negara berkembang, Lamudi Global: “Pada tahun 2016 kita akan melihat perkembangan kota-kota kecil di pasar negara berkembang, investasi dana akan dilakukan untuk peningkatan pelayanan transportasi, air dan listrik, serta mengembangkan infrastruktur. Hal ini penting jika kota-kota kecil ingin bersaing dengan pasar yang lebih besar, baik lokal maupun internasional.”

 

“Dengan menggeser fokus dari ibukota ke daerah yang lebih kecil, investor mendapatkan keuntungan lebih banyak karena biaya tanah, sumber daya dan bahan bangunan yang lebih murah, sehingga pengembang memiliki lahan lebih luas untuk pembangunan. Hal ini membuat kota-kota second tier menjadi pilihan yang sangat menarik bagi para profesional real estate,” tambahnya.

 

3. Pertumbuhan Properti Komersial

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cepat di Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin, urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi, permintaan akan properti komersial pun semakin meningkat. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan mixed-use yaitu pusat perbelanjaan, ruang ritel dan unit kantor.

 

Dalam 12 bulan kedepan, mungkin kita akan melihat peningkatan proyek properti komersial di pasar negara berkembang, oleh karena itu kawasan tersebut harus mengakomodasi penduduk dan pertambahan turis, sejalan dengan meningkatnya minat dari perusahaan-perusahaan internasional. Proyek ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, mereka juga memberikan kesempatan kerja, juga meningkatkan nilai properti di sekitarnya.

 

4. Ketersedian REIT

Apakah tahun 2016 akan menjadi tahun bagi Real Estate Invesment Trust (REIT)? Dalam 12 bulan terakhir, kami melihat sejumlah pembukaan REIT di pasar negara berkembang, mendorong investasi di sektor ini. Pada bulan Oktober tahun ini, Otoritas Pasar Modal telah menyetujui pendapatan REIT pertama Kenya, yang juga dikenal sebagai I-REIT yang akan diterbitkan oleh manajer investasi, Stanlib Kenya. Ini menandai lisensi yang pertama untuk sebuah perusahaan manajemen aset, untuk masuk ke daftar Nairobi Securities Exchange (NSE). Pada bulan Juni, REIT pertama milik Pakistan diluncurkan, membuka jalan bagi pertumbuhan yang diharapkan di sektor properti negara komersial negara itu.

 

Negara-negara berkembang lain diharapkan untuk mengikuti jejak mereka selama 12 bulan ke depan. Setelah pengumuman anggaran tahun 2016 milik Sri Lanka, para ahli di industri ini memperkirakan penciptaan REIT pertama di negara itu adalah untuk mendorong investasi real estate lokal dan internasional.

 

5. Peningkatan Investasi Asing

Hukum telah banyak berubah di pasar negara berkembang. Saat ini masih berlaku aturan bahwa memiliki properti di semua negara adalah sesuatu yang tidak sah, namun sekarang juga sedang dibuat UU baru yang mendorong investasi real estate.

 

Tanggal 31 Desember 2015 adalah batas akhir untuk integrasi ASEAN. Integrasi ini akan berfokus pada penciptaan kawasan ekonomi tunggal yang kompetitif, mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi internasional. Diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan investasi langsung dan minat internasional terhadap region ini.

 

Menurut data Ernst & Young, pemasukan FDI ke sektor real estate di Afrika sangat kuat pada tahun 2014. Real estate, perhotelan dan konstruksi menjadi proyek paling menarik bagi FDI di Afrika pada tahun 2014. Hal ini diharapkan dapat meningkat selama 12 bulan ke depan. Di Tunisia, reformasi hukum telah mendorong peningkatan arus masuk investasi asing, dan kini mereka sedang merencanakan UU baru yang bertujuan untuk menggandakan investasi asing ke negaranya pada tahun 2020.

 

Sementara itu di Meksiko, pemerintah telah mengumumkan strategi baru untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas negara di tahun – tahun mendatang. Proyek akan difokuskan di sekitar enam sektor, termasuk transportasi, pembangunan perkotaan dan pariwisata, untuk mendorong investasi internasional.