Published On: Thu, Oct 13th, 2016

Bertransformasi dan Menekan Biaya IT Perusahaan dengan Solusi Hyperconverged

Infrastruktur IT di jaman moderen dinilai memiliki keruwetan tinggi sehingga sulit untuk dikelola secara terpusat. Adanya berbagai jenis server, sistem operasi, dan storage yang terpisah-pisah, membuat para ahli IT perusahaan menghabiskan banyak waktu untuk melakukan maintenance. Selain membutuhkan biaya operasional yang besar, hal itu juga dinilai tidak efisien. Bagi pelaku usaha, kesempatan bisnis untuk bertumbuh menjadi terhambat karena IT terlalu berfokus pada masalah-masalah operasional. Bahkan, menurut lembaga riset IDC, departemen IT dalam perusahaan rata-rata merogoh biaya sebesar 80% dari anggaran tahunan mereka hanya untuk menjaga keberlangsungan sistem.[1]

Selain itu, munculnya teknologi komputasi yang sudah umum digunakan seperti cloud membuat data center tradisional harus berevolusi melebihi batasan-batasan desain konvensional, mendorong perusahan untuk mencari cara paling efektif untuk menyederhanakan infrastrukturnya dan mempercepat ‘time to deployment’ demi meningkatkan keunggulan kompetitif mereka.

 

Menghemat Biaya Dengan Penyederhanaan dan Penggabungan

Untuk menghemat biaya (TCO = total cost of ownership), IT harus menyederhanakan sistem yang dimiliki. Ini adalah sebuah masalah yang pernah juga dialami oleh raksasa internet Google. Hal ini dibutuhkan oleh perusahaan dengan kondisi: sedang bertumbuh dan hanya memiliki sumber daya terbatas, bisnis yang harus merespon perubahan pasar dan permintaan secara cepat, perusahaan yang bergantung pada solusi analisis data, dan perusahaan yang berpindah ke lingkungan virtualisasi. Solusi ini tak hanya terbatas pada satu industri saja melainkan banyak, seperti kesehatan, perbankan, atau bahkan startup yang sedang berkembang.

Solusi IT yang dinilai cocok oleh Google pada saat itu untuk mengatasi tantangan ini adalah teknologi hyperconvergence, yaitu mengintegrasikan server, storage dan virtualisasi ke dalam satu appliance. Dengan menyederhanakan arsitektur sistem, perusahaan bisa melakukan pemrosesan data dengan lebih cepat, dan menyederhanakan pengelolaan melalui satu sistem yang terpusat dan bebas dari kerumitan memilih vendor. Penyederhanaan infrastruktur IT juga bisa mengurangi biaya karena perusahaan bisa membatasi pembelian teknologi pada apa yang benar-benar mereka perlukan saat ini, dan bisa melakukan penambahan kapasitas seiring dengan berkembangnya usaha.

Dengan menyederhanakan sistem, perusahaan bisa fokus pada meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usaha. Solusi ini juga mampu meningkatkan kelincahan bisnis dengan menawarkan solusi alternatif dari layanan cloud publik.

 

Tidak Semua Solusi Hyperconverged Dibuat Serupa

Lembaga riset Gartner memperkirakan bahwa sistem hyperconverged terintegrasi (Hyperconverged Intergrated System/HCIS) akan menjadi hal yang umum/mainstream di tahun 2020 nanti[2], dan pasar untuk teknologi ini akan berkembang mencapai 79% dan mencapai nilai total USD 2 milyar di penghujung tahun ini saja, membuat semakin banyak vendor berlomba-lomba untuk menyediakan solusi hyperconverged. Namun demikian, memilih solusi hyperconverged haruslah mempertimbangkan sejumlah faktor yakni scalability, flexibility dan reliability agar penghematan biaya bisa terwujud dan investasi optimal, karena tidak semua solusi hyperconverged sama. Untuk memastikan efisiensi, kinerja dan skalabilitas tinggi, Lenovo, merek PC nomor 1 dunia dan salah satu dari tiga penyedia perangkat keras untuk server berbasis x86 yang paling besar di dunia, menjalin kerjasama global dengan Nutanix yang dikenal dengan julukan “infrastruktur IT yang tidak terlihat”, salah satu pelopor serta vendor nomor 1 untuk teknologi hyperconvergence dengan pangsa pasar 52%[3]. Solusi hyperconverged hasil kerja sama ini juga sudah tersedia di Indonesia dan diumumkan pada bulan Februari 2016 yang lalu.

 

Penghematan dan Efisiensi Yang Maksimal

Lantas, seberapa jauh penghematan serta efisiensi yang bisa didapat dari penerapan teknologi hyperconverged ini? Menurut data riset dari IDC, pelanggan Nutanix mengaku mereka merasakan manfaat berupa penurunan TCO sebesar 58% dan pencapaian ROI sebesar 510% dalam jangka waktu 5 tahun[4].  Ini tentunya merupakan peningkatan yang luar biasa dibandingkan teknologi konvensional.

 

 

Faisal Muhammad JafarArtikel ditulis oleh:

Faisal Muhammad Jafar,

DCG Enterprise Lead, Lenovo Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

[1] Lenovo-IDC Whitepaper: The Cost of Retaining Aging IT Infrastructure http://www.lenovo.com/images/products/server/pdfs/whitepapers/IDC%20Whitepaper%20246755.pdf

[2] Gartner: “Prepare for the Next Phase of Hyperconvergence” http://www.gartner.com/newsroom/id/3308017

[3] IDC reports Nutanix holds 52% share of the hyperconverged market http://www.nutanix.com/2015/01/15/nutanix-secures-commanding-52-share-hyperconverged-market/

[4] http://go.nutanix.com/nutanix-pricing-vs-traditional-infrastructure-tco-roi-report.html