Published On: Thu, May 19th, 2016

Dampak Keluarnya Inggris dari UE Terhadap Industri Properti Negara Berkembang

shutterstock_378468136 (1)Jakarta, 18 Mei 2016- Inggris akan mengambil keputusan bersejarah tanggal 23 Juni mendatang, pada tanggal tersebut negara monarki konstitusional itu berencana akan mengadakan referendum menyusul rencana mereka untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit), rencana ini tentu akan berdampak besar pada ekonomi global termasuk industri properti pada negara-negara berkembang.

 

Dua dari tiga investor real estate global meyakini jika Inggris meninggalkan Uni Eropa akan membuat berkurangnya investasi ke perusahaan properti. Rencana ini juga nantinya akan menimbulkan kekhawatiran, salah satunya menimbulkan stagnasi ekonomi, dengan menurunnya permintaan hunian yang selama ini menjadi kunci investasi properti di UK.

 

Sebuah jejak pendapat yang dilakukan oleh KPMG menyebutkan, dari 25 investor real estate global dengan aset lebih dari $ 400 miliar mengungkapkan bahwa paska situasi Brexit nanti akan akan merugikan pasar.

 

Investor Akan Mencari Tempat Lain

Berdasarkan situs properti global Lamudi,  dengan banyaknya ketidakpastian di pasar, nantinya investor global akan membidik pasar negara berkembang. Menurut CBRE Filipina, pasar real estate di Filipina tetap menarik. Pertumbuhan GDP sebesar 6,4 persen pada Q1 membuat Filipina menjadi negara yang sangat potensial untuk investor. Keberadaan Makati Central Business District masih sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan global dengan Bonifacio Global City nya.

 

Di Indonesia, ada beberapa pemain besar properti di sana yang memindahkan dananya dari Singapura ke dalam negeri untuk memperkuat investasi di Indonesia. Contohnya seperti Lippo Group yang berencana akan memindahkan dananya dari Singapura ke Indonesia sebesar US $ 2,6 miliar atau Rp 35 triliun. Langkah ini dilakukan sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memberlakukan Real Estate Investment Trust (REIT), sehingga dapat meningkatkan investasi real estate untuk masuk ke Indonesia.

 

Pasar real estate di Pakistan mengalami kenaikan pada tahun 2016. Perusahaan pengembangan yang paling menarik di negara itu seperti DHA dan Bahria Town mengalami pertumbuhan hingga 66 persendi beberapa daerah. Karena situasi keamanan yang membaik banyak lingkungan di kota terbesar, Karachi, telah mengalami peningkatan yang besar dalam nilai properti.

 

Demikian juga di Amerika Latin, investor akan mendapatkan keuntungan yang baik (20 persen + Gross IRR) dengan visibilitas yang baik dan leverage yang rendah. Amerika Latin dianggap sebagai tempat yang sangat baik dalam waktu jangka panjang. Dengan populasi melebihi 400 juta di Brasil, Meksiko, Kolombia, Peru dan Chili, berinvestasi properti di sana dianggap sangat menjanjikan. Yang paling penting, permintaan real estate di sana didukung oleh tren pasar yang berkelanjutan.

 

Brexit Bisa Menakuti Investor

The Wall Street Journal melaporkan bahwa sekitar dua pertiga dari transaksi properti komersial di pusat kota London merupakan pembeli dari luar negeri. Pembeli ini merupakan investor dan mengincar lokasi alternatif. Selama ini, Inggris memang menjadi salah satu hot spot bagi para investor dengan 63 persen dari mereka membeli properti di sana pada tahun 2015 dan sebanyak 43% dari itu membeli properti di London.