Published On: Tue, Dec 15th, 2015

Dampak Strategi “Digital Ready Enterprise”  pada Bisnis di Indonesia

Rajesh Thadani

Rajesh Thadani

Pelaku bisnis komersial serta enterprise, merupakan penunjang perekonomian utama di Indonesia, terutama sektor Small Medium Business (SMB). Selain menjadi kontributor utama untuk PDB1, bermunculannya bisnis skala ini, contohnya jenis perusahaan rintisan digital (startup) berbasis teknologi informasi, menjadi lahan penyerapan tenaga kerja, dan merintis produk inovasi baru yang memiliki dampak sosial positif terhadap kehidupan masyarakat.

 

Di Indonesia, kendala utama bisnis, terutama segmen SMB sebagaimana pernah diungkapkan oleh Indonesian Marketing Association (IMA)2, bukanlah modal, namun pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan proses usaha dan membuat berbagai inovasi dari segi bisnis yang bisa meningkatkan daya saing mereka di pasar. Selain itu, bagi pelaku bisnis komersial dan Enterprise, langkah logis selanjutnya yaitu berkompetisi di pasar global, yang membutuhkan strategi-strategi pemasaran inovatif. Kesemua itu hanya mungkin dilakukan apabila perusahaan-perusahaan tersebut sudah memiliki infrastruktur teknologi yang handal serta mampu mendukung operasional perusahaan secara baik.

 

Seperti yang diungkap dalam sesi diskusi eksklusif untuk para eksekutif C-level yang diadakan pada acara Lenovo Enterprise Day (LED) 2015, di masa yang akan datang, pelaku bisnis akan dihadapkan pada tantangan baru yaitu kompetisi yang datang dari berbagai sisi. Dan untuk dapat memenangkan kompetisi bisnis tersebut, kuncinya adalah loyalitas dan kepuasan konsumen. Oleh karena itu, perusahaan harus lebih consumer-centric. Dan dalam menerapkan menuju ke arah tersebut, enterprise harus mengambil keuntungan dari data yang kemudian bisa diolah menjadi insight untuk menciptakan inovasi-inovasi bisnis. Alat yang dibutuhkan ini tentu saja infrastruktur teknologi. Berbagai teknologi inilah yang bisa menjadikan sebuah perusahaan ‘Digitally Ready Enterprise’.

 

Ada tiga syarat untuk menjadi perusahaan yang siap di masa depan dan memiliki kualifikasi sebagai “Digitally Ready Enterprise”:

 

  1. Pemanfaatan teknologi secara optimal dan praktis

Dalam hal ini, perusahaan tidak perlu menciptakan semuanya sendiri, tpai mereka bisa memanfaatkan teknologi dari pihak ketiga. Artinya, infrastruktur yang digunakan harus mampu bekerja bersama dengan platform pihak ketiga tersebut. Beberapa contoh teknologi next-gen antara lain: Integrated dan Converged Infrastructure, Software Defined Networking (SDN), Open Source Cloud, dan Next-Gen Security.

 

  1. Memaksimalkan pemanfaatan data untuk bisnis

Dalam hal ini, bisnis dapat memanfaatkan teknologi Big Data dan Analytics. Menurut penelitian Lenovo, pada tahun 2019 jumlah data yang perlu dikelola oleh perusahaan akan meningkat hingga 3 kali lipat, seiring dengan peningkatan jumlah traffic IP global. Namun, investasi yang disediakan untuk infrastruktur IT cenderung tetap.

 

  1. Mentransformasikan bisnis atau model operasional

Di masa yang akan datang, Lenovo melihat adanya demokratisasi teknologi dalam perusahaan – yang mencakup mobilitas, cloud, analytics, dan big data – kesemuanya terintegrasi dengan strategi bisnis enterprise.

 

Untuk mendukung perusahaan menjadi “Digitally Ready Enterprise”, bisnis juga harus lincah, skalabel, serta mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Infrastruktur IT dalam bisnis harus memiliki kemampuan untuk menjalankan berbagai fungsi, seperti aplikasi enterprise, basis data, desktop tervirtualisasi, dan big data analytics, dengan efisiensi dan skalabilitas yang tinggi. Karenanya, bisnis memerlukan solusi seperti contohnya hyperconverged appliances yang menggabungkan platform server dengan software untuk membangun datacenter berbasis cloud yang dapat mewujudkan berbagai jawaban di atas.

 

Dari sisi perusahaan, agar visi bisnis dapat mengakomodir perkembangan teknologi, seorang CIO dalam perusahaan perlu memodernisasi peran mereka, untuk mencakup 2 hal, yaitu mendorong inovasi dan juga mengelola kebijakan-kebijakan teknologi dalam perusahaan, antara lain yang terkait dengancompliance, security, dan juga benchmarking. Dengan demikian, akan didapatkan keseimbangan antara visi bisnis dan perencanaan infrastruktur TI.

 

IDC yang memaparkan hasil risetnya dalam acara LED 2015, berpendapat bahwa pelaku bisnis juga perlu memiliki agenda dalam sepuluh tahun ke depan. Hal ini penting untuk dijadikan pertimbangan, karena dapat membantu bisnis dalam menjawab tantangan bisnis yang datang di masa depan. Namun, banyak perusahaan di Indonesia yang belum memiliki perencanaan infrastruktur yang jelas untuk masa depan perusahaan. Dan untuk menjawab hal tersebut, dibutuhkan penyedia layanan yang mampu membantu perusahaan dalam mengelola infrastruktur teknologi yang kompleks, memiliki portofolio yang lengkap, serta mudah diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada. Penyedia layanan juga harus memiliki pengalaman yang luas, mampu berjalan menjadi mitra bagi usaha, dan memiliki komitmen tinggi untuk bisnis komersial dan enterprise.

 

Salah satu pelaku bisnis yang ikut serta dalam LED 2015 mengungkapkan bahwa saat ini kondisi ekonomi Indonesia dianggap kurang kondusif dan berpengaruh ke keuangan perusahaan, sehingga pembiayaan untuk infrastruktur menjadi kendala. Strategi penyedia solusi bisnis seperti Lenovo dalam menjawab tantangan yang dihadapi oleh para pelaku bisnis ini adalah dengan melakukan transformasi, integrasi dan menyediakan solusi yang diubahsuaikan (customized) dengan kebutuhan tiap-tiap pelanggannya.

 

Rajesh Thadani,
President Director, Lenovo Indonesia Region

***

 

1    http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peran-penting-ukm-dorong-perekonomian-indonesia

2http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150803134320-78-69731/minimnya-modal-bukan-lagi-penghambat-bisnis-ukm-di-indonesia/