Published On: Sun, Sep 4th, 2016

Dorong Produk UMKM Mendunia, Presiden Jokowi Jajaki Peningkatan Kerja Sama dengan Alibaba

jokowi jack maPresiden Joko Widodo dan pendiri sekaligus CEO Alibaba, Jack Ma, memiliki pandangan dan visi yang sama mengenai dukungan terhadap usaha mikro kecil dan menengah
Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Alibaba Group Corporate Campus mengakhiri rangkaian kunjungan kerja Presiden ke Republik Rakyat Tiongkok di hari pertama ini, Jumat 2 September 2016. Lokasi kantor pusat Alibaba Group yang dikunjungi Presiden sendiri terletak di distrik Yu Hang, Kota Hangzhou, RRT.

Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo disambut langsung oleh pendiri sekaligus CEO Alibaba Group, Jack Ma, beserta sejumlah pejabat tinggi Alibaba lain setibanya di lokasi.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden dan Ibu Iriana didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Trikasih Lembong, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Duta Besar Republik Indonesia untuk RRT Sugeng Rahardjo meninjau sejumlah portofolio produk maupun layanan perusahaan Alibaba sekaligus melihat suasana kerja di kantor Alibaba. Presiden merasa perlu untuk mempelajari raksasa e-commerce tersebut agar dapat membantu memasarkan produk-produk ekonomi dari UKM dan kreator muda Indonesia di pasar Tiongkok.

Melalui pembicaraan antara Presiden Joko Widodo dengan Jack Ma, diketahui bahwa keduanya memiliki pandangan yang sama mengenai pengembangan usaha-usaha kecil dan menengah. Menurut Jack Ma, usaha-usaha kecil haruslah diberi akses terhadap teknologi agar dapat berkembang lebih jauh. Hal tersebut merupakan pandangan yang juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam sejumlah kesempatan di Tanah Air.

“Jack Ma pribadi dan Presiden mempunyai pandangan yang sama tentang UKM. UKM itu harus diberdayakan untuk memanfaatkan teknologi ini. Visi dari Jack Ma itu juga sama, yakni bagaimana memfokuskan sasaran kepada UKM,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, dalam keterangan persnya seusai acara.

Sebelum ini, antara pemerintah Indonesia dengan Alibaba sendiri sesungguhnya telah memiliki bentuk kerja sama untuk memasarkan produk Indonesia ke pasar Tiongkok. Produk-produk tersebut dipasarkan melalui salah satu platform layanan Tmall (sebelumnya bernama Taobao Mall) yang juga dimiliki oleh Alibaba.

“Kita ini sudah kerja sama dengan Alibaba dalam platform namanya Tmall. Tmall itu adalah platform marketplace untuk Tiongkok. Masuklah namanya bagian dari itu Inamall, produk-produk Indonesia. Tapi produk Indonesia yang masuk saat ini adalah untuk yang large FMCG (fast moving consumer goods) seperti Kopi Kapal Api dan Indomie,” terangnya.

Inamall sendiri merupakan bentuk kerja sama pemerintah Indonesia dengan Alibaba yang diinisiasi oleh Thomas Trikasih Lembong yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Perdagangan. Mulai beroperasi pada 8 Juli 2016, Inamall mencoba untuk menggenjot nilai ekspor dengan memasarkan produk-produk khas dari Indonesia ke pasar Tiongkok.

“Ini merupakan kelanjutan dari hubungan yang sudah kita jalin sewaktu saya masih menjadi Menteri Perdagangan,” ucap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Trikasih Lembong, yang turut memberikan keterangannya.

Namun demikian, pemerintah rupanya bertekad untuk tak hanya menyasar pasar Tiongkok semata. Melalui layanan dari Alibaba lainnya, produk-produk UKM asal Indonesia diharapkan juga mampu menembus pasar internasional.

“Kemudian nanti UKM-UKM ini masuk juga ke AliExpress. AliExpress itu adalah platform yang sama dari Alibaba tapi untuk global. Jadi UMKM kita diharapkan tidak hanya menyasar pasar Tiongkok, tapi juga di luar Tiongkok,” terang Rudiantara.

Kerjasama untuk Tingkatkan Wisatawan Mancanegara

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga diketahui menjajaki kemungkinan kerja sama di bidang pariwisata dengan Alibaba. Berdasarkan keterangan Tom Lembong, Alibaba juga memiliki layanan yang dapat mendukung program pariwisata pemerintah.

“Tadi dibicarakan cukup panjang beberapa potensi kerja sama di sektor wisata, seperti misalnya Alibaba punya platform cukup besar untuk booking online travel,” ungkap Tom.

Lebih lanjut, Rudiantara menyebut bahwa program peningkatan wisatawan Tiongkok yang dicanangkan oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya, merupakan sebuah bisnis besar yang dapat meningkatkan devisa negara.

“Bayangkan, Pak Arief Yahya punya target satu juta wisatawan per tahun dari Tiongkok sampai dengan 2019. Kalau rata-rata mereka berkunjung selama lima hari dan menghabiskan per harinya 200 USD, artinya itu 1.000 USD. 1.000 USD dikali 1 juta orang itu sudah 1 milyar USD. Itu bisnis yang sangat luar biasa besar. Ini akan ditindaklanjuti,” tekannya.

Alibaba sendiri saat ini dikenal sebagai raksasa perdagangan elektronik (e-commerce) di RRT dan juga dunia. Bermula dari sebuah usaha rumahan sederhana pada tahun 1999, hanya butuh beberapa tahun bagi Alibaba untuk mendulang kesuksesan.

Dalam menjalankan bisnisnya, Alibaba memfokuskan layanannya untuk menghubungkan berbagai jenis usaha mikro kecil dan menengah agar mendapatkan konsumen dari dalam negeri dan juga seluruh dunia. Fokus lainnya adalah usaha yang dilakukan anak-anak muda. “Kami tidak membeli barang untuk menjualnya, tapi kami membantu penjual UMKM memasarkan produknya dan membantu pembeli menemukan produk yang diinginkannya. Setelah 17 tahun, kini nilai total transaksi kami telah mencapai 500 Miliar USD,” ucap Jack Ma.
Hangzhou, 2 September 2016
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden
Bey Machmudin