Published On: Wed, Nov 9th, 2016

GAR Kupas Sejumlah Tantangan Dalam Membangun Tenaga Kerja Perkebunan Yang Berkelanjutan

 

SEEDSClublogoBangkok, 9 November 2016 – Hari ini, pada Konferensi Tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RT14 RSPO) yang ke 14, Agus Purnomo, Managing Director Sustainability & Strategic Stakeholder Engagement, Golden Agri-Resources (GAR) membahas  sejumlah tantangan utama  –seperti urbanisasi– yang dihadapi oleh perusahaan dan sektor kelapa sawit dalam merekrut dan mempertahankan tenaga kerja perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

 

Sumber daya manusia merupakan tulang punggung dari industri kelapa sawit. Dan sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, GAR menyediakan lapangan pekerjaan bagi 174.000 orang di daerah pedesaan Indonesia.

 

Secara keseluruhan, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2014 dan tetap menjadi mata pencaharian utama di daerah pedesaan dimana kemiskinan lebih banyak dijumpai di kawasan-kawasan tertinggal. Menurut data Bank Dunia, pertumbuhan PDB yang berasal dari sektor pertanian memberikan manfaat setidaknya dua kali lebih besar bagi masyarakat tertinggal dibandingkan dengan sektor non-pertanian. Selain itu, kelapa sawit adalah produk pertanian kedua yang paling sukses di Indonesia dan merupakan penggerak utama untuk ekonomi pedesaan.

 

Managing Director Sustainability & Strategic Stakeholder Engagement GAR, Agus Purnomo mengatakan, “Kelapa sawit merupakan industri padat karya dan untuk menjaga pembangunanindustri kelapa sawit dalam jangka panjang, keberlanjutan terhadap tenaga kerja perkebunan sangatlah penting.”

Lima belas persen dari tenaga kerja di GAR terdiri dari pemuda dan kelompok dewasa muda, dua kelompok demografi  yang semakin sering meninggalkan masyakarat di desa mereka untuk bekerja di pusat-pusat kota yang mereka anggap lebih menarik, sehingga membuat perekrutan tenaga kerja berpendidikan, bermotivasi dan  berbakat yang bersedia untuk bekerja di daerah terpencil dan lokasi pedesaan menjadi lebih sulit dan menantang. Untuk menarik dan mempertahankan generasi muda berbakat berikutnya,sangatlah penting untuk membangun ekonomi perkebunan masa depan- dan GAR berinvestasi besar dalam program-program beasiswa, kemitraan dengan lembaga-lembaga pendidikan di berbagai daerag  untuk  mendorong aktivitas perekrutan tenaga kerja di masa depan.

 

Pada tahun 2015, GAR telah berkontribusi lebih dari 2,5 juta dollar AS dalam mendukung program-program  pendidikan melalui beasiswa. Hal ini termasuk pelaksanaan beberapa program-program khusus  melalui kemitraan dengan Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB) dan melalui Eka Tjipta Foundation (Indonesia); kontribusipada Singapore University of Technology, Lee Kuan Yew Scholarship Fund dan St. Joseph’s Institution International Scholarship Fund (Singapore); serta Peking University Education Foundation (USA) dan TsingHua University Education Foundation (China).

 

Untuk meningkatkan daya tarik sektor ini, juga dibutuhkan lingkungan kerja yang adil dan memberikan manfaat luas bagi pekerja. “Untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja perkebunan yang berkelanjutan, GAR berkomitmen untuk mematuhi peraturan ketenagakerjaan di Indonesia dan standar perburuhan internasional yang berlaku di seluruh area operasinya. Kami juga berinvestasi dalam membangun infrastruktur dan layanan sosial serta berupaya agar manfaat serupa disediakan bagi para pekerja kontrak dan  tetap,” jelas Agus Purnomo.

 

GAR telah mendirikan lebih dari 200 sekolah yang mendidik 28.886 murid, menyediakan perawatan kesehatan untuk semua pekerja perkebunan dengan 1.000 pasien yang dilayani setiap harinya dan menyediakan pendidikan kesehatan bagi 17.000 orang pekerjanya di seluruh perkebunan GAR. Untuk lebih menunjukkan komitmennya dalam membangun tenaga kerja yang berkelanjutan, bersama-sama dengan Wilmar International dan Neste, GAR bekerja sama dengan organisasi hak asasi manusia dan tenaga kerja BSR yang bermarkas di Amerika Serikat untuk mengkaji dan mengidentifikasi kondisi pasar tenaga kerja yang ada di sektor kelapa sawit di Indonesia. Kajian ini merupakan kegiatan yang baru pertama kali dilakukan dan akan fokus pada tiga daerah penghasil kelapa sawit utama di Indonesia; Riau, Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah, serta menyoroti praktik-praktik umum ketengakerjaan saat ini, kebijakan dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku di sektor kelapa sawit di Indonesia.