Published On: Mon, Oct 24th, 2016

Gelar Budaya Purnama Sura: Kemendikbud-Padepokan Seni Kirun Meruwat Massal 300 Orang

sjM4xT8VOG_1477176816Madiun, 22 Oktober 2016—Sebanyak 300 orang memadati pendopo Padepokan Seni Kirun, Kota Madiun, Sabtu (22/10/2016). Mereka merupakan peserta ruwatan massal atau sukerto pada Gelar Budaya Suroan Purnama Sura yang diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjenbud Kemendikbud) dengan Padepokan Seni Kirun. Ruwatan merupakan ritual menghilangkan hambatan atau sukerto  di dalam diri seseorang.
Sri Hartini, selaku Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Ditjenbud, menjelaskan keterkaitan ritual ruwat sebagai rangkaian peringatan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1438 Hijriyah. “Bagi masyarakat Indonesia, terdapat peringatan tahun baru Hijriyah atau Suro yang sangat berbeda perayaannya dengan tahun baru di tahu masehi,” jelasnya, saat memberikan kata sambutan ritual ruwat di Padepokan Seni Kirun, Madiun, Sabtu (22/10/2016).
Ketika merayakan Tahun Baru Suro, masyarakat Indonesia selalu berusaha merekatkan hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. “DIsinilah ruwat hadir sebagai bentuk perenungn agar mencapai penyucian baik di dunia maupun akhirat,” jelasnya.
Ruwatan, lanjut Direktur Hartini, juga pun dapat sekaligus menjaga tradisi bangsa Indonesia.  “Ada kekayaan budaya dan kearifan lokal yang mengerucut di dalam kehidupan bangsa, jadi Pancasila dan ideologi negara terakumulasi dalam nilai kehidupan,” jelasnya.
Pemimpin padepokan seni, Cak Kirun, mengungkapkan antusiasme masyarakat tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Ini di Padepokan Kirun sudah terlaksana delapan kali, dan kali ini yang terbanyak, sampai 300 sukerto, kemarin-kemarin hanya 100-an saja,” ujarnya.
Pada ritual tahapan pertama, Cak Kirun menjelaskan para sukerto melakukan prosesi sungkeman kepada orang tua untuk memohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan. “Ritual sungkeman untuk mengingatkan ketika kecil dirawat orang tua, bahkan sampai tidak bisa mandi maka dimandikan kembali oleh orang tua,” jelasnya.
Kali ini, terdapat metode berbeda usai ruwatan. Nanti, lanjut Cak Kirun, kita menempuh jalur barokah untuk mori dari yang dipakai. Mori merupakan pakaian yang dikenakan para peserta ruwat yang dipercaya memiliki hambatan. “Sebelumnya, mori itu dibuang, sekarang berbeda, kita cari manfaatnya, bisa kita serahkan ke pesantren yang membutuhkan, sehingga hanya rambut saja yang dipotong yang dibuang,” jelas Cak Kirun.
Namun, pegiat seni ini menambahkan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami kekuatan budaya untuk membangun bangsa. “Semua orang luar negeri tau kalau kita punya budaya, semua cari budaya kesini,” ujarnya. Filosofi di tiap budaya pun mendalam, sangat relevan dengan kondisi sekarang. Dia mencontohkan, pemberian sesajian pada gelaran ruwatan. Menurutnya, sesajian itu bentuk anugerah dari Sang Pencipta. “Semua harus tahu bahwa semua yang ada itu disajikan asalnya dari Allah, dan kamu harus tahu bahwa apa yang kita makan itu anugerah Tuhan, jadi yang disajikan itu untuk yang hidup, bukan untuk Demit atau setan yang diberikan sesajen,” tutupnya.  ***