Published On: Tue, Aug 2nd, 2016

Hadapi Tantangan Besar, Presiden Jokowi: Tak Ada Jalan Pintas, Kita Harus Lakukan Pekerjaan Rumit

jk2

Presiden Jokowi memberikan sambutan dalam KTT WIEF, Selasa (2/8) pagi, di JCC, Jakarta. (Foto: Humas/Rahmat)

Jakarta, 2 Agustus 2016– Presiden Joko Widodo (Jokowi)  mengakui bahwa masyarakat muslim saat ini menghadapi berbagai tantangan yang besar, seperti tingkat pengangguran yang tinggi, khususnya pada kaum muda dan belum bisa berintegrasi dengan yang lain.

“Kita belum cukup kuat dalam sosial media dan teknologi sehingga kita tidak akan memenangkan pertarungan persepsi,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam Pembukaan World Islamic Economic Forum (WIEF), di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (2/8) pagi.

Masyarakat muslim, lanjut Presiden, perlu diedukasi dan dilatih sehingga dapat memenangkan pertarungan.

“Kalau kita tidak mengedukasi masyarakat kita, kalau kita tidak melatih masyarakat kita, dunia akan meninggalkan kita di belakang,” tegas Presiden.

Presiden juga menyampaikan, bahwa saat ini dunia berada dimana inovasi tidak dapat ditinggalkan, penuh ketidakstabilan, perbedaan pendapatan yang tidak ada sebelumnya, perekonomian yang lemah dan pemulihan yang masih rentan. Namun, Presiden percaya bahwa inovasi bisa membantu untuk memperbaikinya, dengan catatan, kita harus berhati-hati dan tidak menggunakan inovasi termotivasi untuk kerakusan, tapi untuk kesejahteraan masyarakat.

“Tidak ada jalan pintas, tidak ada keajaiban. Kita harus melakukan pekerjaan rumit, kerja yang sulit untuk membangun industri yang menciptakan lapangan kerja, membangun sistem yang mengedukasi anak-anak kita, dan melatih keterampilan dan perilaku kaum muda yang dibutuhkan di abad 21 ini” ujar Presiden Jokowi

Dirinya juga mengatakan bahwa untuk negara yang masih menghadapi masalah kemiskinan, harus menyelesaikan persoalan mendasar seperti listrik, air bersih, dan transportasi. “Kita harus memastikan masyarakat hidup di tempat yang bersih, aman, kita harus memastikan kalau pangan juga tersedia dan terjangkau.

Dan yang paling penting dan paling sulit, lanjut Presiden adalah membangun budaya masyarakat, budaya yang terbuka, budaya dimana kita tidak hanya bertoleransi terhadap perbedaan tapi juga sungguh-sungguh menghargai perbedaan itu.

“Bagaimana itu dapat dilakukan? Jawabannya mudah, satu per satu dan langkah demi langkah,” Kata Presiden.

Terkait dengan World Islamic Economic Forum (WIEF), Presiden Jokowi meyakini pertemuan ini bermanfaat bagi kita semua dan bisa mewujudkan hal tersebut.

Tahun Menantang
Sebelumnya Presiden menjelaskan, tahun 2016 adalah tahun yang menantang. Ia menyebutkan, tahun ini, keuangan dunia menghadapi krisis, serta perdagangan dunia mencapai yang terendah sejak perang dunia ke dua dan serangan teror terjadi di beberapa bagian dunia.

“Di era ini, situasi politik di berbagai dunia sangat tidak terprediksi. Di kondisi global seperti ini, kita masyarakat muslim di seluruh dunia, harus menggunakan kekuatan fundamental,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden mengatakan bahwa masyarakat muslim memiliki demografi yang paling baik dari masyarakat lainnya, dimana usia rata-rata 23 tahun, sementara masyarakat lain 30 tahun.

“Keuangan syariah saat ini menjadi industri yang bernilai jutaan dolar, baik dari sisi fashion, kuliner, seni dan arsitektur, memiliki potensi untuk menciptakan ekonomi baru,” jelas Presiden.

Pembukaan WIEF ke-12 itu dihadiri  antara lain oleh Perdana Menteri Malaysia dan patron dari WIEF Foundation Dato’ Sri Mohd. Najib Bin Tun Abdul Razak, Presiden Republik Guinea Alpha Condé, Perdana Menteri Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka Ranil Shriyan Wickremesinghe, Presiden Republik Tajikistan Emomali Rahmon, Deputi Perdana Menteri dan Menteri Perekonomian dan Perindustrian Kerajaan Yordania Hasyimiah Dr. Jawad Al Anani, Ketua WIEF Tun Musa Hitam, Presiden Islamic Development Bank Dr. Ahmad Mohamed Ali.

Selain itu turut hadir Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI, Kapolri Tito Karnavian, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Kepala BKPM Thomas Lembong, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, dn Menteri ESDM Archandra Tahar. (FID/DID/ES)

 

Setkab RI