Published On: Sat, Sep 10th, 2016

Hari Aksara Internasional Tahun 2016, “Membaca Masa Lalu, Menulils Masa Depan”

unduhan (1)Jakarta, 9 September 2016- Pada tanggal 8 September 2016, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Aksara Internasional (HAI). Perayaan HAI dilandasi semangat upaya penuntasan tuna aksara yang masih melanda banyak negara saat ini. Karena itu, HAI diperingati oleh setiap negara untuk mengingatkan pentingnya keaksaraan dalam membangun peradaban dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Tahun ini merupakan tahun kedua perayaan lima dekade pemberantasan tuna aksara di dunia. Badan dunia UNESCO memilih tema perayaan Hari Aksara Internasional tahun ini “Reading The Past, Writing The Future” atau “Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan”. Di tingkat nasional, Indonesia juga turut memperingati HAI. Pemerintah memilih tema “Literasi dan Vokasi untuk Pembangunan Berkelanjutan”.

Tema tersebut mengacu pada enam kemampuan literasi yaitu: kemampuan baca tulis, berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, budaya dan kewarganegaraan. Selaras dengan Nawacita yang dikumandangkan pemerintah terkait pembangunan keterampilan hidup atau vokasi masyarakat.

Tema yang diangkat tersebut juga menjadi sebuah isu global karena tahun 2015 merupakan akhir dari dekade UNESCO “Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan” (UNESCO Decade of Education for Sustainable Development). Dekade ini juga merupakan akhir dari Millenium Development Goals (MDG’s) menjadi Sustainable Develepment Goals (SDG’s). Pesan utama tema tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pendidikan, tetapi investasi yang sangat penting bagi masa depan yang berkesinambungan.

Mengingat jumlah penduduk tuna aksara di Indonesia masih tergolong tinggi, peringatan HAI ini menjadi momentum untuk melakukan upaya penuntasan tuna aksara di Indonesia secara lintas sektor dan lintas sosial budaya masyarakat. Keaksaraan merupakan bagian dari hak asasi manusia, sekaligus menjadi alat pemberdayaan personal dan media perkembangan sosial seseorang. Kesempatan meningkatkan kualitas hidup manusia lewat pendidikan sangat bergantung erat pada kemampuan keberaksaraan. Orang dewasa merupakan aktor penting yang dapat mewujudkan kondisi pendukung untuk harapan generasi mendatang.

Peringatan HAI merupakan sebuah pengingat, bahwa kita masih menempuh jalan panjang untuk mencapai keaksaraan yang hakiki. Peringatan HAI di Indonesia juga menjadi sangat penting agar semua pihak, pemerintah, pemerintah daerah, swasta, LSM, dan masyarakat luas tergugah untuk sama-sama menghadapi persoalan tuna aksara ini secara serius.

Penuntasan Tuna Aksara
Sejauh ini, usaha untuk memberantas tuna aksara di Indonesia telah mencapai hasil yang positif. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan telah terjadi penurunan yang sangat signifikan dalam hal penuntasan tuna aksara di Indonesia. Pada tahun 2005 persentase penduduk tuna aksara di Indonesia masih mencapai 9,55% atau sekitar 14,89 juta orang. Namun, angka tersebut menurun pada tahun 2015, menjadi 3,56% atau sekitar 5.778.486 orang.

Pada tahun 2016 ini, puncak acara HAI akan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober di Palu, Sulawesi Tengah dan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr Muhadjir Effendi. Beberapa agenda yang sudah disiapkan antara lain adalah Festival Budaya Baca, kegiatan workshop atau “Bengkel Literasi” yang mengundang komunitas literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Disamping itu, juga akan diselenggarakan Seminar Nasional Percepatan Penuntasan Tuna Aksara yang akan dihadiri oleh sejumlah Kepala Dinas dan pengambil kebijakan di daerah. Terdapat juga pameran hasil karya warga belajar keaksaraan dan lomba-lomba keberaksaraan.

Selain itu, kegiatan ini juga akan dihadiri oleh para Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten terpilih, Kepala UPT Pusat Ditjen PAUD dan Dikmas, lembaga/organisasi mitra penyelenggara program penerima sejumlah penghargaan sebagai pegiat program pendidikan keaksaraan, lembaga PKBM Berprestasi, TBM Kreatif, dan penghargaan bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat lainnya, serta warga belajar pasca program pendidikan keaksaraan dasar, dan warga masyarakat lainnya.

Untuk memeriahkan acara peringatan HAI, sebelum acara puncak terdapat beberapa rangkaian acara, antara lain:

  • Talkshow Upaya Percepatan Penuntasan Tuna Aksara di Indonesia
  • Rakor Evaluasi Capaian Program Pendidikan Keaksaraan
  • Festival Literasi dalam rangka Gerakan Indonesia Membaca (GIM)
  • Pameran Produk Unggulan PKBM dan Satuan Pendidikan Nonformal lainnya.

Meskipun upaya penuntasan tuna aksara terus dilakukan, namun tak lepas dari sejumlah kendala dan tantangan. Seperti misalnya, faktor kemiskinan, lokasi yang tak terjangkau (pelosok), dan kurangnya motivasi belajar. Kendala-kendala tersebut harus menjadi perhatian dari pihak pemerintah baik di pusat maupun daerah untuk segera diatasi.

Guna mengatasi kendala tersebut, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Harris Iskandar, menegaskan ada beberapa poin yang perlu dilakukan. Pertama, menumbuhkan kesadaran akan motivasi belajar. Lemahnya motivasi belajar merupakan akar permasalahan dalam usaha penuntasan tuna aksara. Maka perlu adanya kesungguhan dalam membangun motivasi belajar.

Kedua, melakukan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta dalam upaya gerakan masif penuntasan tuna aksara. Misalnya, dalam program kuliah kerja nyata (KKN), mahasiswa yang terjun langsung di tengah masyarakat terlibat dalam proses pembelajaran pendidikan keaksaraan.
Ketiga, mengintegrasikan program pendidikan keaksaraan dengan program-program pemberdayaan masyarakat lainnya. Dalam konteks ini, penanganan program pendidikan keaksaraan dapat dimaksimalkan melalui dukungan anggaran APBN sebagai investasi dalam menciptakan masyarakat yang melek aksara dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bila upaya-upaya tersebut bisa diatasi dan angka tuna aksara di Indonesia semakin kecil, maka kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat semakin meningkat. Membaca atau keaksaraan adalah bagian penting dari pendidikan. Seperti yang diungkapkan oleh Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Sebuah dunia yang muram dan terbelakang menjadi dunia yang cerah dan sejahtera.