Published On: Sat, Dec 19th, 2015

Imunoterapi: Harapan Baru dalam Pengobatan Kanker

2. Dr. Ang Peng Tiam saat peluncuran buku karyanya yang berjudul Hope & Healing

Dr. Ang Peng Tiam saat peluncuran buku karyanya yang berjudul Hope & Healing

Singapura, 19 Desember 2015 – Imunoterapi telah digadang-gadang sebagai terobosan baru dalam bidang medis dan terutama di bidang onkologi. Sebagai bentuk pengobatan dengan menggunakan sistem kekebalan tubuh individu untuk melawan sel kanker, imunoterapi merupakan metode pengobatan kanker terbaru yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).

 

“Disetujuinya imunoterapi ini tentunya menjanjikan harapan baru dalam penelitian dan pengobatan kanker,” ulas Dr. Ang Peng Tiam, Direktur Medis dan Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre yang menjadi salah satu peraih penghargaan National Science and Technology Awards (1996) atas kontribusinya yang sangat luar biasa dalam penelitian imunoterapi gen pada kanker ginekologi.

 

“Metode pengobatan kanker telah berkembang selama bertahun-tahun ini. Pengobatan yang disetujui mencakup radioterapi, kemoterapi, dan terapi terarah. Setiap metode membawa harapan bagi pasien dalam pengobatan dan selangkah lebih maju dalam perjuangan melawan kanker. Penambahan imunoterapi ini menandai tonggak sejarah besar dalam onkologi,” ungkap Dr. Ang menambahkan.

 

Mengenal Imunoterapi

“Sel kanker memiliki kemampuan untuk ‘menyamarkan’ diri sedemikian rupa, sehingga sistem kekebalan tubuh kita tidak dapat mendeteksi ‘sel jahat’ ini dan menghancurkannya. Melalui imunoterapi, sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan untuk mendeteksi sel kanker dengan lebih efektif. Pengobatan ini dapat membantu menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, mencegah kanker menyebar ke bagian tubuh lain dan membantu sistem kekebalan tubuh bekerja lebih baik dalam menghancurkan sel kanker,” jelas Dr. Ang.

 

Orang yang terkena kanker mengalami kerusakan sistem kekebalan tubuh, yang menghambat pertahanan dan kemampuan alami tubuh untuk mengenali sel kanker dan menghancurkannya. Dengan imunoterapi, sistem kekebalan tubuh dapat ‘diajari’ atau ‘dilatih’ untuk mengenali sel kanker melalui vaksin khusus dan metode lainnya. Imunoterapi meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melatihnya untuk mengenali antigen tumor yang sebelumnya telah ‘menghindar dari’ deteksi. Ketika sel kanker ini terdeteksi, sistem kekebalan tubuh secara efektif menghilangkan sel tersebut secara sistematis di seluruh tubuh.

 

Melalui metode bioterapi ini, sistem kekebalan tubuh dilatih untuk mengenali dan menyerang sel kanker ini dari waktu ke waktu, sehingga memberikan perlindungan yang lebih berkelanjutan dan tahan lama serta dalam jangka waktu yang lebih lama.

 

Studi Klinis

Di Jepang dan AS, penggunaan imunoterapi disetujui untuk mengobati pasien dengan melanoma (kanker kulit) stadium lanjut . Para peneliti menemukan bahwa setelah 1 tahun, tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan pada pasien yang mendapatkan imunoterapi untuk melanoma stadium lanjut adalah 94%, dan tingkat kelangsungan hidup selama 2 tahun mencapai 88%.

 

Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS menyetujui sertifikasi imunoterapi untuk mengobati orang yang terkena kanker paru-paru stadium lanjut. Uji coba klinis yang dilakukan pada kanker paru-paru menunjukkan hasil yang menjanjikan, yang meningkatkan kelangsungan hidup pasien dari 8,2 bulan menjadi 9,2 bulan.

 

Apa Yang Perlu Diketahui Oleh Pasien

Imunoterapi adalah bentuk pengobatan anti-kanker relatif baru yang telah memberikan hasil yang menjanjikan dalam tahun-tahun terakhir ini. Meskipun menjanjikan, metode pengobatan baru ini tidak menandakan akhir perjuangan manusia melawan kanker.

 

“Penting diketahui oleh pasien bahwa, sama seperti semua pengobatan medis, ada batasan tertentu yang dapat dicapai imunoterapi,” Dr Ang mengingatkan. “Adalah tugas dan tanggung jawab kita untuk berbagi dan menghapus kesalahpahaman yang melingkupi imunoterapi.”

 

Kesalahpahaman 1:

Imunoterapi cocok untuk semua jenis kanker Imunoterapi sebagai metode pengobatan baru telah menunjukkan prognosis menjanjikan terutama untuk pasien dengan kanker paru-paru dan melanoma. Mereka yang didiagnosis dengan stadium awal kanker atau mereka yang merasakan perubahan baik dengan pengobatan lain sebaiknya melanjutkannya dan tidak beralih ke imunoterapi.

 

Imunoterapi juga telah menunjukkan keefektifan dalam mengobati penyakit Hodgkin (suatu bentuk kanker limfatik), dan beberapa kemujaraban dalam pengobatan kanker payudara tipe tiga negatif, kanker kolon, kanker lambung, dan kanker kepala & leher.

 

Kesalahpahaman 2: Imunoterapi cocok untuk semua pasien kanker

Para peneliti dan klinisi masih baru mulai mempelajari cara terbaik untuk menerapkan imunoterapi dalam pengobatan kanker. Untuk saat ini, menggunakan sarana ini untuk kanker stadium awal bukanlah solusi yang tepat sama sekali. Bagi mereka yang terkena kanker stadium lanjut atau metastatik, terutama mereka yang telah gagal dengan terapi konvensional, imunoterapi menawarkan harapan baru. Harapan ini terutama bagi mereka yang tumornya telah menunjukkan positif PD-L1.

 

Kesalahpahaman 3: Imunoterapi tidak memiliki efek samping atau waktu henti

Pengobatan dengan kemoterapi dan radioterapi kadang-kadang dapat menyebabkan efek samping yang serius dalam jangka waktu pendek dan panjang. Secara umum, profil toksisitas imunoterapi secara signifikan lebih rendah dan jauh lebih aman. Karena tindakan utama imunoterapi adalah “melepaskan rem” sistem kekebalan tubuh, efek samping pengobatan ini akan berupa cederanya jaringan normal oleh sistem kekebalan tubuh orang itu sendiri. Efek samping ini meliputi pneumonitis yang menyebabkan sesak napas, ruam kulit, turunnya tekanan darah sementara, dan gejala mirip flu. Kebalikan dari kemoterapi dan bahan terarah standar, respons positif melalui imunoterapi kadangkadang nampak jelas meskipun pengobatan telah dihentikan.

 

Dr. Ang berkomentar, “Meskipun uji coba klinis dan penelitian tentang imunoterapi masih berlangsung, bentuk pengobatan ini diharapkan dapat memberikan alternatif bagi pasien dengan efektivitas yang lebih tinggi dan efek samping yang lebih rendah. Kita sangat menantikan untuk memberikan terapi yang lebih efektif untuk pasien kanker sekaligus mengurangi cedera pada tubuh manusia. Kesempatan dalam terapi kombinasi juga patut diselidiki.”