Published On: Tue, Feb 21st, 2017

Indonesia: Anomali di Krisis Kepercayaan Global

Share This
Tags

edelman trustJAKARTA, 8 Februari 2017—Hasil Edelman Trust Barometer Indonesia ke-9 menunjukkan Indonesia mengalami kenaikan di keseluruhan Indeks Kepercayaan pada empat institusi: pemerintah, bisnis, media dan NGO, menjadi 69 poin dari 62 pada tahun lalu. Ketika tingkat kepercayaan menurun di 21 dari 28 negara yang disurvei—penurunan terbesar sejak survei ini memasukkan populasi umum pada 2012—Indonesia menguat sebagai satu dari tiga negara dengan Indeks Kepercayaan tertinggi.

Thomas Lembong, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) hadir sebagai pembicara dalam acara peluncuran Hasil Edelman Trust Barometer Indonesia ke-9.

Peristiwa-peristiwa global tak terduga yang terjadi pada 2016 tampaknya mengonfirmasikan penurunan tingkat kepercayaan global pada keempat institusi yang disurvei. Hal ini tertuang dalam Trust Barometer 2017 yang mengindikasikan adanya krisis kepercayaan global karena saat ini dua dari tiga negara termasuk sebagai distrusters atau negara dengan Indeks Kepercayaan rendah. Namun sebaliknya, Indeks Kepercayaan Indonesia tetap kuat dengan naiknya tingkat kepercayaan tertinggi pada pemerintah sebanyak 13 poin menjadi 71 persen. Reformasi ekonomi secara struktural dan fokus pada kesejahteraan masyarakat telah menjadikan Indonesia sebagai trusters, yaitu negara dengan Indeks Kepercayaan di atas 60.

“Hasil studi untuk Indonesia tahun ini menunjukkan bahwa model yang diterapkan pemerintah untuk menutup kesenjangan antara kelompok elite dan masyarakat umum, serta memberikan peluang pendapatan yang merata dan infrastruktur sosial, telah diterima dengan baik,” kata CEO Edelman Indonesia, Raymond Siva.

Thomas Lembong mengatakan, “Kepercayaan adalah hal pokok. Mengatakan kejujuran merupakan hal penting”. Thomas menambahkan, “Masyarakat percaya bahwa pemerintah berusaha melakukan hal yang benar.”

Suahasil Nazara mengatakan, “Janji dan menepati janji adalah kunci kredibilitas.”

Dari keempat institusi, bisnis dipandang sebagai institusi yang dapat melakukan perubahan. Tiga dari empat responden setuju bahwa perusahaan seharusnya mengambil tindakan untuk meningkatkan laba sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar tempat perusahaan beroperasi. Selain itu, di antara responden yang tidak yakin bahwa sistem—yang meliputi pemerintah, bisnis, media dan NGO—bekerja untuk mereka, adalah bisnis yang paling mereka percaya (78 persen).

Walaupun bisnis sebagai institusi secara kontinyu meraih kepercayaan hingga 76 persen, kredibilitas CEO turun enam poin menjadi 51 persen, mengikuti penurunan global di 28 negara yang disurvei.

Tentang penerimaan bisnis, Suahasil Nazara menyebutkan tiga komponen utama yaitu “Produksi barang berkualitas, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membayar pajak selayaknya.”

“Jelas ini adalah waktunya bagi para CEO untuk turun ke lapangan, berinteraksi langsung dan transparan dengan karyawan, pelanggan, dan masyarakat; dan untuk dapat dilihat dalam memperjuangkan laba dengan tujuan mulia. Hal ini juga tidak dapat dihindari karena meningkatnya tingkat kepercayaan pada karyawan sebagai juru bicara untuk berbagai topik terkait perusahaan bila dibandingkan dengan juru bicara perusahaan untuk media,” kata Siva.

Seiring dengan NGO yang mengalami kenaikan tingkat kepercayaan sebanyak tujuh poin dari 57 persen ke 64 persen tahun ini, media sebagai institusi juga mengalami kenaikan empat poin dari 63 persen di tahun lalu, dengan search engine sebagai tipe media yang paling dipercaya di atas media online, tradisional, media milik institusi dan media sosial.

Hasil studi selanjutnya mengindikasikan bahwa gerakan-gerakan populis saat ini dipicu oleh kurangnya kepercayaan pada sistem dan adanya ketakutan ekonomi dan sosial, termasuk pada korupsi (90 persen), globalisasi (73 persen), menurunnya nilai-nilai sosial (63 persen), imigrasi (61 persen), dan kecepatan inovasi (54 persen). Para responden merasa khawatir terhadap merebaknya korupsi yang membahayakan keselamatan rakyat dan mempersulit terciptanya perubahan yang diperlukan untuk menanggulangi permasalahan negara.

Perihal globalisasi, Thomas Lembong menambahkan, “Untuk bertahan, kita harus berbincang selayaknya masyarakat umum. Kita harus berbicara mengenai globalisasi dengan cara sedehana. Percakapan biasa adalah hal yang harus diperhatikan institusi. Tidak perlu bahasa akademis atau konsep tinggi, namun hal-hal yang umum.”

Siklus ketidakpercayaan diperbesar dengan munculnya media echo chamber atau kamar gema media yang memperkuat keyakinan personal dan menolak pandangan yang berseberangan. Responden Indonesia lebih memilih search engines (69 persen) daripada para editor (31 persen) dan hampir lima kali lebih mungkin untuk mengabaikan informasi yang mendukung pendapat yang tidak mereka percayai.

Terdapat pula bukti adanya penyebaran otoritas. Rekan sesama atau “orang seperti Anda” (66 persen) saat ini menjadi sumber yang kredibel untuk informasi terkait perusahaan, seperti ahli teknis (65 persen) atau akademisi (63 persen); yang jauh lebih kredibel dibanding CEO (51 persen) atau pejabat pemerintah (36 persen).

Dibandingkan dengan juru bicara perusahaan untuk media, hasil studi menunjukkan bahwa karyawan lebih kredibel dan dipercaya untuk mengkomunikasikan beragam topik terkait perusahaan seperti perlakuan terhadap karyawan/pelanggan, pendapatan finansial dan kinerja operasional, praktik bisnis/penanganan krisis, dan kemitraan/program untuk menangani isu-isu sosial.

-SELESAI

 

Tentang Edelman Trust Barometer Edelman

Trust Barometer 2017 adalah survei ke-17 firma ini mengenai kepercayaan dan kredibilitas terhadap bisnis, pemerintah, media, dan NGO di seluruh dunia. Riset ini merupakan yang kesembilan kalinya diadakan berturut-turut di Indonesia.

Edelman Trust Barometer 2017 dilakukan oleh lembaga riset Edelman Intelligence melalui wawancara daring selama 25 menit yang diadakan pada 13 Oktober hingga 16 November 2016. Riset ini mengambil sampel lebih dari 33.000 responden yang terdiri dari 1.150 responden populasi umum usia 18 tahun ke atas, 500 responden melek informasi di Amerika Serikat dan China, serta 200 responden melek informasi pada masing-masing 28 negara yang diteliti. Semua responden yang melek informasi harus memenuhi kriteria berikut: usia 25-64 tahun, mengenyam pendidikan tinggi, masuk ke golongan pendapatan rumah tangga yang tinggi di kategori usia mereka, membaca atau menonton media bisnis atau berita beberapa kali dalam seminggu, mengikuti isu kebijakan publik beberapa kali dalam seminggu.

Tentang Edelman

Edelman adalah konsultan pemasaran komunikasi global terkemuka yang bekerja sama dengan perusahaan dan organisasi terbesar maupun berkembang di seluruh dunia; membantu mereka berkembang, berpromosi, serta melindungi brand dan reputasi mereka.

Tentang Edelman di Indonesia

Edelman Indonesia bekerja sama dan mendukung para klien dengan konsultasi strategis melalui penanganan reputasi korporasi dan krisis; konten digital dan kreatif; hubungan pemerintah dan bisnis; strategi brand; dan market entry. Tim Indonesia berhasil memenangkan sejumlah penghargaan: 2015 Indonesia PR Agency of the Year (Mix Magazine); Silver Award, Public Relations Agency of the Year, 2014 (International Business Awards); Bronze Award for Southeast Asia PR Agency of the Year 2014 (Campaign Asia); Gold for Best Digital Agency in Indonesia and Bronze for Best Creative Agency in Indonesia, 2013 (Campaign Asia); Gold Sabre Award for Financial and Professional Services, 2013 (Holmes Report). Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.edelman.id.