Published On: Thu, Aug 11th, 2016

Indonesia Sudah 71 tahun, Perjuangan Pemuda Tak Cukup Hanya Belajar

Photo 1_Delegasi Indonesia untuk AYF 14 bersama para advisor

dari kiri ke kanan: Dir. Cicero ‘Ching’ Danseco (Philippines-Advisor), Peter John Wanner, Ph.D. (Conference Chair), Novia Kardiyanti (Delegasi Indonesia), Sella Lametta (Delegasi Indonesia), Ms. Shirley Magnolia Koh Wanner (Philippines-Co Chair), Dr. Dinil Pushpalal (Japan-Advisor dan Speaker) pada saat penutupan Asian Youth Forum 14 Sabtu, 6 Agustus 2016 di Universitas Da Nang, Vietnam.

Vietnam, 11 Agustus 2016– Pada 31 Juli—7 Agustus 2016, telah diselenggarakan Asian Youth Forum (AYF) ke-14 di Kota Da Nang dan Hue, Central Vietnam dengan tema social responsibility. Konferensi tahunan pemuda tingkat Asia yang telah berlangsung sejak 1999 ini dihadiri oleh 56 delegasi dari Negara-negara di Asia termasuk Indonesia dengan 2 perwakilannya, yakni Novia Kardiyanti (22) dan Sella Lametta (21). Konferensi pemuda yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan kemerdekaan RI ini menjadi penyegaran tersendiri bagi pemuda Indonesia untuk memiliki tanggung jawab sosial demi mendukung peningkatan indeks kehidupan (well-living) Indonesia yang kini berada pada urutan ke-110 di dunia.

 

Prof. Peter John Warner, the conference chair menyatakan, “AYF 14 mendorong pemuda untuk memahami perannya dalam masyarakat dengan membahas mengenai social responsibility yang dimiliki pemuda untuk menjaga keseimbangan dan secara aktif terlibat dalam permasalahan lingkungan maupun sosial untuk mendorong semua orang untuk bertanggung jawab dalam mendukung keberlangsungan masyarakat baik nasional maupun internasional.”

 

Dalam setiap sesinya, para delegasi melakukan diskusi mengenai empat topik terkait tanggung jawab sosial seperti living well within the limits of nature, consumable resources and social conflict, students/youth as global citizens-the triple bottom line, dan social responsibility yang sebelumnya dipaparkan oleh para ahli dan professor. Untuk kemudian hasil diskusi tersebut dipaparkan kembali oleh para delegasi. Selain itu, tiap delegasi juga mempresentasikan mengenai Negaranya masing-masing dan menampilkan kesenian tradisional.

 

Professor Dr. Dinil Pushpalal yang merupakan ahli Human Security dari Universitas Tohoku, Jepang memaparkan data mengenai Indonesia bahwa berdasarkan angka biocapacity dan ecological footprint, Indonesia menempati posisi sebagai kreditor dalam hal Sumber Daya Alam bersama dengan Mongolia dan Rusia. Akan tetapi, untuk angka “well-living” berdasarkan Human Development Index(HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia berada pada urutan 110 di bawah Thailand (93) dan Russia (50).

 

HDI ini diperoleh dari sepertiga jumlah antara life expectancy index, education index, dan GDP index. Untuk memperoleh angka HDI yang tinggi, setiap Negara termasuk Indonesia harus dapat mengimbangi tiga faktor tersebut. “Pemuda sebagai penerus keberhasilan masa depan bangsa harus memperhatikan faktor-faktor lain di luar diri sendiri, pemuda harus peka terhadap lingkungan dan sosial baik nasional maupun internasional (environmental responsibility and social awarness) seraya meningkatkan kemampuan akademis (academic excellent)” ujar Dr. Le Thi Giao Chi dari Universitas Da Nang.

 

Novia Kardiyanti selaku delegasi Indonesia dan student leader Asian Youth Forum 14 menyampaikan bahwa “Keterlibatan Indonesia di Asian Youth Forum yang bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 ini memberikan penyegaran terhadap pemuda bahwa kini pemuda Indonesia bukan hanya harus mengejar pendidikan setinggi mungkin namun juga harus mampu memiliki tanggung jawab sosial sehingga ilmu yang diperoleh dapat dimanfaatkan dan berdampak positif di masyarakat demi mendukung peningkatan indeks kehidupan (well-living) masyarakat Indonesia”. “Tanggung jawab sosial ini dapat dimulai dengan hal yang sederhana dan sesuai dengan keilmuan dan keahlian yang dimiliki” tambah Sella Lametta.

 

Delegasi Indonesia pada Asian Youth Forum 14 Vietnam ini didukung oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara di Bidang pembiyaan infrastruktur Indonesia dan membantu persiapan proyek infrastruktur, baik yang dilakukan melalui layanan konsultasi maupun pengembangan proyek bagi proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.