Published On: Mon, May 22nd, 2017

Kebangkitan Nasional, Momentum Peningkatan Kompetensi Manusia Indonesia di Era Digitalisasi

Share This
Tags

Jakarta, 22 Mei 2017. Hari Kebangkitan Nasional diperingati untuk mengenang perjuangan para pendahulu bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Tepat 109 tahun yang lalu, organisasi Boedi Oetomo lahir di atas semangat dan komitmen para pemuda lintas pulau untuk mencapai kemajuan pendidikan yang berbudaya dan perekonomian demi kemandirian bangsa.

Saat ini, lebih dari seabad kemudian, perkembangan kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur TIK berjalan begitu cepat dan menjadi sarana yang vital bagi sendi-sendi ekonomi dan politik bangsa. Kemampuan penyediaan teknologi dan TIK yang memadai akan menjadi salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.Pemanfaatan TIK saat ini terdorong oleh semakin canggihnya perangkat keras dan lunak serta kemampuan digitalisasi melalui pengembangan aplikasi dan layanan nilai tambah yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kualitas hidup.

Pengalaman kita menunjukkan bahwa digitalisasi tersebut juga dapat meningkatkan taraf hidup dan pemerataan kesempatan dan kesejahteraan, yaitu melalui kegiatan sharing economy, inklusi keuangan dan digitalisasi tenaga kerja. Melalui digitalisasi, kesempatan kerja tidak harus menyempit, namun justru dapat dikembangkan melalui pemanfaatan aplikasi. Pemerataan kesempatan kerja, sharing economy, dan inklusi keuangan ini diharapkan akan ikut menyumbang dalam upaya pemerataan kesejahteraan dan menunurunnya Gini ratio nasional.

Indonesia memiliki potensi menjadi kekuatan yang besar dari sisi digitalisasi. Hal ini didukung oleh kemajuan aplikasi nasional dan daya adopsi di masyarakat serta didukung oleh kekuatan angka 23,6 juta rumah tangga yang telah terhubung ke TIK.

Memang kemajuan dan pembangunan TIK diharapkan akan kuat dan ketersediaan layanannya akan meliputi seluruh wilayah Indonesia melalui pembangunan pemerataan berkeadilan.

Kemajuan teknologi dan Infrastruktur TIK bagaimanapun berpotensi memunculkan ‘infrastructure bias’ yaitu kondisi di mana kemajuan ketersediaan teknologi dan infrastruktrnya tidak diikuti dengan kemajuan pembangunan socio-culture yang dibutuhkan, sehingga pemanfaatan TIK dan aplikasi yang hadir di masyarakat juga banyak termanfaatkan secara negatif dan tidak produktif. Bias dari infrastruktur ini juga dalam bentuk di mana kemajuan teknologi dan TIK tidak diiringi dengan kemajuan tingkat kompetensi SDM dan tingkat kemampuan pengembangan teknologi dan tingkat kontribusi kandungan lokal. Kebangkitan Nasional ini harus mampu menjadikan Indonesia meminimalisir bias tersebut.

Menekan ‘Infrastructure Bias’ dengan Peningkatan Kompetensi

Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kompetensi masyarakat untuk menekan bias dari pembangunan infrastruktur. Ini artinya, hanya sedikit SDM Indonesia yang memiliki kombinasi yang imbang antara pengetahuan, keterampilan praktis, kemampuan untuk bermawas diri dan kemampuan untuk menghargai sesama. Padahal, tingkat kompetensi yang rendah memberi ruang bagi ‘infrastructure bias’ untuk terus bertumbuh.

Dalam kata lain, pertumbuhan bias infrastruktur mengakibatkan kerugian riil dan non-riil dari penyalahgunaan teknologi. Penipuan, kejahatan seksual, ujaran kebencian, penyebaran informasi bodong dan lainnya ialah wujud dari pertumbuhan bias infrastruktur yang telah terjadi di Indonesia. Agar ‘infrastructure bias’ tidak bertumbuh lagi, bangsa ini perlu meningkatkan kompetensi dan kedewasaan dirinya dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Peran Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam Peningkatan Kompetensi TIK dan Kedewasaan Diri

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Kementerian Komunikasi dan Informatika menekankan pentingnya pelatihan dan sertifikasi angkatan kerja muda, fasilitasi lapangan kerja dan peningkatan keterampilan tenaga kerja di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi penyandang disabilitas, penciptaan entrepreneur baru yang akan menjadi awal untuk menciptakan masa depan ekonomi digital Indonesia dan peningkatan literasi digital Indonesia berbasiskan komunitas.

Sementara itu, agar masyarakat dapat memupuk kedewasaan dirinya dalam menyikapi perkembangan teknologi Kementerian Komunikasi dan Informatika merangkul para stakeholder seperti: ICT Watch, Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage dan Group Indonesian Hoax Buster dan segenap komunitas lainnya untuk mengkampanyekan etika berinternet yang baik melalui media cetak, media sosial, elektronika, dan bahkan melalui media luar ruang seperti partisipasi di car free day beberapa kota.

Rangkaian Kegiatan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109

Serangkaian acara dilakukan dalam rangka peringatan Harkitnas ke-109 diantaranya Panggung Bangkit Indonesia pada tanggal 21 Mei 2017 di Area Car Free Day yang secara serentak diselenggarakan di 4 Kota yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Pada kegiatan tersebut juga dilengkapi Video Teleconference Jakarta Bandung dan Yogyakarta. Keseluruhan Panggung #BangkitIndonesia juga dilihat melalui streaming di http://www.kebangkitan-nasional.id

Panggung #BangkitIndonesia di CFD dihadiri berbagai komponen masyarakat khususnya masyarakat yang erat dengan Komunikasi dan Informatika.

Sesuai dengan makna digitalisasi Panggung #BangkitIndonesia di CFD Jakarta selain dihadiri Menteri Kominfo Rudiantara juga tokoh digital seperti Alamanda, Miftah Sabri dari Selasar, Silvia Sumarlin, Arief Widhiyasa dari agate games, Sunil Tolani dari IDAff juga, Rhein Mahatma dari buattokoonline.id. Dalam kesempatan ini hadir juga saudari Asa ‘Afi’ Firda Inayah yang sedang perbincangan karena status spektakulernya di Facebook.

Panggung #BangkitIndonesia di CFD Bandung menghadirkan Mahasiswa-Mahasiswa UNIKOM yang berprestasi tingkat nasional dan dunia yang didampingi oleh Rektor Unikom Eddy S. Soegoto, serta penggerak startup digital Indonesia termasuk Enda Nasution.

Panggung #BangkitIndonesia di CFD Yogyakarta juga dihadiri Dirjen Sumberdaya Perangkat Pos dan Informatika Ismail, Blogger Blontank Poer, serta Penggerak Startup Digital.

Menteri Kominfo Rudiantara menyampaikan acara #BangkitIndonesia dihadiri siapa saja tidak hanya telekomunikasi tetapi semua komunitas Internet dan digital. “Ini adalah kebersamaan, semua kalangan agar bangkit digital. Di sini hadir juga Afi yang memanfaat Internet positif yang sedang viral dan ramai menjadi perbincangan. Apa yang dilakukan Afi perlu menjadi contoh teladan” tegas Rudiantara.

Afi sampaikan tulisannya terakhir berjudul ‘Warisan’ intinya mengajak berfikir tidak hanya mengkritisi untuk membangun wawasan kebangsaan. “Memang karena ini akun Facebook saya disuspend. Akun facebook saya cuma satu. Saya akan terua mengajak untuk menjaga kebersamaan” papar Afi.

Pada Panggung #BangkitIndonesia juga dibacakan puisi-puisi dan penyampaian pesan dan harapan untuk kebangkitan dan kemajuan Indonesia.

Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109

Hari ini, Senin 22 Mei 2017 dilaksanakan upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109 di Jakarta, Jogjakarta dan Surabaya. Pada pelaksanaan upacara di Jakarta, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjadi Inspektur Upacara di hadapan seluruh Civitas Kementerian Kominfo.

Dalam sambutannya Menkominfo menegaskan bahwa semangat kebangkitan nasional tidak pernah memudar tapi menunjukkan urgensinya bagi kehidupan berbangsa. Padahal Semangat ini sudah tercetus sejak 109 tahun yang lalu. Ditandai dengan berdirinya Boedi Utomo. Hal ini pula yang kemudian menyemangati gerak kita sebagai bangsa.

Selain itu tidak mudah bagi pendahulu kita untuk merajut keIndonesiam saat Infrastrutur transportasi dan komunikasi masih terbatas, dan Sumber Daya Insani yang teguh dengan pemikiran keIndonesia juga masih dighitung dengan jari.

Saat ini dikatakan oleh Rudiantara bahwa Presiden Jokowi telah menekankan aspek pemerataan dalam semua bidang pembangunan. Program nawacita yang diusung oleh Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menempatkan aspek pemerataan pada porsi paling tinggi. Pemerataan diwujudkan dengan membangun Indonesia dari pinggiran dan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Kebangkitan nasional akan berarti jika tidak ada satu anak bangsa pun yang tercecer dari gerbong kebangkitan tersebut. Tema “Pemerataan Pembangunan Indonesia Yang Berkeadilan Sebagai Wujud Kebangkitan Nasional” yang mejadi tema harkitnas ini menjadi pesan yang tepat dan tidak hanya tertanam di dalam hati tapi diwujudkan melalui strategi, kebijakan, dan implementasi dalam pelayanan kepada masyarakat dan bangsa.

Pada akhir sambutannya Rudiantara mengatakan bahwa berkah digitalisasi hampir terjadi di setiap sektor terkait dengan dipangkasnya waktu perizinan. Salah satunya perizinan bidang telekomunikasi dari 60 hari dipangkas jadi 14 hari. Pemangkasan ini dapat terlaksana berkat teknologi digital. Sambutan lengkap Menteri Komunikasi dan Informatika dapat dilihat di sini.

Berbagai kegiatan lainnya seperti aksi sosial Donor Darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia dan pemeriksaan Mamografi hasil kerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia, serta pengobatan gratis kepada 500 warga di daerah Pandeglang Banten . Serta sejumlah Diskusi Publik, Dialog Interaktif, Bimtek dan Workshop yang diselenggaran di beberapa kota juga dilakukan dalam rangka peringatan Harkitnas ke-109.

Mari maknai Hari Kebangkitan Nasional ke-109 dengan terus meningkatkan kompetensi dan terus menjalankan prinsip-prinsip baik dalam memanfaatkan TIK. Informasi lengkap tentang Peringatan Harkitnas ke-109 dapat dilihat di http://kebangkitan-nasional.id ***

(Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika)