Published On: Wed, Dec 23rd, 2015

Kerja Sama AntarBangsa Selamatkan Nyawa Pasien Tuberkolosis Akut

1. Mr Tran (ke 2 dari kanan) bersama Dr Su Setelah Sukses Menjalani Operasi

Mr Tran (ke 2 dari kanan) bersama Dr Su Setelah Sukses Menjalani Operasi

Jakarta, 23 Desember 2015 –  Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat penting dunia. Sejak 1992, World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan masih terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis di tahun 2002. Menurut data WHO persebaran terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus di dunia.

Di Indonesia, meskipun hingga akhir 2013 prevalensinya menurun signifikan beberapa tahun terakhir, jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia masih terbilang tinggi. Bahkan, saat ini jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia menempati peringkat empat terbanyak di seluruh dunia. Prevalensi tuberkulosis di Indonesia pada 2013 ialah 297 per 100.000 penduduk dengan kasus baru setiap tahun mencapai 460.000 kasus. Dengan demikian, total kasus hingga 2013 mencapai sekitar 800.000-900.000 kasus.

Ketika ditemui di tempat praktiknya, Ahli Bedah Cardiothoratic RS Gleaneagles Singapura Dr. Su Jang Wen mengatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara yang memiliki beban tertinggi penyakit tuberkulosis perlu belajar dari negara yang sukses menanggulangi tuberkulosis. “Upaya pemberantasan TB perlu melibatkan kemitraan yang luas. Kemitraan tak sekadar menyangkut pendanaan, melainkan dalam hal akses terhadap teknologi dan penanganan terbaru dalam menghadapi penyakit ini,” ungkap Dr. Su Jang Wen.

Salah satu kisah sukses terbaru di RS Gleneagles Singapura menunjukan bahwa koordinasi dokter antar negara ternyata berhasil menyelamatkan nyawa seorang pasien dari Vietnam, Tran Thien Khoa. Anak muda asal Vietnam ini terinfeksi paru-paru oleh bakteri sehingga mengidap TB.  Kondisinya sudah pada tingkat akut, bahkan sebagian besar dokter di Vietnam yang disambangi hanya mampu memberi secercah harapan untuk sembuh, selebihnya malah terpaku pesimis. Berat badannya terus menyusut hingga 33 kilogram dan ketahanan tubuhnya keropos. TB terus menggerogoti fisik dan mungkin sewaktu-waktu merenggut hidupnya.  Tran Thien Khoa pun berada di ujung maut, hanya tekad dan impian untuk hidup sehat kembalilah yang tersisa.

Hari pertama dalam setiap pergantian Tahun Baru Vietnam, yang biasanya menjadi hari baik bagi setiap warga negara itu, namun ternyata tidak bagi Khoa. Pemuda yang mengenyam pendidikan kampus di kota Ho Chi Minh ini harus menelan pil pahit kehidupan tatkala harus menjalani hari itu di rumah sakit.  Lantaran diagnosis pertama yang ia dapatkan adalah pulmonary tuberculosis, meskipun tes tuberculosis pertama menunjukkan hasil yang negatif, namun dia berulangkali menderita gejalanya penyakit itu seperti demam dan fatig.

Gejala itu menyiksa Khoa, tubuhnya terus-menerus demam dan tarikan napasnya menyempit. Kondisi yang terjadi berulang-ulang ini mengikis kesehatannya.

Hingga pada titik dimana ia sering mengalami batuk darah dan sesak napas dalam sehari.  Dari sisa tekad tadi, kemudian Khoa yakin menjalani perawatan di RS Gleneagles Singapura selama sebulan.

Setibanya tengah malam, Khoa langsung diboyong melesat ke ruang gawat darurat dengan penanganan khusus tim dokter.  Vonis kembali jatuh padanya, Khoa menderita kasus akut di mana ia berisiko mengalami kematian jika dioperasi.  Biasanya ini merupakan situasi di mana operasi merupakan tindakan yang sangat berbahaya, namun di sisi lain kondisi Khoa sudah
sangat kritis dan dia terus-menerus batuk berdarah.

“Kami sangat bingung atas situasi ini, namun tim dokter dan keluarga akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko dan mengijinkan dia dioperasi untuk mengangkat paru-paru sebelah kirinya,” ujar kakak perempuannya. Setelah melewati 2 kali operasi, tim dokter berhasil mengangkat paru-paru yang terinfeksi dengan sempurna.

Belum berakhir, memasuki minggu kedua pasca operasi, Khoa terserang rasa sakit yang hebat di bagian perut dan sulit bernapas. Hasil pemeriksaan ultrasound menyatakan bahwa enzim livernya naik di sekeliling dinding jantung.  Tak pelak, operasi ketiga pun digelar.  Semangat yang menipis mengiringi jalannya operasi itu, bahkan pihak keluarga pun sempat
kehilangan harap.  Pasalnya, operasi itu sendiri berjalan sulit karena kondisi pasien yang kritis dan tekanan darah yang rendah akibat kehilangan darah.

Kenyataan berkata lain, tekad Khoa untuk sehat berbuah manis. Operasi ketiga Khoa berhasil dan kondisinya perlahan-lahan membaik. “Sekarang, penyakit itu sudah hilang dan begitu juga rasa sakitnya. Saya berterima kasih kepada keluarga yang selalu mendampingi dan para dokter untuk tidak berhenti berharap dan tetap ada di samping saya dalam menghadapi kematian,” kata Khoa.

Menurut Dr. Su Jang Wen, Ahli Bedah Cardiothoracic RS Gleneagles Singapura, kasus yang dialami Tran Thien Khoa merupakan salah satu kasus paling sulit yang pernah ditangani tim dokter RS Gleneagles Singapura. “Saat kami pertama kali melihat situasinya, paru-parunya sudah sangat rusak oleh tuberkulosis dan dia terus-menerus batuk berdarah. Kami jelaskan pada keluarganya bahwa kondisi fisiknya yang lemah membuatnya sangat beresiko menghadapi kematian jika ia menjalani operasi.  Di sisi lain, dia terus batuk berdarah dalam jumlah yang banyak, sehingga terancam meninggal meski tidak dioperasi. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, keluarganya dengan berani menyetujui agar kami mengangkat paru-paru kirinya yang sudah terinfeksi,” jelas Dr. Su.

Kini, Khoa dalam kondisi stabil dengan paru-paru yang berfungsi baik. Dia masih harus meneruskan pengobatan anti infeksi selama satu tahun, demi kesembuhan total. Dari kisah ini, Dr. Su Jang Wen berharap banyak penderita TB lainnya terinspirasi untuk selalu bersemangat menghadapi penyakitnya. Terutama untuk masyarakat Indonesia, sebagai salah satu negara penderita TB terbanyak di dunia, bahwa dengan kemajuan teknologi sekarang ini diharapkan akan menjadi jawaban pencegahan dan pengobatan penyakit tuberkulosis.