Published On: Sun, Nov 16th, 2014

Lamudi Membandingkan Infrastruktur Jakarta untuk Menemukan Penyebab Banjir

INFOGRAFIK -BANJIR-LAMUDIJakarta, 13 November 2014: November menandai masuknya musim penghujan di Indonesia. Setiap tahun hujan membawa masalah besar bagi kota Jakarta. Januari tahun lalu misalnya, Jakarta Pusat lumpuh selama hampir tiga hari dan banjir besar menyebabkan 20 orang meninggal dan kerugian ekonomi hingga hampir 20 Triliun rupiah.

Portal properti Indonesia, Lamudi, melakukan perbandingan antara Jakarta dan Singapura, untuk menemukan penyebab Jakarta mengalami banyak masalah di musim penghujan dibanding Singapura, padahal tingkat curah hujan di Singapura lebih tinggi 20% dari Jakarta.

Infografik yang disusun oleh Lamudi, menunjukan beberapa hal menarik:

Pembuangan – Jakarta tidak mempunyai saluran pembuangan yang cukup. Singapura dengan ketinggian yang lebih curam, mempunyai saluran air tiga kali lebih banyak dari Jakarta, karena itu Jakarta sangat membutuhkan pembangunan saluran air yang lebih banyak untuk memastikan kejadian banjir tahun lalu tidak terulang lagi.

Kepadatan penduduk – Meskipun curah hujan di Jakarta lebih sedikit, namun populasi di Singapura hanya setengah dari Jakarta. Sehingga, dengan dua kali lipat orang yang harus dipindahkan, membangun infrastruktur yang diperlukan di Jakarta jauh lebih rumit.

Ketinggian – Rata-rata ketinggian di Jakarta adalah 7 meter dan di beberapa area nya bahkan berada di bawah permukaan laut, bandingkan dengan Singapura yang mempunyai ketinggian 15 meter dan di atas permukaan laut. Karena itu, tidak hanya Jakarta lebih rata dan lebih sulit bagi air untuk mengalir, namun dengan area di bawah permukaan laut, ada banyak area di Jakarta dimana air malah terkumpul. Lebih lanjut lagi, Jakarta tenggelam 5 hingga 10 cm setiap tahun dan bahkan 20 cm di Jakarta Utara. Ini merupakan masalah besar dalam pembangunan saluran air untuk mengeluarkan air dari kota.

Area Rawan Banjir – Dibandingkan dengan titik-titik merah di Singapura yang hanya seluas 56 Ha, sebagian besar area Jakarta adalah area rawan banjir. Ini kembali lagi disebabkan ketinggian dan saluran pembuangan di kota.

Masalah lainnya, Jakarta mempunyai sejarah pembangunan di kota yang tidak mempunyai pertimbangan kepada isu lingkungan. Pembangunan seperti itu yang menyumbat aliran air.

Tingginya kepadatan penduduk juga menyebabkan isu lebih lanjut di kawasan bantaran kali di kota. Sejatinya, sungai harus cukup lebar dan tidak ditinggali untuk dapat memberikan ruang kelebihan air saat banjir. Kekurangan tindakan hukum di Jakarta menyebabkan area yang seharusnya untuk penampung air, malah dipenuhi oleh perumahan penduduk dan area komersil.

Pemerintah Singapura menghabiskan 2.4M dollar untuk membangun sistem pembuangan, dan mengalokasikan 150 juta dolar pertahun untuk mengupgrade infrastrukturnya dan 23 juta dollar untuk perawatan. Pemerintah Jakarta telah berjanji untuk mulai berinvestasi dan telah melakukan beberapa perbaikan untuk sebagai langkah pencegahan banjir di Jakarta, seperti pengerukan di Bendungan Pluit, memperbaiki pompa air di bendungan, membersihkan dan menambal tanggul di Banjir Kanal Jakarta yang jebol tahun lalu dan menyebabkan banjir besar di beberapa daerah di pusat Jakarta, seperti Tanah Abang, Thamrin, Bundaran HI dan Menteng. Pemerintah juga berencana untuk membangun Dinding Laut Raksasa yang telah memasuki tahap pembelajaran dan analisis.

Namun akar permasalahannya adalah ledakan jumlah penduduk, dan memindahkan para penduduk di area rawan banjir untuk mulai melakukan perbaikan adalah suatu tantangan besar bagi pemerintah yang sedang bertugas. Masyarakat telah terikat dengan rumah mereka, menjadikan perubahan demi kepentingan banyak sulit diterapkan. Karena itulah, meski situasi sekarang mengalami perbaikan dan mempunyai kesempatan untuk mengurangi banjir berskala besar, ini masih jauh dari mencapai standar pembangunan kota metropolitan seperti Singapura. Dan seiring datangnya musim penghujan, masyarakat terus berharap bahwa banjir besar tidak akan terjadi lagi tahun ini.

Tentang Lamudi

Diluncurkan pada tahun 2013, Lamudi adalah portal properti global yang berfokus khusus kepada pasar berkembang. Platform yang tumbuh pesat ini sudah tersedia di 28 negara di Asia, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin, dengan lebih dari 600.000 listing real estate di seluruh jaringan global nya. Portal real estate terkemuka ini menawarkan penjual, pembeli, pemilik hunian dan penyewa sebuah platform yang aman dan mudah digunakan untuk mencari dan menemukan properti secara online.