Published On: Wed, Sep 19th, 2018

Mayoritas Konsumen Asia Pasifik Lebih Memprioritaskan Keamanan Ketimbang Kenyamanan dalam Menggunakan Aplikasi

Share This
Tags

Jakarta, Indonesia, 14 September 2018 – Konsumen di Asia Pasifik saat ini rela mengorbankan kenyamanan dalam menggunakan aplikasi demi keamanan berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh F5 Networks (NASDAQ: FFIV) bertajuk ‘The Curve of Convenience’.

Survei regional yang merupakan hasil kolaborasi bersama YouGov ini menunjukkan, keamanan sebenarnya masih menjadi prioritas konsumen di Asia Pasifik. Sebanyak 53% responden memprioritaskan fitur keamanan ketimbang fungsionalitas dan kenyamanan ketika menggunakan aplikasi. Bahkan, konsumen di kawasan ini tidak memberi ampun jika terjadi sesuatu terkait keamanan. Hampir tiga dari lima responden memilih untuk tidak lagi menggunakan sebuah aplikasi jika keamanan data mereka jadi taruhannya.

Namun konsumen di Indonesia memiliki pandangan yang berbeda terkait keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan aplikasi. Secara keseluruhan, hanya 49% konsumen Indonesia yang lebih mengutamakan aspek keamanan ketika menggunakan aplikasi sementara rata-rata Asia Pasifik berada pada 54%. Hanya 37% milenial Indonesia, yang merupakan demografi pengguna aplikasi terbesar, memprioritaskan keamanan.

Generasi digital Asia mempengaruhi perekonomian global, mulai dari  mendorong pasar konsumen hingga menciptakan model-model bisnis yang inovatif. Untuk memetakan persepsi dan perilaku konsumen Asia Pasifik dalam menggunakan aplikasi, F5 berkolaborasi dengan YouGov untuk melakukan survei dengan melibatkan 3.700 responden di tujuh negara yakni Australia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Filipina, dan Singapura.

“Saat ini aplikasi mentransformasi cara konsumen berinteraksi dengan produk dan layanan kerena menghadirkan lingkungan yang spesial dan bersifat personal bagi perusahaan-perusahaan dalam berinteraksi dengan pengguna,” kata Adam Judd, Senior Vice President, Asia Pacific, China dan Jepang (APCJ), F5 Networks. “Hasil survei kami cukup jelas. Meski kawasan ini beragam, satu faktor menyatukan mereka. Keamanan masih menjadi pertimbangan utama konsumen Asia Pasifik. Seiring aplikasi kian mendominasi kawasan, sangat penting bagi perusahaan untuk  memahammi sikap konsumen seperti yang dipaparkan dalam riset Curve of Convenience. Dengan demikian, mereka dapat mengahadirkan user experience yang tepat untuk konsumen atau berisiko kehilangan mereka.”

“Keamanan dan kenyamanan seringkali berseberangan, serta mempersulit upaya untuk mencari jalan tengah kedua elemen tersebut. Semakin nyaman sebuah perangkat atau program, biasanya semakin tidak aman. Ini menjadi pilihan sulit, apakah kita harus mengorbankan keamanan atau kenyamanan? Riset Curve of Convenience dari F5 menggambarkan hal tersebut, terlihat pengguna di kawasan ini memiliki pilihan yang berbeda berdasarkan tingkat pemahaman mereka. Namun, sangat penting untuk diingat bahwa meskipun penggunaan aplikasi meningkat, pengguna memiliki batasan dalam hal jumlah aplikasi yang mereka miliki. Perusahaan harus mengetahui prioritas pengguna dan mendesain aplikasi memakai pertimbangan tersebut,” kata Dr. Debin Gao, Associate Professor, Information Systems, Singapore Management University.

 

Mengorbankan keamanan demi kenyamanan

Untuk Kawasan Asia Pasifik, keamanan tetap menjadi pertimbangan utama, apapun aktivitas digital mereka. Hal ini terlihat dari 54% responden yang memprioritaskan keamanan dibanding kenyamanan. Faktanya, hampir setengah (46%) menyatakan, pengalaman yang lebih aman akan menjadi faktor terbesar dalam meningkatkan pengalaman digital mereka selama lima tahun ke depan.

Situasi berbeda terjadi di kalangan konsumen Indonesia di mana kenyamanan lebih berharga ketimbang kenyamanan, serta cenderung haus pengalaman baru ketimbang menggunakan aplikasi yang aman. Ini terlihat dari 47% responden Indonesia yang masih tak puas dengan keseluruhan pengalaman menggunakan aplikasi. Alasan utama memilih sebuah aplikasi adalah kenyamanan (29%) dan waktu loading yang cepat (24%), serta hanya 19% yang memikirkan alasan keamanan.

Tapi, di tengah sorotan banyaknya penyalahgunaan data media sosial dan kerentanan terhadap peretasan – seperti yang terjadi dalam kasus Facebook dan Cambridge Analytica beberapa waktu lalu – media sosial merupakan jenis aplikasi yang paling banyak digunakan. Yang lebih mengkhawatirkan, media sosial menduduki posisi kedua sebagai aplikasi yang paling dipercaya di kawasan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh fungsi dan kenyamanan yang ditawarkan media sosial, salah satunya mempermudah pengguna untuk terus melihat update dari teman dan keluarga serta pada saat yang sama menyediakan opsi untuk masuk atau mendaftar sebagai pengguna aplikasi lain seperti game atau layanan e-commerce. Ini berarti, pengguna dengan sukarela meyerahkan informasi pribadi demi kenyamanan dan fungsi. Terkadang, mereka tak berpikir dua kali mengenai dampaknya bagi keamanan secara keseluruhan.

 

Ekspektasi penggunaan aplikasi terus mengalami evolusi

Meski riset ini juga menunjukkan konsumen di Asia Pasifik lebih mementingkan keamanan ketimbang keamanan, perilaku penduduk kawasan masih berbeda-beda. Dengan kata lain, banyak jenis Asia di Benua Asia. Sebagai kawasan yang perekonomiannya bersifat mobile first dimana mayoritas hubungan utama dengan dunia digital dilakukan mealui perangkat mobile, antusiasme dan semangat negara-negara berkembang ini diterjemahkan menjadi mindset ‘pengalaman dulu, aman kemudian.’

Konsumen negara berkembang seperti Indonesia, India dan Filipina mengadopsi dunia digital dengan amat cepat. Mereka memprioritaskan kenyamanan. Sementara konsumen dari negara yang lebih maju seperti Australia dan Singapura, memprioritaskan keamanan. Sebanyak 14% pengguna dari Indonesia, India, dan Filipina memprioritaskan kenyamanan ketimbang keamanan. Adapun pengguna asal Australia (63%) dan Singapura (67%) mendahulukan keamanan ketimbang kenyamanan.

 

Milenials mengorbankan keamanan demi kenyamanan

Pada 2020, lebih dari 60% penduduk milenial (usia 18-34 tahun) berada di Asia Pasifik. Mereka akan menjadi demografi yang mempengaruhi bisnis aplikasi, memiliki ekspektasi tertentu mengenai bagaimana perusahaan memenuhi preferensi mereka.

Meski sangat paham  teknologi, milenials terbukti menjadi demografi yang rentan serangan karena generasi digital meremehkan keamanan. Kurang dari setengah responden milenial (44%) memprioritaskan fitur keamanan, dibandingkan dengan 53% responden Gen X (usia 35-54 tahun) dan 69% generasi baby boomers (usia 55 tahun ke atas).

Secara umum, milenials memahami potensi risiko keamanan data, tetapi mereka tak begitu khawatir. Sebanyak 32% milenial menunjukan toleransi tinggi terhadap pembobolan, sebab mereka akan tetap menggunakan sebuah aplikasi meski datanya dibobol. Sebagai calon pemimpin dunia, milenial harusnya memahami tingkat risiko keamanan karena sikap santai generasi ini berpotensi merugikan dan menjadi alasan utama pembobolan keamanan.

Aplikasi kini menjadi wajah bisnis. Riset Curve of Convenience menjadi cerminan perjalanan pengguna untuk mendapat ‘pencerahan aplikasi’. Mereka diharapkan lebih memahami tarik ulur antara keamanan dan kenyamanan menggunakan aplikasi, serta memilih salah satu kadang berarti mau tak mau harus mengorbankan lainnya. Tantangan bisnis saat ini adalah menyeimbangkan kenyamanan dan keamanan. Juga, menghindari ‘jurang kenyamanan’ (convenience chasm), yakni ketika pengguna tidak puas dengan kenyamanan dan keamanan sebuah aplikasi.

***

 

Tentang F5

F5 (NASDAQ: FFIV) membuat aplikasi berjalan lebih cepat, lebih pintar, dan lebih aman untuk berbagai perusahaan, penyedia layanan, pemerintah, dan merek konsumen terbesar di dunia. F5 menyediakan solusi cloud dan keamanan yang mempermudah organisasi dalam menerapkan infrastruktur aplikasi yang bisa dipilih tanpa mengorbankan kecepatan dan pengendalian. Untuk informasi lebih lengkap, klik f5.com. Anda juga bisa follow @f5networksAPJ di Twitter atau kunjungi laman LinkedIn dan Facebook resmi untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai F5, partner, serta teknologi kami.

F5 adalah trademark dan service mark dari F5 Networks Inc. di Amerika Serikat dan negara lain. Seluruh produk dan nama perusahaan lain yang disebutkan menjadi trademark pemiliknya.

 

Appendix

Riset ini dilakukan pada Maret 2018, berkolaborasi dengan YouGov. Sampel riset adalah 3.757 responden dari tujuh negara yang menggunakan komputer desktop atau perangkat mobile selama empat pekan.

Dalam pengamatan selama sepekan, partisipan menjawab 27 pertanyaan, diantaranya:

  • “Terkait fitur yang menurut Anda paling penting di aplikasi sosial media, seberapa puas Anda dengan fitur ini berdasarkan aplikasi-aplikasi yang saat ini Anda gunakan?”
  • “Seberapa besar kemungkinan Anda menggunakan lagi sebuah aplikasi jika salah satu dari aspek ini dibobol?”

 

Tujuh negara yang termasuk dalam riset ini adalah:

  1. Australia (400)
  2. China (704)
  3. Hong Kong (402)
  4. India (714)
  5. Indonesia (706)
  6. Filipina (411)
  7. Singapura (420)