Published On: Wed, Jun 10th, 2015

MEA 2015: Lampu Hijau Kepemilikan Asing?

Share This
Tags

logo-lamudiJakarta, 10 Juni 2015: Portal properti global Lamudi memprediksi kontroversi seputar kepemilikan properti oleh asing di Indonesia berasal dari isu domestik terkait permintaan besar backlog perumahan di Indonesia yang  masih belum teratasi.

Managing Director Lamudi Indonesia, Steven Ghoos, mengatakan: ”Kontroversi mengenai kepemilikan asing akan terus berlanjut, karena masih ada backlog dalam jumlah besar dari untuk permintaan perumahan domestik.” Hukum Indonesia menyatakan bahwa hanya warga negaranya yang dapat memiliki tanah di Indonesia. Orang asing hanya dapat menggunakan hak pakai, yang hanya berlaku selama beberapa periode waktu tertentu dan harus diperbaharui setelah masa berlakunya habis.

Indonesia beserta negara-negara Asia Tenggara lainnya tengah menghitung waktu hingga diimplementasikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bulan Desember. MEA akan membuka peluang pasar berisi lebih dari 600 juta orang dan potensi untuk menciptakan lebih dari 14 juta pekerjaan baru dalam sepuluh tahun ke depan. Setiap sektor mulai mempersiapkan dirinya untuk bersaing dengan negara tetangga, termasuk sektor properti.

Menurut JLL, transparansi yang rendah adalah salah satu tantangan dalam menarik lebih banyak investor di Asia Tenggara, tidak termasuk Singapura. Pasar real estate di Indonesia sendiri dikategorikan sebagai semi-transparan pada 2014, meningkat dari transparansi rendah sepuluh tahun lalu. Pemerintahan yang sekarang juga bekerja untuk menciptakan proses yang lebih mudah untuk berinvestasi di Indonesia, seperti yang bisa dilihat dari “one stop service”  yang telah dicanangkan BKPM awal tahun ini.

Mengenai kepemilikan asing, pemerintah melalui Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, telah mengisyaratkan adanya kemungkinan perubahan aturan tersebut, meski beliau menekankan bahwa hanya Apartemen yang bisa menjadi sasaran peraturan tersebut. Real Estate Indonesia (REI) pun menyatakan bahwa dengan pengukuran yang tepat, kepemilikan properti asing bisa membawa banyak wajib pajak baru dan meningkatkan penghasilan negara.

Namun tentu masih ada kekhawatiran terhadap pengimplementasian regulasi tersebut. Director dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghananda, memperingatkan bahwa negara-negara yang mengadopsi regulasi serupa lebih rentan terhadap properti bubble. Pemerintah juga harus mengatur batas harga yang tepat untuk memastikan pasar lokal tidak akan terganggu.

Steven Ghoos dari Lamudi Indonesia menyatakan: “Jika pemerintah bisa menciptakan aturan tepat yang menguntungkan masyarakat, hal ini bisa membuka banyak potensial.”

ENDS.

 

TENTANG LAMUDI

Didirikan pada tahun 2013, Lamudi adalah portal properti global yang berfokus pada negara-negara berkembang. Portal yang berkembang sangat pesat ini kini tersedia di 32 negara di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin dengan listing lebih dari 900.000 di seluruh jaringan globalnya. Portal jual-beli dan sewa real estate ini menjadi platform yang aman dan mudah digunakan bagi para pembeli, penjual, pemilik tanah, dan penyewa untuk menemukan atau mendaftarkan properti secara online.

 

TENTANG LAMUDI INDONESIA

Memperluas servisnya di Indonesia, Lamudi.co.id didirikan pada tahun 2014 untuk membantu pembeli properti mendapatkan informasi tentang rumah, tanah, apartemen, dan ruang komersil yang dijual maupun disewa. Lamudi Indonesia memberikan kemudahan dengan menyediakan data-data dan kontak dengan agen, properti developer, dan pemilik tanah. Lamudi Indonesia memberikan daftar properti yang lengkap dan terkini di Indonesia. Kantor Lamudi Indonesia berlokasi di Jakarta, dengan perwakilan di Surabaya, Bandung, dan Bali.