Published On: Thu, Apr 21st, 2016

Melalui Program Indonesia Terang, ESDM Dan PLN Pasok Listrik Indonesia Timur

plnJakarta, 21 April 2016- Listrik adalah gerbang menuju Indonesia maju. Dengan listrik masyarakat Indonesia di daerah terpencil akan menikmati akses atas penerangan, pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja yang luas, tingkat keamanan yang lebih terjamin, hingga kehidupan sosial yang lebih bermartabat.

Untuk itulah melalui Program Indonesia Terang (PIT), PLN (Persero) dan Kementerian ESDM berusaha untuk mengalirkan listrik ke seluruh Negeri.

Bertepatan dengan hari Kartini, pencanangan Program Indonesia Terang dilakukan di desa Temel, Distrik Ayamaru Jaya, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, pada kamis (21/4) oleh Menteri ESDM Sudirman Said didampingi oleh Direktur PLN Amin Subekti, serta Dirjen ESDM dan EBTKE.

Program Indonesia Terang ini diharapkan menjadi jawaban untuk desa-desa yang belum teraliri listrik.

Menurut Menteri ESDM Sudirman Said, Program Indonesia Terang sangat diperlukan mengingat banyak wilayah di Indonesia bagian timur yang sangat sulit di akses, hal ini juga menjadi tantangan dan konsenstrasi tersendiri bagi pemerintah dan PLN untuk dapat segera memenuhi kebutuhan listrik warga. Mengingat sulitnya akses di 6 provinsi Indonesia Timur ini, regionalisasi sangat dibutuhkan.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh PLN saat ini dengan membentuk regionalisasi, sehingga tiap daerah bisa mendapatkan perhatian khusus dan terfokus.Regionalisasi ini juga relevan mengingat tantangan tiap daerah yang berbeda-beda,” ujar Sudirman Said.

Direktur PLN, Amin Subekti menjelaskan bahwa regionalisasi yang dilakukan saat ini akan terus diperkuat, dan tak lupa untuk meningkatkan kemampuan SDM di tiap regional serta memberikan pelatihan kepada penduduk sekitar untuk bisa mengoperasikan pembangkit.

Pencanangan Program Indonesia Terang sengaja dilakukan di pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) Temel dan PLTMH Safreis. Hal ini sekaligus sebagai bukti keseriusan PLN dan pemerintah untuk pemanfaatan energi yang ramah lingkungan.

Kabupaten Maybrat yang mempunyai kontur berbukit-bukit memiliki beberapa potensi air yang dapat dikembangkan menjadi sumber energi listrik berskala kecil, hal ini juga nantinya akan dimanfaatkan oleh PLN untuk mengembangkan potensi alam yang ada sebagai pembangkit listrik off grid atau sekala lokal.

“Melihat potensi Kabupaten Maybrat, pembangunan PLTMH tentu sangat dimungkinkan kedepannya, kami juga telah bertemu dengan pemerintah daerah setempat untuk melihat potensi-potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik,” ujar Amin Subekti.
Sebelumnya pemanfaatan energi baru terbarukan juga telah dilakukan oleh PLN diantaranya dengan pemanfaatan PLTA 2 x 10 Mega Watt ( MW) di Oriya, Genyem, Provinsi Papua. Selain itu PLN juga berhasil mengoperasikan PLTMH Prafi 2 x 1,25 MW serta sejumlah PLTMH kapasitas 500 kV dan 200 kV di Wamena.

Sementara untuk jangka panjang, PLN juga berencana untuk membangun PLTMH baru dengan kapasitas hingga 14,7 MW di Papua dan PLTMH kapasitas 7,6 MW di Papua Barat.
Selain itu PLN juga akan melakukan pembangunan PLTA 50 MW di sungai Baliyem serta akan memasang PLTS tersebar di Papua dan Papua Barat.

Saat ini untuk wilayah Papua dan Papua Barat rasio elektrifikasinya sebesar 47,2 persen dan PLN sedang mengejar target peningkatan rasio elektrifikasi Papua dan Papua Barat hingga 90,25 persen pada tahun 2020, dimana rencana pembangunannya sudah tertuang dalam RUPTL dan masuk dalam Program 35 ribu Megawatt yang digagas oleh Presiden RI Joko Widodo.
Adapun yang menjadi perhatian PLN untuk peningkatan rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat yakni :
1. Melistriki 14 Ibu Kota kabupaten yang belum terlistriki, sampai dengan tahun 2017

2. Pengoperasian listrik 24 jam untuk seluruh desa untuk tahun 2017.

3. Desa berlistrik diharapkan bisa mencapai 80,8 persen.

4. Pulau terluar dalam tiga tahun kedepan sudah teraliri listrik.

Khusus untuk Program Indonesia Terang akan dimulai dari enam provinsi paling timur Indonesia. Keenamnya adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Kesulitan akses di sana membuat keenamnya menjadi provinsi yang harus digarap pertama kali. Dari Timur, program ini akan digerakkan secara cepat ke bagian barat Indonesia.

“Kita memberikan fokus ke wilayah timur Indonesia Terang. Mempercepat kelistrikan atau akses ke 12 ribuan desa,” Pungkas Menteri ESDM Sudirman Said.

 

 

 

sumber: PLN