Published On: Wed, Sep 14th, 2016

Mempercepat Kinerja Aplikasi Dalam Rangka Menjawab Kebutuhan Pelanggan Modern

ideaDalam bisnis, kecepatan adalah kunci utama yang menentukan kesuksesan. Baik itu dalam membaca peluang, hingga kecepatan dalam memberikan layanan kepada pelanggan. Keterlambatan dalam melayani pelanggan, tentu akan berdampak buruk bagi bisnis. Hal ini juga berlaku pada aplikasi bisnis yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan pelanggan. Kita tentu sering mendengar berbagai keluhan di sosial media tatkala aplikasi – baik untuk bertransaksi online, maupun menggunakan layanan transportasi berbasis aplikasi – lambat, atau tak dapat diakses sama sekali. Hal tersebut bisa menjadi kunci dari bagaimana pelanggan menilai layanan sebuah perusahaan, kini dan ke depannya nanti.

 

Baru-baru ini, sebuah riset juga menemukan bahwa berdasarkan interaksi dari 5 miliar pengguna terhadap 500 aplikasi berbasis web, ada sekitar 4,2% transaksi yang ditinggalkan[1]. Jika diterjemahkan ke dalam angka, persentase tersebut bisa berarti jutaan bahkan miliaran rupiah yang urung menjadi pendapatan perusahaan. Bahkan bisa diartikan pula sebagai meningkatnya jumlah keluhan yang dilayangkan pelanggan melalui customer service. Karenanya, berbagai penundaan yang terjadi dalam akses aplikasi kepada pelanggan perlu diminimalisir atau, bahkan, dienyahkan selama-lamanya. Dan untuk merealisasikan hal tersebut, perlu bagi pihak pengembang dan operator aplikasi (baik operator infrastruktur, jaringan, storage, dan keamanan) perlu meningkatkan kinerja dari aplikasi.

app acceleratorHasil studi global terbaru dari F5 Networks yang berjudul “State of Application Delivery 2016” mengungkapkan bahwa kinerja aplikasi amatlah penting di hampir semua lini IT. Saking pentingnya, bahkan hanya sedikit responden yang ingin menukarkan kinerja aplikasi dengan keamanan yang lebih baik (hanya 9% responden). Dari survei tersebut juga terungkap bahwa kinerja aplikasi dianggap sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi ketika mengimplementasi multi-cloud.

 

Dan demi meningkatkan kinerja aplikasi, bisnis mulai memanfaatkan app acceleration[2], atau sejumlah teknologi yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja aplikasi dan waktu respon pada koneksi jaringan. Namun demikian, meskipun demikian baru 38% responden saja yang telah menerapkannya, dan hanya 22% saja yang telah berencana untuk menerapkannya pada tahun depan. Yang mengejutkan, 40% responden bahkan belum memiliki rencana untuk menerapkan atau memanfaatkan app acceleration.

 

Dari survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar perusahaan masih samar-samar mengenai perlu atau tidaknya penerapan “app acceleration” guna menunjang kinerja aplikasi, serta masih minimnya pemahaman mengenai app acceleration. Selama ini, app acceleration dipersepsikan sebagai kompresi dan caching, minification, serta optimalisasi gambar. Namun, tidak terlintas di dalam pikiran bahwa optimalisasi protocol merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses percepatan kinerja aplikasi guna menjawab ekspektasi bisnis dan pengguna yang kini tak hanya membutuhkan aplikasi berkinerja tinggi, tetapi juga gegas serta aman.

 

Salah satu protocol yang dimanfaatkan untuk menjawab ekspektasi tersebut adalah protocol keamanan seperti SSL/TSL, yang berfungsi mengamankan setiap transaksi data yang berseliweran di dalam jaringan. Bahkan Gartner memprediksi bahwa di akhir tahun 2017 lebih dari 50% trafik internet di dunia akan dienkripsi[3]. Namun, yang tidak diperhatikan adalah SSL/TLS ternyata memiliki dampak yang kurang baik terhadap kinerja. Hal tersebut terjadi seiring dengan peningkatan beban pada jaringan, yang disebabkan proses membaca setiap aliran data yang masuk dan / atau keluar yang berlindung di balik selimut SSL/TLS.

 

Beban kerja yang semakin meningkat tersebut, ternyata tidak diiringi dengan pemanfaatan protocol yang mampu meningkatkan kinerja dan juga kapasitas sumber daya server – seperti TCP Multiplexing. Dari survei State of Application Delivery 2016, terungkap bahwa hanya sekitar 46% responden yang telah memanfaatkannya. Dan angka tersebut cenderung stabil dari tahun ke tahun. Padahal, TCP Multiplexing beroperasi pada layer protocol, tak peduli apakah aplikasi berada di dalam kontainer, virtual machine, atau bahkan berbasis web. Secara otomatis, aplikasi akan langsung diselaraskan koneksinya dan ditingkatkan kinerjanya, terlepas di mana aplikasi tersebut diterapkan. Dengan demikian kinerja akan dapat meningkat hingga dua kali lipat.

 

Layanan app acceleration memang banyak kombinasi dan metodenya. Dan bisnis dituntut untuk menemukan kombinasi terbaik demi mempercepat kinerja aplikasi guna menjawab ekspektasi pelanggan yang kian meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga pada akhirnya bisnis dapat menyediakan aplikasi berkinerja tinggi dengan gegas serta aman, dalam rangka terus mengembangkan bisnis.

 

[1] https://dzone.com/articles/how-fast-are-web-applications-in-2016?edition=166460

[2] https://f5.com/glossary/application-acceleration

[3] http://www.securityweek.com/ssl-encryption-keep-your-head-game