Published On: Tue, Mar 22nd, 2016

Mengukur yang tidak berwujud: Dilema Keuangan Modern

Ditulis oleh:

Jasbir Singh,
Applications Vice President for ERP/SCM Asia Pacific, Oracle Corporation

Selama lebih dari 10 tahun terakhir, terlihat jelas bagaimana cara kita mengukur nilai bisnis telah berubah total. Biasanya, nilai suatu bisnis diukur berdasarkan aset yang berwujud atau tangible, yaitu bentuk fisik yang bisa disentuh dan dilihat, misalnya uang tunai, inventaris kantor, mesin, dan gedung. Tapi kini hal itu sudah berubah. Nilai bisnis juga diukur dari aset yang tidak berwujud atau intangible, yang tidak berbentuk tapi sangat bernilai, misalnya properti intelektual perusahaan, merknya, atau sumber daya manusianya.

Aset tidak berwujud ini mempengaruhi beberapa IPO terbesar dan valuasi yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Coba lihat Facebook (dengan kapitalisasi pasar lebih dari 104 miliar dollar AS) dan Twitter (dengan kapitalisasi pasar sebesar 12.67 miliar dollar AS). Aset-aset tidak berwujudlah yang menjadikan dua perusahaan ini bernilai tinggi, yaitu aset seperti data pelanggan, algoritma, akses ke data, intelligence, penggunaan data, dan merk perusahaan.

Pergeseran yang fundamental mengenai bagaimana nilai bisnis diukur memberikan tantangan baru bagi bagian keuangan. Bagian keuangan harus mengerti dan mendemonstrasikan nilai bisnis mereka sesungguhnya, harus bisa menganalisa dan mengukur secara akurat, dan melaporkan aset tidak berwujud yang berisi data terstruktur dan tidak terstruktur di dalam sistem mereka. Proses ini membutuhkan pemahaman mengenai apa saja aset mereka, menciptakan KPI, dan mengukur kinerja aset-aset baru ini. Data ini harus dilaporkan secara transparan dan jelas kepada para investor, pemegang saham, pelanggan, dan pemegang kepentingan lainnya. Seperti yang kita lihat sekarang, semakin banyak intelligence dan nilai yang ditarik dari data tidak terstruktur dan terstruktur secara bersamaan.

Oleh karena itu, jika bagian keuangan bisa memahami nilai bisnis secara akurat, maka manajemen data menjadi sangat krusial. Bagian keuangan harus bisa menarik informasi dari semua lini bisnis dan operasional, dan membawa data ini ke dalam satu sumber. Selain itu, agar bagian keuangan bisa menciptakan naratif yang menarik mengenai data ini, mereka harus bekerja sama dengan para manajer di semua lini bisnis untuk memahami implikasi dari data tersebut. Dengan cara seperti ini, bagian keuangan menjadi sistem pemandu untuk bisnis, menghubungkan berbagai lini bisnis dan pemegang kepentingan untuk mencari, memahami, dan melaporkan nilai bisnis.

Untuk mewujudkan visi ini, bagian keuangan harus mentransformasi cara mereka beroperasi. Pelaporan dengan dokumen manual sudah ketinggalan zaman. Jika nilai aset harus diukur secara akurat, korespondensi antara bagian keuangan dan manajer bisnis sebaiknya dilakukan seminimum mungkin, karena itu hanya akan membuang waktu dan memberikan celah untuk kesalahan. Bagian keuangan membutuhkan sistem yang bisa menyediakan alur kerja yang efisien dan keamanan tinggi (untuk memastikan mereka yang punya akses ke data sensitif bisa melihatnya), selagi menjamin bahwa data itu disimpan dengan benar secara otomatis. Selain itu, bagian keuangan tidak bisa bergantung pada sistem ERP saja, tapi mereka harus memperluas jaringannya ke sistem lini bisnis lain dan ke sistem prediktif yang rumit yang berada di kolam data besar, atau big data.

Sistem enterprise performance management (EPM) perusahaan yang modern dan berbasis cloud cocok untuk kebutuhan ini. Sistem EPM ini dapat secara sistematis mengkategorikan aset tak berwujud seperti “intelligence”, “pengetahuan”, dan “analitik”, kemudian menyatukannya ke dalam satu laporan. Hasilnya, bagian keuangan bisa mengukur nilai bisnis secara lebih akurat dan melaporkannya secara transparan kepada para pemegang kepentingan.

 

JASBIR SINGHProfil Penulis:

Jasbir Singh menjabat sebagai Vice President of Cloud ERP/SCM di Oracle. Ia memiliki pengalaman selama 20 tahun di lini bisnis aplikasi enterprise di berbagai industri. Sebelum bergabung ke Oracle, Jasbir bekerja di Microsoft sebagai Industry Director yang bertugas di Jepang, mendorong solusi bisnis untuk pelanggan kelas enterprise. Salah satu kekuatan Jasbir adalah pengalamannya di berbagai wilayah dan budaya, pengetahuannya yang mendalam soal penjualan serta pengembangan bisnis.

Jasbir mendapatkan gelar Master dari University College London jurusan Information Technology, dan gelar S1 di jurusan Teknik. Ia fasih berbahasa Inggris, Punjabi, Hindi, Bahasa Indonesia, dan Melayu.