Published On: Wed, May 4th, 2016

Menjamurnya Perangkat Pintar jadi Berkah dan Tantangan Indonesia dalam Menyongsong Era Ekonomi Digital

FUD (Fear, Uncertainty, and Doubt) atau ketakutan, ketidakpastian, serta keraguan pasti akan selalu mengiringi setiap merebaknya adopsi dari suatu teknologi dan tren baru secara masal. Menjamurnya adopsi perangkat pintar dan internet segalanya (IoT) mendorong perkembangan positif ekonomi digital di Indonesia. Pemerintah bahkan telah memiliki target besar ingin diraih dalam beberapa tahun ke depan (2020) – menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan ekonomi digital terbesar di wilayah Asia Pasifik.

 

Dalam perjalanan Indonesia menyongsong ekonomi digital, melihat dari kacamata keamanan siber, para pelaku industri dan juga masyarakat akan menghadapi kondisi yang semakin menantang dari waktu-ke-waktu. Salah satu penyebabnya adalah dunia yang menjadi semakin “pintar”.

 

Dunia saat ini menjadi semakin pintar berkat meningkatnya adopsi perangkat pintar dan internet segalanya (IoT) sehingga berbagai sistem semakin ter-interkoneksi antara satu dengan lainnya – seperti sistem finansial digital yang semakin terhubung dengan berbagai sistem seperti commerce dan transportasi sebagai contoh.

 

Kondisi di atas sebenarnya dapat dilihat sebagai dua mata pisau yang sama tajam. Di satu sisi, hal ini memberikan dorongan yang positif terhadap perkembangan dunia digital karena memungkinkan lebih banyak orang mengakses semakin banyak layanan yang tersedia melalui perangkat-perangkat tersebut, serta memungkinkan terjadinya aktivitas ekonomi secara digital.

 

Namun jika melihat dari sisi keamanan, melesatnya tingkat adopsi berbagai perangkat pintar justru meningkatkan risiko keamanan bagi organisasi (pemerintah dan bisnis), penyedia layanan, hingga masyarakat umum (pengguna) yang melakukan aktivitas digital tersebut.

 

Dari kacamata penjahat siber, dunia yang semakin ‘pintar’ ini memberikan mereka kesempatan yang lebih besar untuk melancarkan aksinya. Pasalnya, menjamurnya berbagai perangkat pintar & internet segalanya / IOT (Internet of Things), serta sistem yang semakin ter-interkoneksi antar satu hal dengan lainnya, membuat mereka memiliki lebih banyak kanal yang dapat dimanfaatkan untuk mengeksploitasi dan menjebak korban mereka.

 

Bahkan, dalam beberapa kasus, berbagai perangkat pintar ini dimanfaatkan untuk melancarkan serangan terhadap suatu organisasi. Hal ini sempat terjadi di penghujung tahun 2015. Pada waktu itu, 13 core internet server dunia menjadi target serangan DDoS tidak lagi berasal satu sumber serangan. Selama serangan yang terjadi dalam kurun waktu dua hari tersebut, serangan DDoS mencapai hingga 5 juta query / permintaan data atau akses setiap detiknya – dengan total 50 miliar query selama 2 hari serangan. Jika tidak memiliki strategi keamanan yang mumpuni, jumlah ini tentunya dapat melumpuhkan server dan aktivitas di dalamnya.

 

Menelisik lebih dalam, salah satu alasan mengapa kedua hal tersebut terjadi karena penjahat siber menargetkan aplikasi. Mereka sadar bahwa perkembangan teknologi, dan penerapan berbagai platform (cloud, on-premise, hybrid) justru membuat sistem IT perusahaan menjadi lebih rumit sehingga menciptakan celah-celah keamanan baru. Karena itu, keamanan aplikasi menjadi hal krusial yang perlu diperhatikan oleh organisasi pemerintah dan bisnis, hingga para penyedia layanan untuk memastikan bahwa keamanan dapat senantiasa terjaga. Mereka memerlukan sistem keamanan yang dapat memastikan bahwa aplikasi dikirimkan kepada pengguna atau berbagai perangkat secara aman, cepat, dan memiliki tingkat ketersediaan yang tinggi.

 

Perjalanan dalam menyongsong ekonomi digital tentu akan menantang. Berbagai macam teknologi, perangkat, pengguna, dan sistem yang terlibat di dalamnya membuat sistem IT menjadi semakin rumit dan dapat meningkatkan risiko keamanan. Aplikasi berperan semakin penting di dalam proses ini. Karena aplikasi-lah adalah hal yang memungkinkan terjadinya komunikasi antar sistem dan pengiriman layanan kepada pengguna. Karena itu organisasi perlu memastikan bahwa aplikasi yang mereka kirimkan ke berbagai perangkat dan sistem harus aman, cepat, dan selalu tersedia.

 

                                                                                                           

 

 

 

Fetra SyahbanaTentang Penulis

Fetra Syahbana adalah Country Manager F5 di Indonesia. Dia bertanggung jawab untuk mengelola serta mengembangkan pasar di Indonesia secara keseluruhan, dan memegang peranan penting untuk menjadikan F5 sebagai mitra strategis bagi seluruh pelanggannya.