Published On: Thu, Dec 3rd, 2015

Menjawab Tantangan Tren Teknologi Bisnis 2016 di Asia Pasifik dan Indonesia

Kuna_Standing– Di industri saat ini, aplikasi menjadi semakin penting dan masif
dimanfaatkan sebagai penggerak roda bisnis –

Sepanjang tahun 2015, kita telah menyaksikan bagaimana komputasi cloud dalam infrastruktur IT perusahaan masih menjadi topik perbincangan terhangat dalam lingkungan bisnis di Asia Pasifik. Hal tersebut didasari oleh semakin banyaknya bisnis di Asia Pasifik yang merasakan pentingnya komputasi cloud dalam strategi bisnis. Tren tersebut akan terus berlanjut dan berkembang di tahun 2016 mendatang, seperti yang terungkap dalam sebuah survei yang melibatkan 3.266 responden dari pembuat keputusan dalam bidang IT di berbagai penjuru Asia Pasifik.

Survei tersebut mengungkap bahwa tren teknologi yang memiliki peran penting dalam menyusun strategi bisnis untuk dua hingga lima tahun ke depan antara lain mobile applications, private cloud, big data analytics, internet of things, software as a service/SaaS, dan public cloud services/IaaS. Namun, responden survei melihat bahwa mobile applications dan big data analytics adalah dua tren yang paling berpengaruh terhadap strategi bisnis.

Hal ini mengungkapkan bahwa bisnis di Asia Pasifik – termasuk Indonesia – kini mulai mengarah pada penerapan layanan atau aplikasi penunjang bisnis secara multiplatform (on-premise, cloud, dan hybrid), mengingat platform on-premise kini sudah tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar yang serba cepat. Belum lagi dengan tren BYOD (Bring Your Own Device) yang semakin merebak dalam perusahaan beberapa tahun terakhir, sehingga menyebabkan peningkatan tren perusahaan di Asia Pasifik untuk memanfaatkan kelebihan ekosistem hybrid IT dalam penyediaan cloud.

Penerapan multiplatform tersebut dilakukan dalam rangka menjawab segala tantangan yang disebut di atas. Namun, di sisi lain, bisnis tak lagi memiliki wewenang penuh untuk mengontrolnya. Ini yang menjadi kemasygulan bagi bisnis, karena kendali penuh berada di tangan penyedia layanan cloud. Selain itu, bisnis tentu tidak dapat mengontrol dari perangkat apa sajakah layanan atau aplikasi tersebut dapat diakses. Lantas, apa yang bisa dikontrol oleh bisnis? Kontrol yang dimiliki bisnis hanya untuk memastikan layanan atau aplikasi selalu tersedia dengan kinerja tinggi, aman, serta selalu tersedia kapan saja dan di mana saja, terlepas dari apapun perangkat yang digunakan. Di sinilah peran application service, yang disertakan ke dalam setiap layanan atau aplikasi, amat diperlukan.

Application service sendiri merupakan serangkaian teknologi atau layanan yang meningkatkan ketersediaan, keamanan, dan akselerasi untuk aplikasi. Namun, perlu dicatat bahwa application service sejatinya bukanlah aplikasi itu sendiri. Akan tetapi merupakan sebuah teknologi atau layanan untuk lingkungan dimana aplikasi itu diterapkan. Application service bisa terdiri dari berbagai macam fungsi, dari mulai teknologi load balancing tradisional – dimana F5 dikenal untuk hal ini, hingga teknologi pengiriman aplikasi yang lebih canggih. Teknologi yang dimaksud termasuk aplikasi keamanan, mobilitas, ketersediaan, performa dan akses, serta manajemen identitas – teknologi yang sudah dikuasai F5.

Di industri saat ini, peran application service menjadi semakin penting mengingat masifnya dan pentingnya pemanfaatan aplikasi sebagai penggerak roda bisnis. Apalagi, perusahaan kini lebih memilih untuk mengembangkan sendiri aplikasi, alih-alih membelinya dari pihak ketiga. Bahkan faktanya, Gartner memprediksi bahwa di 2020, 75% pembelian aplikasi yang mendukung bisnis digital akan dibuat, bukan dibeli[1]. Lebih lanjut lagi, perusahaan juga akan mencari layanan aplikasi yang bisa diubahsuai untuk memenuhi setiap kebutuhan bisnis mereka.

Namun meskipun begitu, setiap perusahaan tentu memiliki kebijakan yang berbeda-beda terkait adopsi aplikasi dan application service. Selain itu, perusahaan tentu memiliki tingkat kematangan yang berbeda terkait hal serupa. Begitupula dengan prioritas yang diutamakan dalam hal mengadopsi application service ke dalam aplikasi. Dalam survei ‘The State of Application Delivery in APAC 2015′, disebutkan bahwa di antara perusahaan yang menggunakan application service di wilayah Asia Pasifik – termasuk di Indonesia, application service untuk keamanan menjadi prioritas utama, diikuti identitas dan akses, serta kinerja.

Sebagai tambahan, survei tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar perusahaan telah menerapkan layanan-layanan seperti SSL VPN, dimana identity federation, application access control, dan single sign-on, semuanya akan dialokasikan untuk diimplementasikan pada tahun-tahun mendatang oleh sekitar 25% perusahaan yang menjadi responden survei regional ini.

Jadi, untuk memastikan bisnis terus berjalan dan mampu menyediakan aplikasi yang berkinerja tinggi, selalu tersedia dan aman, diperlukan application service yang cukup dan tepat. Hal ini merupakan kunci bagi perusahaan untuk terus berkembang dan menjawab berbagai problematika dan tantangan yang hadir di tahun 2016 mendatang.

***

Tentang Penulis:

Kunaciilan Nallappan (Kuna) adalah Marketing Director F5 Networks di wilayah Asia Pasifik. Dia bertangung jawab untuk menggerakkan solusi marketing strategis dan berbagai program untuk meningkatkan brand awareness dan penetrasi F5 di pasar Asia Pasifik.

[1] http://www.gartner.com/newsroom/id/3119717