Published On: Thu, Jun 25th, 2015

Minimalkan Risiko Stroke dengan MRA

Share This
Tags

???????????????????????????????Jakarta, 24 Juni 2015 – Stroke adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, menggantikan posisi penyakit jantung sebagai penyebab kematian tertinggi. Analisis awal Sample Registration Survey (SRS) yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes)  Kementerian Kesehatan menunjukkan stroke menjadi penyebab kematian pertama di Indonesia sepanjang 2014. Survei kematian skala nasional ini dihitung dari 41.590 kematian sepanjang 2014.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang juga diselenggarakan oleh Balitbangkes pada tahun 2015, terjadi peningkatan prevalensi stroke dengan kriteria didiagnosis oleh tenaga kesehatan dari 8,3 per 1000 pada Riskesdas 2007 menjadi 12,1 per 1000 pada Riskesdas 2013 untuk stroke pada responden 15 tahun ke atas.

Tingginya peningkatan stroke mendorong Rumah Sakit Pondok Indah Group untuk melengkapi fasilitas kesehatannya dengan MRA (Magnetic Resonance Angiography), yang menggunakan teknologi pencitraan resolusi tinggi MRI 3T Skyra sehingga dapat memberikan gambaran struktur pembuluh darah arteri dan vena pada otak. Dengan kualitas ini, MRA dapat membantu menegakkan diagnostik yang lebih akurat dan lebih rinci sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum terjadi stroke.

Penyakit stroke adalah gangguan aliran darah ke otak yang mengakibatkan defisit neurolosis (gejala-gejala gangguan neurologi) karena aliran darah yang tidak baik ke otak. Stroke timbul secara mendadak dan gejalanya menetap selama 24 jam. Stroke terbagi menjadi dua jenis yakni stroke iskemik dan stroke perdarahan. Stroke iskemik adalah stroke yang diakibatkan sumbatan pembuluh darah otak, sedangkan stroke perdarahan adalah stroke akibat pecahnya pembuluh darah otak.

Faktor risiko stroke dibedakan menjadi dua bagian, yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi atau dijaga adalah hipertensi, jantung, diabetes mellitus, displepidemia atau gangguan lemak seperti kolesterol, trigliserida tinggi, kelebihan berat badan atau obesitas, dan kekentalan darah. Sementara faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia, riwayat keluarga, jenis kelamin dan suku bangsa. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalansi pada laki-laki lebih tinggi (7,1 per 1000) dibanding perempuan (6,8 per 1000).

Dokter Spesialis Saraf RSPI-Pondok Indah dr. Rubiana Nurhayati, Sp. S, menjelaskan, “Tanda dan gejala stroke berbeda-beda tergantung di bagian pembuluh darah mana yang terkena, seberapa besar penyumbatan aliran pembuluh darah dan perdarahan yang terjadi. Sebagai contoh, bila penyumbatan terjadi di area bicara seketika dapat menyebabkan seseorang menjadi tak bisa bicara atau berbicara pelo dan tak dapat mengatur kata-katanya. Gejala stroke lain adalah lumpuh mendadak, kepala pusing berputar-putar (vertigo), tak bisa melihat, dan mengalami mati rasa. Sering pingsan, blackout atau kehilangan kesadaran juga patut diwaspadai sebagai gejala dari stroke sumbatan.”

Kondisi berbeda-beda yang dialami setiap penderita menyulitkan seseorang untuk mengenali gejala stroke. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap gejala awal stroke membuat penderita terlambat mendapat penanganan sehingga mengakibatkan kelumpuhan dan tidak jarang berujung pada kematian. “Stroke memerlukan tindakan darurat medis (medical emergency) pada masa emasnya (golden period) yang berlangsung kurang dari enam jam setelah terjadinya gejala awal stroke. Penanganan segera diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan tetap atau kecacatan yang lebih parah yang bisa mengakibatkan kematian,” tambah dr. Rubiana.

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena stroke, deteksi dini menjadi langkah paling tepat untuk meminimalisir risiko dan sebagai tindakan pencegahan sebab langkah pengobatan bisa diambil lebih cermat sehingga peluang penyembuhan stroke juga semakin besar. “Seseorang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan MRA jika memiliki gejala seperti sakit kepala berdenyut-denyut yang sering timbul berulang-ulang di tempat yang sama, merasakan makin lama makin sakit (progressive),” lanjut dr. Rubiana.

Melalui pemeriksaan MRA, faktor risiko stroke dapat diketahui secara dini karena MRA dapat mendeteksi aterosklerosis  (penyempitan atau pengerasan pembuluh darah) sebagai salah satu penyebab stroke dan kelainan pembuluh darah seperti aneurisma atau AVM (Arteriovenous Malformation). MRA adalah pemeriksaan non-invasive yang dapat memberikan gambaran pencitraan pembuluh darah tanpa atau dengan sedikit bahan kontras dalam waktu lebih singkat. MRA juga tidak menggunakan radiasi sinar-X dan dapat memberikan diagnostik yang akurat dan informatif sehingga dapat sangat berguna untuk penanganan awal pada golden period sehingga penanganan yang tepat dan cepat akan dapat menentukan kemungkinan pasien untuk pulih. Pemeriksaan dengan MRA memungkinkan pencitra untuk pembuluh darah di bidang utama dari tubuh, termasuk otak, leher, jantung, dada, perut (seperti empedu, ginjal dan hati), panggul, lengan dan kaki.

Dokter Spesialis Radiologi Konsultan Radiologi Intervensi RSPI-Puri Indah dr. Andi Darwis, Sp. Rad (K),  memaparkan, “MRA menjadi suatu pilihan untuk menegakkan diagnostik dan mengobati kondisi medis yang berkaitan dengan pembuluh darah otak untuk penyakit stroke karena gambaran rinci dari pembuluh darah dan aliran darah ke otak diperoleh tanpa harus memasukkan kontras ke dalam pembuluh darah. Hasil MRA memberikan solusi yang cukup baik dan sangat bermanfaat untuk menghasilkan pencitraan pembuluh darah otak, lebih rinci dari yang sebelumnya tidak terlihat oleh tes diagnostik lain.”

Beberapa keunggulan MRA yaitu, 1) MRA adalah teknik pemeriksaan non-invasive yang tidak menggunakan radiasi sinar-X sehingga lebih aman untuk kebutuhan pasien tertentu, misalnya ibu hamil; 2) Prosedur itu sendiri dapat lebih cepat daripada tradisional angiogram kateter; 3) Tanpa menggunakan bahan kontras, MRA dapat memberikan gambar berkualitas tinggi dari pembuluh darah, sehingga sangat berguna untuk pasien yang rentan terhadap reaksi alergi dari bahan kontras pada uji X-ray konvensional, CTA (Computed Tomographic Angiography) dan DSA (Digital Substraction Angiography); 4) Dapat memberikan gambaran tentang pembuluh darah dengan lebih dini dan lebih informatif pada kasus stroke dan aneurisma; 5) Membantu dokter untuk mengevaluasi fungsi dan struktur pembuluh darah sebelum pasien mengalami keluhan.

Jika sudah terdeteksi, stroke dapat segera ditangani dengan melakukan beberapa tindakan medis, seperti coiling dan clipping untuk stroke perdarahan atau aneurisma. Sementara stroke sumbatan atau stenosis dapat dicegah dengan melakukan trombolisis dan/atau stenting seperti yang dilakukan pada penyakit jantung.

Chief Executive Officer Rumah Sakit Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS, mengatakan, “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan teknologi kesehatan terkini untuk memberikan kualitas terbaik bagi kesehatan dan kenyamanan pasien. Pemeriksaan MRA dengan menggunakan MRI 3T Skyra adalah salah satu bentuk komitmen kami untuk berinvestasi pada teknologi demi memberikan diagnosa yang lebih akurat dan lebih cepat bagi pasien. Rumah Sakit Pondok Indah Group akan terus menyediakan pelayanan kesehatan terdepan dalam dunia medis di Indonesia.”

 

Tentang Rumah Sakit Pondok Indah Group

Rumah Sakit Pondok Indah Group adalah group rumah sakit swasta yang mengelola dua rumah sakit di Indonesia, yakni RSPI-Pondok Indah dan RSPI-Puri Indah yang didukung para dokter ahli dan konsultan dari berbagai disiplin ilmu serta dilengkapi dengan peralatan dan perangkat medis mutakhir untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Rumah Sakit Pondok Indah Group berfokus kepada kepentingan pasien dalam memberikan layanan kesehatan prima dan senantiasa memegang prinsip Good Corporate Governance dan Good Clinical Governance yang mengedepankan Best Practice dan Service Excellence guna memuaskan pasien dan keluarganya.

Baik RSPI-Pondok Indah dan RSPI-Puri Indah telah mendapat Akreditasi Paripurna Rumah Sakit dari Komite Akreditasi Rumah Sakit, Kementerian Kesehatan RI, sedangkan RSPI-Pondok Indah telah berhasil meningkatkan sertifikasi ISO dari 9001:2000 menjadi 9001:2008 sejak tanggal 1 Oktober 2010.  RSPI-Puri Indah berhasil meraih sertifikat Akreditasi Joint Commission International (JCI), yaitu sebuah lembaga akreditasi kualitas pelayanan kesehatan bertaraf internasional yang berpusat di Amerika Serikat dan salah satu yang paling disegani di dunia. Standar JCI diimplementasikan untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan.