Published On: Thu, Nov 5th, 2015

Mobile: Masa Depan Real Estate Online?

Kian Moini_rilisianaJakarta, 5 November 2015– Mobile telah mengubah penggunaan internet, terutama di pasar negara berkembang. Data dari portal real estate global Lamudi mengungkapkan jumlah kunjungan ke platform yang berasal dari perangkat mobile mengalami pertumbuhan rata-rata 32.17 persen secara global dalam kurun waktu satu tahun (2014-2015).

Menurut Lamudi, yang baru saja merayakan hari jadinya yang kedua pada bulan lalu, wilayah operasinya di Asia mengalami pertumbuhan paling tinggi untuk kunjungan ke website dari perangkat mobile, mencatat kenaikan 45.56 persen dalam satu tahun belakangan ini..

Indonesia adalah salah satu pasar smartphone terbesar dengan lebih dari 280 juta pelanggan mobile. Managing Director Lamudi Indonesia, Mr. Steven Ghoos mengomentari: ”Penduduk yang rata-rata dalam grup usia muda, populasi yang meningkat pesat, dan perluasan kelas menengah dengan peningkatan daya beli, semua mengarah pada masa depan pertumbuhan smartphone yang positif, dan sektor real estate akan terus didorong oleh akses yang kian meluas.”

Mayoritas pengguna di Asia menggunakan perangkat berbasis Android untuk mengakses website Lamudi di Pakistan, Myanmar, Bangladesh, Indonesia, Sri Lanka dan Filipina. Lebih dari 12 bulan, penggunaan perangkat Android telah meningkat dua kali lipat; di Amerika Latin dan Afrika, Android juga menjadi sistem operasi yang populer, dibuktikan dengan pertumbuhan di tahun 2014 sebesar 63.09 persen dan tahun 2015 sebesar 53.27 persen. Secara global, sebanyak 80 persen pengguna aplikasi Lamudi kini menggunakan portal dari aplikasi Android.

Saat ini, mobile mendorong inovasi di negara-negara berkembang. Di kuartal pertama tahun 2015, data Gartner mengungkapkan wilayah-wilayah denga pertumbuhan penjualan smartphone tertinggi di seluruh dunia adalah di pasar brrkembang di Asia/Pasifik, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara, dengan merek-merek lokal muncul sebagai pemimpin di negara-negara berkembang.

Kian Moini, co-pendiri dan Managing Director Lamudi Global, mengatakan:
“Dalam dua tahun kami telah beroperasi, salah satu tren terbesar yang kami lihat adalah perubahan dari desktop ke mobile. Pasar negara berkembang telah melihat kemajuan pesat dalam perkembangan mobile; sebagai hasil, konsumen beralih menggunakan perangkat mobile, melewati fase desktop secara
bersamaan dan sebaliknya kini menggemari smartphone dan aplikasi.”

Sebagai hasil dari biaya layanan internet yang cukup tinggi di banyak negara berkembang, aplikasi menjadi semakin populer saat berkomunikasi dengan perusahaan online. Internet Society’s 2015 Global Internet Report mengungkapkan lebih dari 80 persen waktu online di ponsel dihabiskan pada
aplikasi, sebagai lawan browser.

Data dari Lamudi Myanmar, House.com mengungkapkan bahwa lalu lintas aplikasi di Myanmar hampir setinggi lalu lintas situs; negara ini merangkul mobile, sebagai akibat dari harga perangkat yang rendah, kartu SIM murah dan paket data yang terjangkau.

“Mengurangi biaya ponsel konektivitas, kartu SIM lebih terjangkau dan evolusi teknologi mobile di daerah yang kurang berkembang, mendorong penggunaan mobile. Dengan perkembangan inisiatif seperti Google Project Loon bertujuan untuk memberikan peningkatan konektivitas Internet ke daerah pedesaan termasuk negara Sri Lanka dan Indonesia, kami berharap bahwa pergeseran ke ponsel hanya akan memperkuat,” tutup Moini. (r)