Published On: Tue, Jun 21st, 2016

Norma Baru Berbisnis: Meningkatkan Keamanan Di Tengah Geliat Digitalisasi Industri Finansial

Penerapan teknologi digital secara nyata terus mentransformasi bisnis, dan salah satu industri yang terkena dampak terbesar adalah industri finansial. Dan salah satu yang menyebabkan hal tersebut adalah tingkat pengguna internet yang terus meningkat. Di Indonesia, misalnya. Pada akhir tahun 2015, pengguna internet di Indonesia mencapai 93,4 juta jiwa, meningkat jika dibandingkan dengan 88,1 juta jiwa pada 2014[1]. Hal tersebut pada akhirnya turut mengerek pengguna transaksi digital melalui platform e-commerce yang mencapai 8,7 juta orang, dengan nilai transaksi yang diprediksi akan menyentuh angka USD 26 miliar (sekitar Rp 300 triliun) di tahun 2016 ini[2].

Hal tersebut di atas menjadi bukti betapa banyak kemudahan yang ditawarkan berkat digitalisasi. Akan tetapi, layaknya dua mata sisi uang, digitalisasi juga dapat menimbulkan risiko yang lebih besar. Risiko ini didorong oleh semakin banyaknya instrumen finansial yang didigitalisasikan, sehingga menciptakan kesempatan dan celah yang lebih banyak bagi penjahat siber untuk menyerang target mereka. Dari online banking hingga transaksi point-of-sales, kini kehidupan kita semakin terhubung dan hal ini membuat risiko keamanan juga kian meningkat. Bahkan, menurut data sepertiga organisasi di wilayah Asia saat ini telah terkena dampak dari kejahatan siber setiap tahunnya. Dan, sepertiga lainnya mengatakan bahwa mereka akan terkena dampaknya dalam dua tahun mendatang[3].

Pada akhirnya hal ini memaksa perusahaan untuk menerapkan strategi keamanan siber yang mampu secara langsung menangani risiko-risiko yang mengancam bisnis mereka. Ini sejalan dengan pepatah yang mengatakan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, dan hal ini juga berlaku dalam mengamankan sistem dan data personal. Bahkan, PWC memproyeksikan bahwa hampir setengah dari bisnis-bisnis yang ada sekarang melakukan threat assessment secara rutin, dan sisanya telah aktif melakukan pengawasan ataupun analisis dengan bantuan security Intelligence[4]. Data juga  mengungkap bahwa sekitar dua pertiga (58%) organisasi memiliki strategi keamanan yang secukupnya.

Belum lagi dengan kian banyak desentralisasi perangkat yang yang menimbulkan tantangan yang lebih besar bagi perusahaan untuk mengamankannya. Tantangan juga timbul dari sisi pengguna, dimana mereka menuntut berbagai kemudahan dalam melakukan transaksi digital. Karena pada dasarnya digitalisasi adalah menawarkan kemudahan lebih kepada semua pihak. Lebih jauh lagi, pelanggan tentu menginginkan layanan dapat diakses dengan cepat, tanpa ada kewajiban untuk melakukan berbagai hal tambahan – misalnya seperti menginstal aplikasi tambahan – sebelum melakukan transaksi digital.

Karenanya, dibutuhkan perlindungan menyeluruh yang juga memungkinkan perusahaan untuk dapat memastikan bahwa setiap proses perlindungan tersebut, tidak akan menambah kerumitan baik dari sisi pengguna. Untuk itu, diperlukan solusi yang mampu melindungi aplikasi dan data yang dialirkan melaluinya – terlepas dari jenis, platform, serta tingkat keamanan dari setiap perangkat yang digunakan. Hal ini diperlukan, karena aplikasi adalah gerbang utama pengguna untuk mengakses suatu layanan. Demi meningkatkan keefektifan, solusi tersebut haruslah mampu memberikan perlindungan kepada penggunanya tanpa melibatkan mereka ke dalam prosesnya.

F5 telah bekerjasama dengan banyak organisasi di wilayah Asia Pasifik untuk membantu mengamankan bisnis mereka, mengurangi risiko fraud, phishing, hacking, malware, dan berbagai jenis serangan lainnya. Dengan produk-produk yang ditawarkan oleh F5 seperti WebSafe dan MobileSafe, keduanya dikembangkan secara khusus untuk memberikan perlindungan terhadap fraud dengan memanfaatkan enkripsi yang canggih, client-less malware detection, dan kemampuan session behavioral analysis. Solusi ini merupakan real-life threat intelligence yang didedikasikan secara khusus untuk menangani ancaman terbesar (serangan siber) bagi bisnis dan organisasi sekarang ini.

***

 

Fetra SyahbanaTentang Penulis

Fetra Syahbana adalah Country Manager F5 di Indonesia. Dia bertanggung jawab untuk mengelola serta mengembangkan pasar di Indonesia secara keseluruhan, dan memegang peranan penting untuk menjadikan F5 sebagai mitra strategis bagi seluruh pelanggannya.

 

 

 

 

[1] https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/6385/Potensi+Besar+untuk+Pemasukan+Negara/0/infografis

[2] https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/4540/Pemerintah+akan+tingkatkan+transaksi+E+commerce/0/berita_satker

[3] Global Economic Crime Survey 2016, PWC

[4] Global State of Information Survey 2015, PWC