Published On: Fri, Dec 12th, 2014

Opera Tari Gandari, Kolaborasi Seniman Lintas Negara Tampilkan Seni Kontemporer dalam Balutan Orkestra

Opera-Tari-GandariJakarta, 11 Desember 2014 – Yayasan Taut Seni didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya menyelenggarakan sebuah pentas karya kolaborasi yang melibatkan seniman-seniman ternama Indonesia, Jepang dan Eropa dalam Opera Tari Gandari, sebuah epik dari kisah Mahabharata yang digelar pada 12-13 Desember 2014 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pementasan lintas disiplin yang menggabungkan seni sastra, musik kontemporer, tari dan tata rupa ini disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin, sutradara teater kontemporer Indonesia terkemuka saat ini.

“Opera Tari Gandari ini didasarkan puisi berjudul Gandari karya penulis kenamaan Indonesia, Goenawan Mohamad. Kisah Ibu dari Kurawa ini akan terbagi dalam empat babak dan akan menampilkan musik baru karya Tony Prabowo, seorang komposer yang telah menghasilkan karya yang dipentaskan secara luas di dalam dan luar negeri. Dan untuk memberikan suatu pementasan baru, unik, dan berbeda dari yang selama ini ada, muncul ide untuk mengkolaborasikan lintas disiplin budaya dan lintas negara dengan mengajak para seniman dari Jepang dan Eropa untuk turut serta dan ternyata mendapat sambutan positif dari mereka,” ujar Yudi Ahmad Tajudin.

Menurut Tony Prabowo, ide untuk mengangkat kisah Gandari ini muncul sejak ia membaca puisi Gandari karya Goenawan Mohamad pertama kalinya awal tahun 2013. “Gandari adalah tokoh di Mahabharata yang selama ini tak banyak diangkat dan tak begitu diperhatikan oleh banyak orang, namun Goenawan Mohamad melihatnya dari sisi lain. Ia melihat Gandari sebagai seorang ibu yang setiap hari mendengar anak-anaknya, para Kurawa, kalah dalam peperangan melawan saudara-saudaranya Pandawa, dan kemudian memilih menutup matanya kepada dunia,” ujar Tony Prabowo.

Pada pementasan Opera Tari Gandari ini, Tony Prabowo khusus membuat musik baru, sebuah musik kontemporer awal abad 20 yang merupakan sebuah genre, istilah yang berasal dari musik klasik barat. “Untuk pementasan Opera Tari Gandari ini saya mengkonsep musik yang berangkat dari disiplin musik kontemporer barat yang dikonsep sedemikian rupa dengan unsur kekinian dan tentunya saya memasukkan ciri saya dengan adanya pengaruh dari musik tradisional Indonesia, seperti memasukkan elemen gong di dalam musik. Ini adalah pementasan opera tari pertama yang diiringi orkestra dengan genre ‘musik baru’,” ujar Tony Prabowo.

Pertunjukan lintas disiplin ini akan menampilkan tari garapan koreografer terkemuka Jepang, Akiko Kitamura, dengan penari-penari terbaik dari Indonesia dan Jepang. Untuk mewujudkan pementasan ini, Yayasan Taut Seni bekerjasama dengan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda Jakarta, Erasmus Huis Jakarta, Asia Center Japan Foundation, Shinshu University Japan, Goethe Institut dan didukung penuh oleh Djarum Apresiasi Budaya.

“Beragam corak budaya dapat disaksikan dalam Opera Tari Gandari yang menggabungkan seni sastra, musik kontemporer, tari dan tata rupa dalam sebuah suguhan yang indah. Pementasan ini menjadi sangat unik karena mengangkat karya sastra Indonesia dan ditampilkan para seniman tanah air yang berkolaborasi dengan seniman-seniman dari Jepang dan Eropa. Ini tidak lepas dari sosok Tony Prabowo dan Ahmad Tajudin yang berhasil mengharumkan nama bangsa melalui berbagai karya mereka ke mancanegara dan membuat bangsa lain tertarik untuk lebih mengenal budaya Indonesia. Opera Tari Gandari ini menjadi sebuah gebrakan baru dalam dunia seni pertunjukan Indonesia dan tentunya mampu membangkitkan kecintaan terhadap tanah air dan bangsa,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Puisi Gandari akan dinyanyikan oleh seorang soloist dari Belanda, Katrien Baerts, dengan para narator, yaitu Sita Nursanti dan Landung Simatupang, diiringi oleh paduan suara Batavia Madrigal Singers dari Indonesia. Sementara orkestra yang akan mendukung pentas ini adalah Asko|Schönberg – Slagwerk Den Haag dari Belanda, dengan konduktornya, Bas Wiegers.

Sementara tata panggung didisain oleh seniman rupa Indonesia ternama, Teguh Ostenrik, yang akan bekerja sama dengan seniman video Taba Sanchabakhtiar dan disainer kostum Chitra Subiyakto.

“Opera Tari Gandari ini bermula dari keinginan untuk menciptakan sebuah karya yang mengangkat kekayaan sastra Indonesia yang dipadukan dengan teknik kekinian. Pementasan ini juga merupakan bentuk kepedulian kami terhadap perkembangan seni pertunjukan di Indonesia sendiri dan bertujuan untuk mengenalkan seni kontemporer akan semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Wati Gandarum, pendiri Yayasan Taut Seni.

Opera Tari Gandari ini akan dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta pada tanggal 12-13 November 2014 pada pukul 20.00 WIB.