Published On: Fri, Jan 26th, 2018

Organda Tawarkan Solusi Konkret Bagi Pengusaha Angbar untuk Mengimbangi Tindakan Tegas Pemerintah

Share This
Tags

JAKARTA, 25 JANUARI 2018—Organda mengedepankan penggunaan desain dan teknologi otomotif untuk memberikan sebuah solusi yang berimbang terhadap kebijakan pemerintah yang menilang semua angkutan barang berlebihan muatan serta dimensi di jalan raya. Solusi desain & teknologi otomotif yang dimaksud akan meningkatkan daya angkut truk sekaligus menjaga agar tidak merusak jalan raya.

Pemerintah mengeluarkan kebijiakan tilang setelah pada pertemuan sosialisasi pengawasan angkutan barang dengan alat timbang kendaraan bermotor portabel (18/1), pihak Kementerian Perhubungan mengungkapkan bahwa dari 100% kecelakaan kendaraan yang terjadi di jalan tol, sebesar 63% disebabkan karena keterlibatan kendaraan berat. Overload berakibat kepada lambatnya laju kendaraan, sehingga waktu tempuh melonjak tinggi. Keputusan kebijakan nasional pemerintah ini memang masih terkait studi kasus kemacetan jalan tol Jakarta Cikampek, dan pemerintah bekerja sama dengan Korlantas, Jasa Marga, BPTJ, dan Organda untuk mencari solusinya.

Ketua Angkutan Barang DPP Organda, Ivan Kamadjaja mengatakan, “Organda terus memberikan usulan dan himbauan kepada pemerintah, khususnya teknologi-teknologi otomotif seperti penambahan multi axle, steering axle, airbag suspension dan single radial wider tire (ban radial tunggal).”

Ivan menambahkan, “Tugas utama kami di DPP Organda adalah memastikan bahwa ada solusi yang juga mendukung angkutan barang, karena jika salah satu tujuan kebijakan pemerintah adalah menjaga arus ekonomi, maka harus diperhatikan bahwa perusahaan truk angkutan barang anggota kami adalah roda penggerak ekonomi negara yang utama sampai detik ini.”

Organisasi yang mengayomi semua angkutan barang seluruh Indonesia pun secara resmi mengeluarkan himbauan dari DPP ke semua DPD Organda untuk mematuhi kebijakan pemerintah.

Organda pun mengungkapkan penyebab terjadinya kecelakaan—yang sering disebut disebabkan kendaraan berat—ada 3 hal:

1. Kondisi laik jalan kendaraan (yang banyak disorot adalah truk dan bus)
• Kondisi kendaraan, banyak kendaraan yang lebih dari 15 tahun yang tidak dirawat secara baik masih operasional di jalan raya
• Kendaraan berumur yang tidak dirawat berarti memiliki mesin, suku cadang, dan ban yang sudah usang
• Kendaraan tidak melakukan UJI KIR yg benar, sering terjadi ‘main mata’ antara pengusaha dengan oknum petugas
• Berlebihan muatan dan dimensi (overload over dimention) di atas batas maksimum JBI (Jumlah Berat yang Diizinkan)

2. Unsur pengemudi
• Banyak terjadi pelanggaran, pengemudi tidak memiliki sertifikasi yang sesuai, tidak memiliki SIM, tidak ada sertifikat safety driver.
• Pengemudi yang melanggar contohnya adalah ‘sopir tembak’ (kenek yg mengendarai truk)
• Kelelahan kerja—pembatasan truk menyebabkan tingginya ‘kejar target’ pengiriman barang
• Kesehatan pengemudi, mulai dari umur, kondisi mata, penyakit tertentu seperti jantung dan gula

3. Aspek prasarana jalan yang kurang memadai
• Rambu-rambu jalan yang tidak jelas dan tidak terlihat
• Penerangan jalan yang buruk, bahkan tidak ada
• Jalanan berlubang atau bergelombang

Organda berupaya maksimal mengedukasi anggotanya mengenai praktik operasional truk yang baik dan benar. Agar lalu lintas berjalan efektif dan lebih baik, di saat yang sama Organda berharap ada upaya-upaya yang dilakukan pemerintah:

1. Konsistensi penegakan hukum dalam UJI KIR, Sertifikasi, SIM, pelaksaaan jembatan timbang
2. Pembinaan pengusaha dan pengemudi untuk mengangkut barang sesuai JBI
3. Perbaikan sarana dan prasarana jalan raya
4. Mengembangkan kesadaran untuk berkendara yang aman (safety driving) melalui pemberitaan media cetak dan elektronik, serta seminar keselamatan berlalu lintas.
5. Pendidikan Pengemudi melalui sertifikasi yg diadakan sucofindo dan lembaga sertifikasi serupa