Published On: Wed, Mar 16th, 2016

Para Pemimpin dalam Application Economy Mengidentifikasi Prioritas untuk Bersaing Secara Efektif

 

ca

Ki-ka: Stephen Miles – CTO, APJ, CA Technologies dan Nick Lim – Vice President, Asia South, CA Technologies pada acara CA Technologies InfoXchange Media Briefing pada Rabu, 16 Maret 2016 di Raffles Hotel Jakarta.

Jakarta, 16 Maret 2016 – CA Technologies hari ini mengumumkan hasil studi global tentang bagaimana para pemimpin bisnis bertahan terhadapgempuran disrupsi, memimpin perubahan dan menjadi pemenang dalam era application economy. Studi yang dilakukan oleh Harvard Business Review Analytic Services dan disponsori oleh CA Technologies, mengidentifikasi berbagai tindakan khusus yang diambil atau dipertimbangkan oleh perusahaan untuk bersaing secara lebih efektif.Studi juga memberikan telaah tentang bagaimana model bisnis berubah secara radikal.

 

Stephen Miles, Chief Technology Officer, Asia Pacific & Japan, CA Technologies, mengatakan, “Kemajuan pesat dalam teknologi dan disrupsi yang menyertainya, terjadi hampir di semua industri,menjadikan saat ini waktu yang paling tepat dan menyenangkan bagi profesional teknologi informasi. Bagi merekayang mau dan mampu bergerak cepat dan gesit, memiliki peluang besar untuk melakukan perubahan bisnis secara mendasar, dan maju sebagai pemenang dalam era application economy.”

 

Nick Lim, Vice President, Asia South, CA Technologies, mengatakan, “Dalam era application economy saat ini, transformasi digital telah merambah kedalam setiap aspek bisnis. Di Asia Pasifik dan Jepang, termasuk Indonesia, organisasi semakin memanfaatkan teknologi modern dan komunikasi untuk mentransformasi satu atau lebih aspek utama dari bisnis untuk mencapai kesiapan keadaan digital. Aplikasi telah menjadi moda utama bagi konsumen untuk berhubungan dengan perusahaan.Dengan tingkat penetrasi gawai yang tinggi dan meningkatnya pengguna ponsel pintar, kawasanAPJ sangat siap untuk memanfaatkan application economy. Selain itu, jumlah generasi milenial yang besar yang tumbuh dan terbiasa dengan teknologi transformasi digital yang ada saat ini, mereka juga kedepannya akan memainkan peran pentingsebagai penggerak application economy.”

 

Disrupsi dan pentingnya perangkat lunak

Hampir setengah (44%) dari responden memperkirakan industri mereka akanmengalami disrupsi digital secara signifikan dalam tiga tahun ke depan; lebih dari seperlima (22%) mengatakan bahwa disrupsi yang signifikan telah terjadi. Sebagai catatan, lebih dari setengah (58%) memperkirakan bahwa model bisnis mereka dalam tiga tahun kedepan akan “secara radikal” berbeda dari tiga tahun lalu. Menyadari besarnya kemungkinan dan kecepatan perubahan, sekitar dua-pertiga (66%) responden memberikan pandangan bahwa masa depan perusahaan mereka tergantung pada kualitas perangkat lunak mereka.

 

Ada sejumlah penyebab disrupsi, perubahan perilaku dan harapan pelanggan adalah pendorong yang paling sering dikutip oleh peserta survei (46%).Pendorong yang paling banyak dikutip berikutnya adalah disrupsi dari pesaing baru (25%), hal ini menggarisbawahi pentingnya perusahaan untuk terus mengenali dan beradaptasi dengan tren baru agar tetap relevan.

 

Kecepatan adalah keharusan

Lebih dari setengah dari total responden (53%) mengindikasikan bahwa perusahaan mereka sudah berinvestasi atau berencana untuk berinvestasi dalam teknologi modern yang akan memungkinkan mereka untuk mengembangkan produk dan / atau layanan digital lebih cepat, gagasan ini di dukung oleh CA Technologies.

 

“Tanpa diragukan lagi, kunci untuk membangun sesuatu yang besar adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara cepat – mendengarumpan balik pelanggan dan melakukan perbaikan secara terus-menerus,” kata Miles. “Tanpa pengembangan yang berkelanjutan, tidak peduli seberapa baik versi Anda. Itulah semua gagasan di balik pengiriman berkelanjutan dan filosofi manajemen cepat yang kami dukung bagi pelanggan kami.”

 

Para pemimpin industri, yaitu mereka yang menggambarkan diri mereka sebagai praktisi terdepan dalam manajemen cepat, memiliki keuntungan lebih besar dalam hubungannya dengan kecepatan.Lebih dari dua pertiga (68%) dari para pemimpinmengatakan mereka mahir mengembangkan kemampuan teknologi baru dengan cepat. Kelompok yang sama ini percaya bahwa penawaran digital mereka berada di depan para pesaing, dan sepertiga dari mereka (33%) mengatakan bahwa 50% dari total penghasilan mereja berasal dari digital.

 

Prioritas investasi bisnis digital

Tindakan penting selanjutnya yang dilakukan atau dipertimbangkan oleh para responden (42%) adalah memperbaikin proses bisnis guna menghadapi pelanggan, dengan fokus khusus pada digital-first. Lebih dalam mengenai prioritas-prioritas, para responden sangat tertarik dalam menciptakan pengalaman digital terbaik bagi pelanggan (42%), mentransformasi operasionaldan proses bisnis inti (34%) dan transformasi proses kepegawaian (31%). Menariknya, investasi dalam produk dan layanan digital baru dikutip oleh hanya 24% responden sebagai prioritas investasi.

 

Risiko Dunia Maya

Hampir setengah dari responden (45%) mengatakan bahwa saat bisnis mereka menjadi lebih digital, mereka sangat prihatin tentang risiko keamanan, termasuk potensi peretasan data, masalah kepatuhan, dan litigasi. Hampir setengah (49%) percaya bahwa peralatan teknologi yang lebih baik harus dikembangkan di seluruh industri untuk meningkatkan keamanan dunia maya, sementara hanya sepertiga responden (35%) percaya bahwa perusahaan mereka harus berinvestasi untuk mengembangkan infrastruktur teknologi yang lebih aman bagi organisasi mereka.Investasi semacam itu lebih mudah mendapat persetujuan apabila direktur utama dan dewan direksi telah lebih memahami ancaman dunia maya yang dihadapi organisasi mereka.

 

Metodologi Survei

Survei global 250 eksekutif senior TI dan bisnis disponsori oleh CA Technologies dan dilakukan oleh Harvard Business Review Analytics Services pada bulan Oktober 2015. Untuk metodologi survey yang lebih detil, dapat dilihat di “Surviving Disruption, Leading Change; Winning in the Application Economy”.