Published On: Mon, May 22nd, 2017

Peluncuran Buku “Mata, Cinta dan Terang Semesta: Perjalanan dr. Vidyapati Mangunkusumo, SpM dalam Ikhtiar Mengurangi Kebutaan di Indonesia”

Share This
Tags

Jakarta, 20 Mei 2017 – Bertepatan dengan pelaksanaan bakti katarakoleh JEC, hari ini juga dilakukan peluncuran buku biografi dan perjalanan profesi dr.  Vidyapati Mangunkusumo, SpM (k) berjudul Mata, Cinta dan Terang Semesta: Perjalanan dr. Vidyapati Mangunkusumo, SpM dalam ikhtiar mengurangi kebutaan di Indonesia, yang berlangsung di Auditorium JEC @ Kedoya.

“Melalui buku ini saya ingin lebih mengenalkan profesi dokter spesialis mata kepada masyarakat dengan segala suka dukanya,” kata dr. Vidyapati Mangunkusumo, SpM(k). “Buku ini juga menjadi ungkapan syukur dan terima kasih saya kepada keluarga, teman dan sahabat yang selama ini mendukung profesi dan pelayanan saya dalam kesehatan mata di Indonesia.”

Dalam buku ini penulis mengungkapkan bagaimana dr. Vidya memulai pilihannya menjadi seorang dokter spesialis mata dan menjalani hari-harinya menekuni profesi tersebut. Rasa cinta terhadap profesinya, keinginan untuk selalu belajar dan kesetiaan untuk terus berproses, serta upaya untuk terus memperbarui keahliannya dengan dukungan teknologi saat ini, mengantar dr. Vidya mencapai keberhasilan sebagai salah satu dokter spesialis mata yang mumpuni. Perjalanan profesi dr. Vidya semakin diperkaya dengan keterlibatannya untuk turut menurunkan angka buta katarak di Indonesia – yang tertinggi di Asia, antara lain dengan terjun langsung dalam kegiatan bakti sosial di berbagai lokasi di Indonesia. Bahkan dr. Vidya juga turut berperan dalam pendirian Balai Kesehatan Mata Darma Usada Netra, yang berlokasi di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat; – dimana lebih dari 1.100 pasien telah menjalani operasi katarak gratis sejak berdiri tahun 2006.

“Merupakan suatu kebanggaan bagi JEC memiliki dr. Vidyapati dalam jajaran dokter spesialis mata,” kata dr. Johan A. Hutauruk, SpM (k), Presiden Direktur JEC Korporat. “Kami berharap kecintaan dr. Vidya terhadap profesi dan konsistensinya dalam menjalankan tugas, serta berbagai pengalaman yang tertuang dalam buku ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.”

Katarak atau kekeruhan lensa mata masih menjadi salah satu penyebab kebutaan terbanyak di dunia. Angka kebutaan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia dan 53% dari jumlah tersebut disebabkan oleh katarak.  Tingginya jumlah buta katarak semakin meningkat karena adanya fenomena backlog – yaitu terjadinya penumpukan kasus katarak antara kasus-kasus lama dan penambahan kasus-kasus baru.  Setiap tahun diperkirakan bertambah sekitar 240 ribu penderita katarak baru!

Bersamaan dengan peluncuran buku biografi dr. Vidyapati Mangunkusumo, SpM (k), JEC juga menggelar bakti katarak – operasi katarak gratis kepada masyarakat yang membutuhkan penanganan operasi katarak. Sekitar 50 penderita katarak dari beberapa lokasi di Jakarta mendapatkan layanan operasi  yang ditangani langsung oleh tim dokter spesialis katarak. Kegiatan Bakti Katarak JEC telah menjadi agenda rutin dan merupakan wujud komitmen JEC dalam mendukung visi pemerintah dalam mewujudkan Indonesia bebas buta katarak. Dalam pelaksanaannya, JEC bermitra dengan Gerakan Matahati, Korporasi dan LSM lainnya.

 

Sebagai RS Mata yang telah mendapatkan standar Joint Commission International (JCI) dari AS, tentunya JEC menerapkan layanan kesehatan mata berstandar internasional dalam setiap pelaksanaan tindakan operasi – mulai dari tahap pra, intra hingga pasca operasi. Juga dengan dukungan sumber daya manusia, seperti tim dokter dan perawat yang kompeten di bidangnya; serta fasilitas dan peralatan yang memenuhi standar steril dan higienitas, dan pemanfaatan teknologi terkini.

“Standar pelayanan internasional ini juga berlaku dalam pelaksanaan Bakti Katarak hari ini, termasuk penerapan teknologi terkini dalam prosedur operasi, yang menjamin kenyamanan dan keamanan pada pasien dan proses pemulihan pasca operasi yang lebih singkat,” tambah dr. Nashrul Ihsan, SpM, Ketua Panitia Bakti Katarak.

 

# # #

 

Tentang JEC

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun sejak berdiri pada 1984, JEC telah berhasil menjadi pusat layanan kesehatan mata paling modern dan terbesar di Indonesia. JEC sebagai pionir rumah sakit mata di Indonesia diperkuat 39 dokter subspesialis dengan pengalaman dan pengetahuan dalam bidang kesehatan mata modern; juga memiliki fasilitas layanan medik dan non medik terkini termasuk: Cataract & Refractive Surgery Service (LASIK, ReLEX SMILE & Transplantasi Kornea), Vitreoretina Service, Glaucoma Service, Contact Lens Service, Oculoplasty Service, Children Eye Care and Squint Clinic dan Low Vision Care.

 

Kiprah JEC dalam memberikan layanannya diakui dalam berbagai bentuk penghargaan prestasi, antara lain: Akreditasi dari Joint Commission International yang diraih oleh JEC @Kedoya (2014),  penobatan “JEC LASIK Center” sebagai Pionir LASIK pertama di Indonesia oleh MURI (2007), Akreditasi Penuh Tingkat Paripurna dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta pemberian penghargaan “Indonesia Healthcare Most Reputable Brand 2014 dan 2015” untuk Kategori rumah sakit mata di Jabodetabek dan 7 kota besar di Indonesia dari Majalah SWA dan pemenang The best Corporate Image 2015 – 2016. JEC menjadi pelopor dalam pembentukan ASEAN Association of Eye Hospital (AAEH) – dan kini menjadi anggota aktifnya, di samping berperan dalam World Association of Eye Hospital. JEC hingga saat ini telah memiliki 3 rumah sakit mata yang tersebar di beberapa kota besar, yaitu JEC @ Menteng, JEC @ Kedoya dan JEC @ Cibubur. Informasi selengkapnya silakan kunjungi www.jec.co.id