Published On: Wed, Sep 28th, 2016

Pendekatan ‘Lift and Shift’ Merupakan Kunci Kesuksesan Migrasi ke Cloud

Tiap perusahaan yang melakukan migrasi aplikasi ke cloud, tentu ingin memperoleh berbagai keuntungan yang ditawarkannya. Akan tetapi, migrasi tersebut bisa jadi merepotkan bagi perusahaan. Ditambah lagi dengan sebuah studi[1] yang menyebutkan bahwa ada sebuah paradigma dimana profesional  IT menentang cloud dengan menjadikan keamanan dan kontrol aplikasi sebagai alasan utama.

 

Guna menjawab tantangan tersebut, bisnis kini menempuh pendekatan ‘lift and shift’ dalam migrasi aplikasi ke cloud. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk memindahkan aplikasi yang telah ada pada on-premise untuk ditempatkan di cloud. Alasannya karena pendekatan ini dinilai lebih mudah ketimbang pendekatan lain yang mewajibkan perusahaan untuk melakukan penyesuaian lebih lanjut pada aplikasi, khususnya dari segi kinerja dan keamanan, sebelum ditempatkan di cloud.

 

Pendekatan ‘lift and shift’ memang lebih ekonomis ketimbang pendekatan lainnya. Namun, dengan catatan tak hanya aplikasi saja yang dilakukan ‘lift and shift’, namun juga arsitektur pendukungnya. Karena, ketika aplikasi yang telah dioptimalisasi – dengan memanfaatkan berbagai app services yang ditempatkan pada jaringan selama bertahun-tahun ke cloud – dipindahkan ke cloud, maka optimalisasi tersebut akan hilang. Perhatian pada keamanan juga tidak serta merta menghilang seraya bisnis melakukan ‘lift and shift’ aplikasi menuju cloud. Karena, apabila aplikasi memiliki kerentanan di data center, maka hal serupa juga tetap membayangi tatkala aplikasi dipindahkan ke cloud[2].

 

Belum lagi muncul salah kaprah yang menyebutkan bahwa cloud menyediakan dorongan kinerja yang lebih besar, hanya karena secara fisik cloud lebih dekat dengan backbone internet dan pengguna yang berinteraksi dengannya. Ini memang benar, namun tidak sepenuhnya. Perlu diperhatikan bahwa kinerja sebuah aplikasi tidak ditentukan oleh latency dari jaringan. Yang tepat adalah, penyebab menurunnya kinerja aplikasi disebabkan oleh komposisi dan ukuran konten, buruknya pengelolaan koneksi, serta ketidakmampuan untuk mengubah sesuai susunan jaringan secara baik untuk disesuaikan dengan kebutuhan spesifik dari aplikasi.

 

Oleh karenanya, penting bagi bisnis untuk turut serta melakukan ‘lift and shift’ pada arsitektur. Dan guna mendukung hal tersebut, bisnis juga mulai memanfaatkan opsi co-located cloud. Hal ini disebabkan karena perusahaan terkadang ingin memindahkan sumber data untuk lebih dekat dengan aplikasi yang diterapkan pada cloud guna mencegah terjadinya latency yang dapat menurunkan kinerja aplikasi. Selain itu, perusahaan juga menginginkan kemampuan untuk meningkatkan kinerja front end (aplikasi) tanpa mengacaukan back end. Dan co-located cloud memungkinkan hal tersebut karena cloud terletak pada data center kelas interkoneksi yang sangat cepat.

 

Namun, terlepas dari jenis cloud yang dimanfaatkan, baik public atau co-located, kunci untuk melakukan ‘lift and shift’ pada cloud adalah dengan melakukan hal serupa pada arsitektur. Dan penting bagi perusahaan untuk tetap mempertahankan app service yang paling krusial dengan aplikasi selama proses migrasi dilakukan guna menjamin kinerja dan keamanan aplikasi tidak terpengaruh selama proses migrasi. Sehingga, dengan demikian perusahaan dapat menikmati berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh cloud demi terus meningkatkan layanannya

 

***

f5-andre-iswantoTentang Penulis

Andre Iswanto adalah Manager Field System Engineer di F5 Networks Indonesia. Ia bertangung jawab dalam menangani penjualan, membuat perencanaan strategis untuk materi teknis maupun non-teknis, memberikan solusi arsitektur dan keamanan untuk keseluruhan sistem IT, serta memfasilitasi pelatihan dan kerja sama dengan mitra-mitra F5.

[1] http://www.cloudvelox.com/wp-content/uploads/Disaster-Recovery-Survey-July-2015.pdf

[2] Juga merujuk pada Hukum Hoff yang – meskipun benar-benar hukum – tetap sama akuratnya seperti pertama dilakukan pada tahun 2009 silam