Published On: Wed, Jul 27th, 2016

Peran Vital Skalabilitas Infrastruktur dalam Bisnis, Berkaca dari Kesuksesan Pokémon Go

Pokemon-GoPokémon Go berhasil mereguk kesuksesan dalam waktu singkat. Jutaan orang langsung mengunduh game berbasis teknologi geo-tagging dan Augmented Reality tersebut bahkan sejak hari pertama diperkenalkan[1]. Menilik hal tersebut, ada pembelajaran yang seharusnya dapat dimanfaatkan bisnis dalam menyiapkan layanan untuk pelanggannya. Jangan sampai layanan mengalami gangguan pada akses, atau bahkan tidak dapat diakses sama sekali, yang pada akhirnya mengganggu pengalaman pelanggan.

Mengambil contoh dari Pokémon Go, tentu Anda pernah mengalami – atau setidaknya mendengar – bagaimana akses menuju game sempat terhambat. Akibatnya pun cukup pelik, karena mengganggu keasyikan saat menangkap Pokémon, yang pada akhirnya mengurangi pengalaman pengguna. Hal tersebut, bisa saja terjadi karena kurangnya kapasitas, atau mungkin saja terjadi karena aplikasi dan/atau infrastrukturnya tidak dibangun untuk memiliki skalabilitas dan dapat diubahsuai. Ini mirip akan istilah “Build to Fail” yang prominen di kalangan DevOps (development & operations) dan cloud. Premis dari istilah Build to Fail sendiri adalah kesengajaan pengembang dalam menciptakan aplikasi dan infrastruktur yang gagal, untuk kemudian dijadikan pembelajaran demi meminimalisir terjadinya downtime akibat kapasitas hingga kinerja, serta gangguan pada aplikasi dan infrastruktur.

Namun, seiring dengan kemajuan teknologi dan didukung dengan kehadiran cloud, tak hanya Build to Fail yang perlu dilakukan Bisnis. Ada keharusan untuk melakukan “Build to Scale” yang berarti aplikasi dan/atau infrastruktur pendukungnya dibangun agar skalabel dan fleksibel demi kemudahan pengubahsuaian sesuai dengan kebutuhan di masa yang akan datang, dan dalam kasus Pokémon Go, kebutuhan dalam waktu yang singkat.

Akan tetapi untuk membangun aplikasi dan infrastruktur yang Build to Scale, bisnis kini dihadapkan dengan tantangan skalabilitas. Ada dua penyebab utama dari tantangan skalabilitas, yakni yang berhubungan dengan data source dan infrastruktur. Dimana untuk mengatasi tantangan yang disebabkan data source, perlu dilakukan pemecahan database yang berukuran sangat besar menjadi bagian-bagian kecil yang mudah untuk dikelola. Teknik ini bahkan telah diadopsi oleh hampir semua perusahaan karena dapat diterapkan pada database, layanan kinerja, dan aplikasi.

Sedangkan untuk menanggulangi tantangan skalabilitas akibat infrastruktur, diperlukan berbagai komponen pendukung seperti layanan load balancing, APIs dan script, otomasi, serta orkestrasi. Kesemuanya perlu diterapkan dalam infrastruktur, bahkan sebelum dibutuhkan. Sehingga ketika diperlukan – seperti dalam kasus Pokémon Go – aplikasi dan infrastruktur langsung skalabel sesuai dengan kebutuhan. Khusus load balancing, layanan tersebut amatlah penting untuk diterapkan di dalam berbagai arsitektur aplikasi. Tak hanya dapat menyediakan layanan load balancing yang diperlukan dalam “Build to Fail”, namun juga mendukung kebutuhan “Build to Scale”.

Kesuksesan Pokémon Go dalam waktu yang sangat singkat dapat dijadikan contoh bahwa bisnis perlu mempertimbangkan untuk melakukan Build to Fail dan Build to Scale secara bersamaan. Sehingga, bisnis dapat terus menghasilkan inovasi yang dapat menangani berbagai tantangan IT, demi meraih kesuksesan yang berkesinambungan. Dan terpenting, dapat terus menyediakan layanan yang terbaik bagi pelanggan kapan saja, di mana saja, dan dari perangkat apa saja.

***

 

f5-andre-iswantoTentang Penulis

 

Andre Iswanto adalah Senior Field System Engineer di F5 Networks Indonesia. Ia bertangung jawab dalam menangani penjualan, membuat perencanaan strategis untuk materi teknis maupun non-teknis, memberikan solusi arsitektur dan keamanan untuk keseluruhan sistem IT, serta memfasilitasi pelatihan dan kerja sama dengan mitra-mitra F5.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Pok%C3%A9mon_Go