Published On: Tue, Nov 14th, 2017

Polimer Lestari dan LAPI ITB Buka Pandangan Baru Generasi Millenial Tentang Polistirena

Share This
Tags

Bandung, 13 November 2017 – Seiring dengan kemajuan teknologi, kemudahan kini menjadi tuntunan dan kebutuhan dalam kehidupan manusia saat ini. Melalui lahirnya inovasi, kita harus meninggalkan pemikiran lama untuk kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan (sustainability) lingkungan. Pada kuliah umum bertemakan Styrofoam dalam Kehidupan Seharihari dan Pendayagunaan Sampah Polistirena, Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D. Tenaga Ahli dari Lembaga Afiliasi Perguruan Tinggi dan Industri (LAPI) ITB membagikan pandangan baru tentang polistirena (biasa dikenal dengan Styrofoam) baik dalam penggunaan maupun pendayagunaan sampahnya.

Pada kuliah umum yang dilaksanakan di Gedung Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Ahmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D, sebagai dosen dari Program Studi Teknik Kimia ITB dan Budi Sadiman, Business Development dari Indonesian Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) memaparkan fakta-fakta yang selama ini tidak diketahui secara luas oleh masyarakat pada umumnya tentang bahan yang terbuat dari monomer stirena. Kuliah umum ini dihadiri oleh lebih dari seratusan mahasiswa ITB dari berbagai jurusan dan displin ilmu.

Polistirena (yang sering disebut Styrofoam) merupakan bahan utama dari berbagai produk yang sudah sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain kemasan makanan dan pembungkus elektronik. Penggunaan kemasan makanan dari polistirena ini menjadi kontroversi ketika banyak orang percaya bahwa bahan utama yang secara ilmiah dikenal dengan stirena tidak aman untuk kesehatan dan memberi dampak buruk bagi tubuh manusia. Stirena sendiri adalah zat kimia yang terdapat dalam makanan pokok yang biasa dikonsumsi seperti stroberi, kopi, dan kacang. “Jumlah stirena yang ada dalam kemasan makanan yang terbuat dari polistirena adalah 0 – 39 ppm (part per million). Jumlah ini sama dengan yang terkandung dalam kayu manis, daging sapi, biji kopi, stroberi, kacang dan tepung yang kita konsumsi langsung sehari-hari,” terang Zainal.

Kemasan makanan dari polistirena banyak digunakan oleh pedagang makanan di pinggir jalan. Kemasan ini tidak hanya dapat menahan panas dan dinginnya makanan, menjaga higienitas, tetapi juga kemasan ini lebih murah dibandingkan dengan pembungkus makanan lainnya. Namun, para aktivis lingkungan aktif meneriakkan soal produk ramah lingkungan dan meminta bahan ini diganti dengan bahan lain, seperti kemasan berbahan dasar kertas. Walau pada faktanya, kertas yang kelihatan lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan ternyata justru
sebaliknya. “Kertas, yang sering dipakai sebagai substitusi kemasan makanan dari polistirena memberi kesan lebih ramah lingkungan. Namun pada faktanya, kemasan berbahan dasar kertas memberi dampak buruk yang lebih besar terhadap lingkungan. Bukan hanya soal banyaknya pohon yang ditebang, melainkan juga kertas pembungkus makanan tersebut pada hakikatnya berlapis plastik yang membuatnya susah untuk didaur ulang,” terang Budi Sadiman.

“Ramah lingkungan itu bukan lagi persoalan mana yang terurai lebih cepat oleh alam, tetapi mana yang siklus atau daur hidupnya lebih ramah lingkungan, mulai dari bahan baku, cara produksi, penggunaan produknya, sampai pendaur-ulangan sampahnya adalah yang paling sedikit memakan energi, tidak menimbulkan pemanasan global, dan sumber daya alam yang dipakai tidak berlebihan” kata Zainal. Ia juga menambahkan bahwa kemasan makanan polistirena terdiri dari 10% stirena dan 90% udara yang membuatnya menjadi kemasan plastik paling murah. “Sebenarnya, polistirena adalah material organik. Ia terbentuk dari karbon dan hidrogen. Sebuah material kita definisikan organik jika terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen.”

Ahmad Ilham Ali Yafi, mahasiswa jurusan Teknik Kimia ITB, yang menjadi salah satu peserta dalam kuliah umum ini mengungkapkan pendapatnya setelah mengikuti kuliah yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam ini. “Kuliah umum seperti ini membuka paradigma baru dan pemikiran tentang polistirena selama ini. Ternyata dilihat secara keseluruhan, sangat ramah lingkungan, limbah dari polistirena ini bisa juga dipecah kembali jadi monomer dan dibuat kembali jadi produk. Harganya juga sangat murah dan membantu pedagang pinggir jalan. Pernyataan dari pemerintah lokal yang melarang tentang Styrofoam ini menurut saya perlu dikaji lebih lanjut.”

Kemasan yang murah bukan hanya menolong para pedagang kaki lima, tetapi juga konsumen. Jika para pedagang harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk kemasan, maka mereka akan membebankan pengeluaran tersebut kepada konsumen, agar keuntungan mereka tidak berubah. Hal ini akan berdampak pada harga makanan yang semakin tinggi, dan akan menyusahkan masyarakat kelas bawah. Seandainya kita mengganti kemasan menjadi berbahan dasar kertas, maka harga makanan akan meningkat Rp2.000 – Rp5.000. Hal ini juga akan mempengaruhi angka penjualan, karena konsumen akan ragu membeli makanan kali lima yang mahal.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Nadia, mahasiswi jurusan Desain Produk ITB tingkat akhir ini mengaku terkesan dengan kuliah umum yang ia ikuti karena memberinya pandangan baru yang ilmiah tentang kemasan makanan polistirena. “Sebelumnya, saya percaya bahwa polistirena tidak baik buat kesehatan karena orang-orang bilang begitu, tapi setelah ikut kelas ini, saya jadi tahu bahwa ternyata tidak berbahaya seperti apa yang dikatakan orang-orang. Hal ini berdasarkan data ilmiah dan fakta yang disajikan tadi. Sehabis ini, saya akan bagikan informasi ini ke teman-teman saya melalui social media, supaya semua bisa tahu fakta ini dan tidak salah kaprah lagi.”
***

Tentang Polimer Lestari
Polimer Lestari adalah organisasi yang bergerak di bidang konsultasi, penelitian, dan pengaplikasian teknologi dalam pemanfaatan kembali polimer secara ramah lingkungan. Berpusat di Bandung, saat ini Polimer Lestari tengah mengembangkan konsep pengelolaan sampah terintegrasi berbasis komunitas untuk mengatasi masalah sampah, meringankan biaya pengelolaan sampah, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan industry, yakni Managemen Sampah Zero (MASARO). Di tahun 2017, konsep ini tengah dikembangkan di wilayah Tinumpuk, Indramayu; Babakan, Cirebon; dan Kota Pekanbaru.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>