Published On: Mon, Feb 15th, 2016

Real Estate di Asia yang Masih Belum Dimanfaatkan sebagai Hotspot Berinvestasi

 

surabayaJakarta, 15 Februari 2016-  Jika Anda berpikir untuk investasi properti di Asia dan nama-nama seperti Hong Kong, Singapura dan Tiongkok mungkin akan muncul di benak Anda. Namun, dengan perlambatan di Tiongkok yang mempengaruhi pasar real estate di negara itu, investor kini mencari lokasi lain untuk mendapatkan kesempatan besar berikutnya di bidang properti.

 

Dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan pasar properti yang matang, Asia yang sedang berkembang menawarkan berbagai macam keuntungan bagi investor real estate yang cerdik. Portal real estate global Lamudi minggu ini merilis sebuah panduan untuk hotspot properti mana saja yang belum dimanfaatkan untuk tahun 2016.

 

 

 

Boracay, Filipina

 Bisa dibilang ini adalah destinasi pantai paling terkenal di Filipina, Pulau Boracay kini menjadi hotspot investasi residensial yang sedang berkembang. Dengan sebuah bandara baru yang akan dibuka tahun ini dan peluncuran pembangunan properti yang besar di pulau ini, Boracay menjadi lebih terkenal diantara pembeli residensial dan properti komersial. Meski pasar properti Boracay masih jauh dari puncaknya, namun dengan pembangunan yang terus-menerus dilakukan di pulau ini artinya nilai real estate di sini masih relatif rendah. Sebagai percepatan pembangunan, nilai properti diharapkan bisa bertambah tinggi pada tahun yang akan datang.

 

 

 

Surabaya, Indonesia

Meski Ibukota Indonesia, Jakarta mungkin tampak sebagai pilihan yang lebih nyata, kota terbesar kedua di negara ini sekarang menjadi tempat yang paling disukai di antara investor properti. Harga properti di Surabaya juga kompetitif bila dibandingkan dengan Jakarta. Walaupun pertambahan harga di sini adalah yang tertinggi di Jawa Timur, namun itu diiringi dengan meningkatnya permintaan pada sektor residensial dan peningkatan aktivitas komersial seperti perusahaan asuransi yang besar, telekomunikasi serta pertambangan yang juga tertarik untuk melakukan ekspansi ke kota ini.

 

 

 

Yangon, Myanmar

Kini Myanmar telah membuka dirinya terhadap dunia luar dan harga real estate di negara ini melonjak naik. Dampak terutama sangat terasa di Yangon, yang merupakan penghubung negara-negara Asia Tenggara. Perubahan sedang terjadi di pasar perbatasan ini, apalagi dengan adanya UU Kondominium baru yang disahkan bulan Januari dan memungkinkan kepemilikan asing bangunan bertingkat tinggi. Selain itu, setelah pemilu baru-baru ini dimenangkan oleh Liga Demokrasi Nasional, harapan tinggi bahwa pemerintahan demokrasi yang baru akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk merangsang pertumbuhan real estate.

 

 

 

Gampaha, Sri Lanka

Kota terbesar di Sri Lanka, Kolombo, biasanya menjadi target oleh para investor real estate. Pun begitu, permintaan akan lokasi selain daerah penghubung komersial di negara tersebut juga mengalami kenaikan. Berdasarkan data Lamudi, Gampaha adalah lokasi kedua yang paling dicari oleh para pencari hunian di Sri Lanka dengan angka pencarian yang meningkat daripada tahun 2015. Harga properti di sini pun masih relatif rendah dengan permintaan yang tinggi, ditambah lagi sekarang banyak warga yang memilih untuk tinggal di Gampaha dan melakukan perjalanan pulang-pergi untuk bekerja di Kolombo.

 

 

 

Chittagong, Bangladesh

Kota pelabuhan Chittagong termasuk ke dalam lokasi yang strategis, dengan pertambahan infrastruktur dan perkembangan ekonomi yang menyeluruh. Pembangunan berlangsung dengan sangat baik di sini dan Kementerian Perencanaan Bangladesh kini sedang menyoroti proyek infrastruktur di wilayah Chittagong yang bernilai lebih dari US$7 milyar. Proyek unggulan pada proposal tersebut adalah proyek pembangunan jalan yang menghubungkan Chittagong dengan Kunming di baratdaya Cina, melalui Cox’s Bazar dan Myanmar. Ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena pasar properti di kota ini telah menunjukkan pertumbuhan yang cepat beberapa tahun ini, dengan harapan ini akan terus berlanjut di tahun 2016.