Published On: Wed, Jul 5th, 2017

Riset Fujitsu Sajikan Peta Jalan Menuju Terwujudnya Sistem Pembelajaran Digital

Share This
Tags

Jakarta, July 4, 2017 – Digitalisasi di sektor pendidikan mengindikasikan bahwa sektor ini tengah mengalami transformasi secara mendalam, namun di sisi lain, banyak sekolah, kampus, maupun perguruan tinggi yang terengah-engah mengimbangi setiap perubahan teknologi yang terjadi. Hal tersebut seperti disampaikan pada laporan terbaru Fujitsu, bertajuk, ‘The Road to Digital Learning.’ Survei1 yang menyasar lebih dari 600 pemimpin-pemimpin IT di tingkat sekolah, kampus, maupun perguruan tinggi di tujuh negara berbeda di dunia, termasuk Indonesia, memberikan gambaran menarik mengenai kondisi ranah sistem pendidikan digital secara global.

Seperti dituturkan oleh banyak responden, bahwa tingginya antusiasme institusi-institusi pendidikan untuk memanfaatkan solusi-solusi digital dalam rangka mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang kian terpersonalkan, interaktif, dan kolaboratif, ternyata tidak sejalan dengan tingginya tingkat kompleksitas yang harus mereka lalui dalam rangka mewujudkannya. Selain terkendala oleh sistem IT lama, mereka juga frustasi akibat kurangnya sumber daya pendukung.

Hampir semua sekolah masih perlu menempuh jalan panjang sebelum mereka siap untuk investasikan teknologi canggih, seperti untuk aplikasi-aplikasi pembelajaran berbasis cloud, virtual reality, maupun augmented reality yang mendukung terselenggaranya proses pembelajaran – mengingat bahwa mereka perlu untuk terlebih dahulu membangun fondasi yang tepat dan mengatasi kendala adanya kesenjangan kemampuan yang mendalam pada staf-staf mereka.

Sebagian besar dari institusi pendidikan yang terjaring dalam survei mengakui bahwa peran teknologi sangat penting di masa kini, terutama dalam mendukung terselenggaranya pendidikan anak dan menciptakan peluang-peluang yang lebih merata bagi seluruh kalangan. Sekitar 94 persen dari responden menganggap bahwa sistem pembelajaran terpersonalkan adalah sesuatu hal yang ‘penting’ atau bahkan ‘sangat penting’ menurut mereka, dan sekitar 84 persen merasa perlu untuk menyiapkan siswa-siswa mereka menyongsong masa depan sarat digital.

Namun di sisi lain, institusi-institusi tersebut tengah mengalami tekanan yang berat untuk memenuhi apa yang menjadi ekspektasi orang tua siswa maupun siswa itu sendiri, serta untuk tetap menjadi yang terdepan dan kompetitif. Sebanyak 77 persen atau duapertiga dari responden memiliki cita-cita berkembang menjadi institusi digital centers of excellence dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Namun, di sisi lain, di banyak institusi-institusi yang lain, pembelajaran digital masih dalam tataran wacana Hampir 87 persen dari sekolah-sekolah tingkat dasar maupun menengah masih belum mampu menyediakan perangkat bagi siswa mereka, dan bilapun tersedia, satu perangkat rata-rata digunakan bersama untuk tiga orang siswa.

 

Pendidik masih berjuang keras mengimbangi siswa mereka yang begitu melek teknologi

Meskipun mereka punya cita-cita tinggi mewujudkan proses pembelajaran digital, namun lebih dari separuh (51 persen) responden menuturkan bahwa mereka tengah mengalami kesulitan untuk mengimbangi setiap perubahan teknologi yang terjadi. Menurut survei, hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena banyak kendala mereka alami terutama terkait bagaimana menyelaraskan kondisi antara siswa yang makin melek teknologi dengan guru-guru mereka yang rata-rata memiliki tingkat literasi teknologi yang lebih rendah dari siswanya.

Sementara itu, 54 persen responden menilai bahwa tingkat literasi teknologi siswa didik mereka termasuk dalam kategori ‘sempurna’ dan ‘bagus’ dan 91 persen sepakat bahwa meningkatkan kompetensi digital bagi staf pengajar menjadi prioritas institusi mereka dalam jangka waktu 12 bulan mendatang. Di banyak kasus, institusi mulai fokus menyiapkan tenaga pengajar mereka dalam merengkuh metode dan solusi pendidikan digital, sekaligus sebagai enabler untuk teknologi cloud.

Banyak institusi pendidikan yang juga terkendala dengan kompleksitas infrastruktur. Mereka juga dipusingkan dengan konektifitas jaringan yang buruk dan hardware serta software usang yang sudah tak laik lagi. Belum lagi tim IT di institusi-institusi tersebut dituntut pula untuk dapat menyediakan perangkat, infrastruktur, dan aplikasi dengan perbandingan yang tepat. Hampir 46 persen responden mengaku memiliki perangkat terbaik yang akan mendukung mereka dalam mencapai tujuan atas terselenggaranya proses pendidikan digital, meskipun perangkat terbilang mudah rusak ketika digunakan siswa ataupun terkendala karena memiliki keterbatasan soal keamanan, bahkan tanpa sistem keamanan terpasang.

Menyediakan level akses dan keamanan dengan selaras dijadikan sebagai prioritas oleh 97 responden yang tergabung sebagai pemimpin IT di sektor pendidikan, dan hampir sembilan dari sepuluh institusi pendidikan yang terjaring survei menuturkan akan perlunya lebih fokus menilik kembali dan meningkatkan keandalan perangkat sekaligus sistem yang mereka miliki. Meski demikian, 54 persen menuturkan terkendala karena kurangnya dukungan anggaran dan sumber daya IT. Anggaran kerap kali diinvestasikan di tingkat fondasi insfrastruktur IT oleh institusi. Contohnya saja, sebanyak 87 persen institusi menghendaki investasi dibelanjakan untuk jaringan nirkabel dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.

Ash Merchant, Director of Education at Fujitsu, menuturkan: “Teknologi digital hadirkan banyak peluang kepada sektor pendidikan, termasuk bagaimana mewujudkan proses pembelajaran yang makin tepersonalkan, serta proses pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan kapanpun, di manapun, dan menyediakan umpan balik untuk setiap proses kemajuan yang telah ditempuh di dalam kelas. Solusi ini juga menawarkan kolaborasi canggih antara siswa, guru, dengan orang tua. Konektivitas, kesederhanaan, serta keamanan menjadi kunci hadirnya teknologi ini. Namun, survei memperlihatkan bahwa banyak institusi pendidikan tengah bergulat dengan fondasi penting ini. Bahkan tak jarang, mereka terkendala soal pembiayaan, dan bagaimana membuat proses pembelajaran digital ini sebagai kegiatan yang bisa menunjukkan return on investment yang tinggi.”

Ash Merchant menambahkan, “Kami ingin menbatu institusi pendidikan menghapus seluruh kompleksitas yang menjadi kendala mereka. Ini tidak saja soal bagaimana menghadirkan teknologi dan perangkat, namun juga bagaimana mendukung tenaga pengajar dan siswa untuk dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kehadiran teknologi baru ini, serta bagaimana menyiapkan siswa sedini mungkin agar sukses menjejaki digital workplace di masa depan. Di Fujitsu, kami percaya bahwa bila kita ingin menyiapkan siswa menyongsong era digital di masa depan, kita dituntut untuk dapat menutup setiap jurang dalam proses pembelajaran digital ini – dan untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan kolaborasi yang selaras antara kalangan industri teknologi dengan kalangan pendidikan.”

 

 

Catatan kaki

1 Fujitsu surveyed 602 respondents from a mix of state and privately funded primary schools, secondary schools, colleges/further education establishments, and universities across seven countries: Australia, Germany, Hong Kong, Indonesia, Thailand, the United Kingdom and the United States. The research asked IT leaders in educational establishments about their digital ambitions, the challenges they are facing, the opportunities they see and their spending priorities. The survey, which took place in March/April 2017, involved a combination of telephone and face-to-face interviews and was conducted by an independent research institute on behalf of Fujitsu.

 

The research paper will be available for digital download from Fujitsu from late June.