Published On: Tue, Mar 27th, 2018

Sharp Bangun Sistem Panel Surya di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur

Share This
Tags

Jakarta, 26 Maret 2018 – Habitat yang makin menyusut karena kawasan hutan hujan yang berubah fungsi sebagai lahan perkebunan dan pertambangan serta adanya penebangan liar, merupakan beberapa penyebab menyusutnya jumlah Orangutan di Kalimantan Timur ini.

Akibat deforestasi ini, Orangutan terpaksa menjelajah ke luar habitat dan berusaha bertahan hidup di luar habitat mereka seperti dengan masuk ke ladang perkebunan yang akhirnya dipandang sebagai ancaman hingga dianggap sebagai hama dan harus dibunuh. Perburuan dan perdagangan Orangutan pun menjadi alasan lain semakin berkurangnya jumlah Orangutan di dunia. Pada tahun 2016 Orangutan masuk ke dalam klasifikasi hewan yang sangat terancam punah (Critically Endangered) dalam The International Union for Conservation of Nature( IUCN ). Walaupun sudah dilindungi oleh hukum international dan masuk dalam Appendix I dari daftar Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) yang melarang dilakukannya perdagangan Orangutan, namun faktanya masih banyak saja bayi Orangutan yang diperjualbelikan.

Bersama dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, PT SHARP Electronics Indonesia melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat luas melalui komunitas SHARP Greenerator, sebuah komunitas anak muda yang peduli lingkungan untuk ikut menjaga dan melestarikan Orangutan dengan cara memberikan informasi seputar Orangutan dan habitatnya. Tidak hanya itu SHARP pun secara berkelanjutan mengadopsi 3 Orangutan bernama Kopral, Shelton, dan Sura, dimana ketiganya memiliki cacat fisik akibat ulah manusia.

Di awal tahun 2018, sebagai kontribusinya kepada pelestarian Orangutan, melalui Program Solar Panel Project, SHARP mengunjungi Samboja Lestari, salah satu pusat rehabilitasi dan reintroduksi Orangutan milik BOS Foundation. Di lokasi ini SHARP memasang 6 unit solar panel yang mampu menghasilkan 1400 watt energi listrik. Melalui prinsip photovoltaic, keenam solar panel yang terbuat dari bahan semiconductor ini akan menyerap cahaya matahari kemudian mengkonversikan energi dari cahaya matahari tersebut menjadi energi listrik yang dapat langsung digunakan untuk menunjang kegiatan dalam baby house. “Ini adalah project kedua yang dilakukan oleh SHARP untuk menunjang pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Melalui Solar Panel Project, SHARP membantu menyediakan tenaga listrik dengan memanfaatkan energi baru terbarukan yaitu sinar matahari. Kami sangat menyadari keberadaan Orangutan yang semakin berkurang jumlahnya, semoga dengan kegiatan ini SHARP dapat membantu agar di masa yang akan datang Orangutan masih tetap ada dan menjadi harta keanekaragaman hayati kebanggaan bangsa Indonesia”, ungkap Pandu Setio selaku PR, CSR & Promotion Manager PT SHARP Electronics Indonesia.

Di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Orangutan dewasa dan balita hasil temuan dan sitaan dari bermacam lokasi seperti sirkus hingga perumahan, dilatih untuk menjadi liar kembali. Mereka diajarkan keterampilan memanjat pohon, membangun sarang, mencari pakan alami, serta mengenali hewan predator hingga pada akhirnya siap untuk dilepasliarkan kembali ke hutan.

Orangutan memiliki DNA 97% mirip dengan manusia, yang menyebabkan mereka bisa tertular penyakit dari manusia. Bayi Orangutan membutuhkan perawatan ekstra untuk perlindungan ini. Di setiap pusat rehabilitasi dan reintroduksi, BOS Foundation mendirikan baby house, sebagai tempat tinggal sementara dan wadah pendidikan dasar bagi bayi Orangutan. Lokasi yang berada dalam hutan menimbulkan kendala kurangnya asupan listrik untuk menunjang kegiatan di baby house. “Kami sangat mengapresiasi bantuan yang diberikan oleh PT SHARP Electronics Indonesia. Sistem panel surya yang didirikan di sini sangat bermanfaat sekali untuk menunjang aktivitas kami mengurus bayi Orangutan hingga dewasa dan siap untuk dilepasliarkan”, ungkap drh. Agus Irwanto selaku Program Manager, Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari.

Banyak manusia yang belum menyadari jika manusia membutuhkan Orangutan untuk menunjang kehidupannya. Hutan sebagai pengatur iklim bumi sangat bergantung pada setiap satwa yang ada di dalamnya tidak terkecuali Orangutan. “Orangutan adalah penyebar biji yang efektif, dan membuka tajuk hutan. Setiap harinya, Orangutan mampu menjelajah sejauh 20 km. Selain menyebarkan biji dari buah-buahan yang mereka makan, Orangutan juga membuka tajuk hutan dengan membuat sarang di atas pohon, ini membuat sinar matahari masuk menembus kanopi hutan dan membantu tumbuhan untuk tumbuh besar, menghasilkan oksigen, dan menyerap karbon dioksida. Hutan yang sehat memberi kita udara segar, air bersih, dan mengikat tanah hingga bencana alam yang akan merugikan manusia pun akan terhindar”, jelas drh. Agus.

Sudah saatnya kita manusia ikut melakukan pelestarian Orangutan. “Jika kita terus tidak perduli dengan keberadaan mereka, secara tidak langsung manusia membunuh diri mereka sendiri secara pelan–pelan. Dengan kontribusi kecil dari SHARP, kami berharap dapat memberikan manfaat yang baik bagi pelestarian orang-utan”, tutup Pandu.

PT SHARP Electronics Indonesia selalu konsisten untuk menjaga lingkungannya. Bertepatan dengan peringatan kampanye global Earth Hour 2018 yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 24 Maret 2018 lalu, SHARP pun ikut berpartisipasi dengan ikut memadamkan lampu dan peralatan listrik lainnya yang tidak digunakan selama 1 jam. Selain lampu, SHARP pun memadamkan billboard, signboard–nya di kantor pusat Karawang dan Jakarta serta 25 kantor cabang di seluruh Indonesia. Untuk aksinya ini SHARP dapat melakukan penghematan sebesar 426, 370 watt selama 1 jam.

***

 

Tentang PT SHARP Electronics Indonesia (SEID)

SHARP telah memulai perjalanan panjangnya di Indonesia sejak tahun 1970. Bermula dari PT Yasonta, yang didirikan pada tahun 1970 sebagai aan patungan PMA dengan mengakuisisi PT Yasonta dan mengubah namanya menjadi PT SHARP Yasonta Indonesia (SYI). Pada tanggal 1 April 2005, PT SHARP Yasonta Antarnusa (kantor cabang SYI) bergabung menjadi satu dengan PT SHARP Yasonta Indonesia dan sejak Mei 2005 PT SHARP Yasonta Indonesia berubah nama menjadi PT SHARP Electronics Indonesia (SEID) seperti yang dikenal sampai saat ini.

Saat ini, SEID memiliki 25 Kantor Cabang, 3 Sub Cabang, 45 SHARP Direct Service Station (SDSS), 275 SHARP Authorized Service Station (SASS), 44 SHARP Service Representative (SSR) yang tersebar di seluruh Indonesia, 2 unit SHARP Mobile Service Station (SMSS), 2 SHARP Service Corner (SSC), 2 SHARP Authorized Representative (SAR), 101 SHARP Authorized Air Conditioner (SAAC). Pada 2012 PT SEID memperoleh penghargaan dari Rekor Bisnis Indonesia sebagai Jaringan Service Center Terbanyak di Indonesia.
Sekilas Tentang SHARP Cares

CSR PT SHARP Electronics Indonesia (SHARP) bernaung pada SHARP CARES (Creativity, Attention, Recovery, Earth, Sincerity). Creativity (Kreatifitas) mengandung arti sikap kerja yang selalu mencari nilai lebih dan selalu membuat inovasi. Attention (Perhatian), SHARP selalu memberikan perhatian khusus pada masalah sosial di Indonesia, seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Recovery (Pemulihan), SHARP di setiap kegiatannya berusaha untuk melakukan hal yang mampu memberikan perbedaan dan memulihkan suatu kondisi bagi masyarakat menuju arah yang lebih baik. Earth (Bumi) yang berarti SHARP peduli untuk menjaga Bumi agar dapat terus menopang kelangsungan hidup seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya. Sincerity (Ketulusan hati) adalah sikap kerja yang mendasar untuk menghasilkan solusi yang berguna dan juga kebahagian bagi semua orang. SHARP memfokuskan program CSR nya pada Pendidikan, Sosial, Kesehatan, dan Lingkungan.

 

Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation

Didirikan pada tahun 1991, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi Orangutan Kalimantan dan habitatnya, bekerja sama dengan masyarakat setempat, Kementerian Kehutanan Indonesia, dan mitra organisasi internasional. Yayasan BOS saat ini merawat hampir 750 Orangutan dengan dukungan 400 staf yang sangat setiadan ahli dalam primatologi, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dan kesehatan Orangutan.