Published On: Wed, May 25th, 2016

Social Innovation Project 2016 Ciptakan Sarana Digital Atasi Problem Komunitas 

xl_social inovator

Social Innovation Project (ki-ka) : Chief of Corporate Affairs Officer XL Axiata Eka Bramantya Danuwirana, Siswa XL Future Leaders Batch 3 Devlin Saleh dan Dhian Paramita, GM Finance And Management Service XL Central Region Taufik Hidayat saat peluncuran Social Innovation Project 2016 di acara XL Future Leaders Day di UGM Jogjakarta 24/5

Yogyakarta, 25 Mei 2016- Melalui program XL Future Leaders (XLFL), PT XL Axiata Tbk (XL) mendorong mahasiswa untuk selalu peduli dan menjadi pelopor dalam mencari solusi bagi problem sosial di sekitarnya. Begitu juga, sebagai perusahaan berbasis teknologi digital, XL mengajak mahasiswa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menciptakan sarana digital yang bisa membantu mengatasi problem sosial yang ada. Kali ini, XL meluncurkan program bernama “Social Innovation Project 2016”, yang akan dijalankan oleh para mahasiswa XL Future Leaders.

 

Chief of Corporate Affair Officer XL, Eka Bramantya Danuwirana mengatakan, “Melalui program XL Future Leaders, kami ingin melahirkan pemimpin yang bermental entrepreneur namun punya kepedulian tinggi terhadap kehidupan sosial disekitarnya. Jadi setelah digembleng dengan semua materi yang tersaji komprehensif, serta mentoring yang intensif, maka pada tahun kedua, sebelum menyelesaikan program, mereka berkewajiban  melakukan sesuatu untuk Indonesia. Dengan mengaplikasikan semua ilmu yang mereka dapat.”

 

Eka menambahkan, program ini menjadi cukup penting untuk dijalankan mengingat lokasi domisili para mahasiswa XLFL tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Fakta ini menjadi sarana bagi XL untuk memberdayakan mahasiswa XLFL menyumbangkan daya pikir dan kreasinya bagi masyarakat Indonesia di berbagai daerah tersebut. Tahun ini, program ini mengambil tema “Solusi digital menghadapi tantangan sosial”. Hal ini berkenaan dengan upaya pemerintah yang sedang membangun infrastruktur demi tercapainya visi 2020 menjadi bangsa digital terbesar di ASEAN.

 

Seluruh peserta XLFL  ditantang untuk melakukan riset langsung dengan turun ke masyarakat, berinteraksi dengan mereka, memahami permasalahan yang ada, dan menganalisanya. Selanjutnya, dengan sumber daya dan potensi yang ada, mereka berusaha mengatasi masalah tersebut, melalui inovasi sosial yang diwujudkan dengan sebuah proyek sosial. Pesertanya adalah XLFL Global Thinking Batch 3 yang berjumlah 145, mereka akan terbagi menjadi kelompok, 3-5 orang untuk satu grup.

 

Dengan menghadapi kesulitan, masalah dan tantangan sosial yang ada di sekitar, mereka harus mampu melihat peluang dan selanjutnya berinovasi dalam bentuk proyek solusi digital. Obyek yang menjadi target misi mereka adalah panti asuhan, panti jompo, dan lembaga difabel. Juga para guru, nelayan, petani, wanita dan anak-anak. Selain itu, mereka juga bisa memilih proyek untuk mengatasi problem seperti antara lain kelestarian lingkungan, proyek air bersih, energi terbarukan, seni, budaya dan pariwisata lokal. Semua proyek mereka harus sesuai dan beriringan dengan program Sustainable Development Goal  atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, yang kini juga sedang didorong pemerintah dan juga menjadi fokus kegiatan sosial XL.

 

Hasil dari proyek ini bisa berupa aplikasi  baru, atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada, kemudian digunakan langsung oleh masyarakat penerima manfaat. Hasil karya mereka diharapkan bisa bermanfaat untuk mendukung aktivitas seperti antara lain pengembangan kapasitas digital pada organisasi masyarakat, pengembangan management, penggunaan teknologi terapan dengan strategi komunikasi digital, serta pelaksaan kampanye digital, atau juga untuk penguatan kapasitas.

 

Mahasiwa XLFL akan mengerjakan program ini di berbagai daerah di Indonesia, antara lain di Aceh, Padang, Medan, Palembang, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Makasar, Kendari, Palu dan Menado. Selain itu juga ada di sejumlah kota/kabupaten di Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan.

 

Sejauh ini, proposal proyek yang sudah diajukan oleh para mahasiswa XLFL antara lain adalah mengembangkan sejumlah platform, antara lain untuk cerita anak dan aktivasi ibu di Yogyakarta, crowd funding khusus kegiatan sosial di Semarang dan sekitarnya, mengembang Augmented Reality Technology untuk berbagai museum yang sepi pengunjung di Yogya, serta mengembangkan desa batik dan ecotourism. Ada juga pengembangan platform digital untuk membuat produk dan memasarkan secara digital dengan utilisasi anak jalanan Semarang, juga untuk menyewakan barang di Aceh.

 

Proposal lainnya berupa rencana membuat platform untuk kampanye Medan Bebas Rasisme, gerakan clean traveler di seputar gunung Marapi Sumbar, kampanye kesehatan di Batam, pemasaran Tenun di Palembang dan Lampung, serta kampanye dan workshop mencegah pelecehan seksual di Bengkulu. Juga ada Koperasi Pemulung di Kalimantan, juga Gerakan Rusun Hijau di Jakarta.

 

Sementara itu di Sulawesi, mahasiswa XLFL di Menado berencana membantu petani rumput laut di Desa Tangkasi, Pulau Mantehage. Mereka akan membantu budidaya rumput laut dengan menerapkan kendali mutu melalui cara pengolahan yang lebih baik, serta membantu pemasaran menggunakan media digital. Di Palu, Sulawesi Tengah, XLFL sudah berencana bersama warga Desa Sindue, Donggala akan mengerjakan proyek “Baju Kertasku”, yakni pengumpulan kertas yang selanjutnya dijual. Hasil penjualan kertas tersebut akan dipakai untuk membeli baju sekolah bagi anak-anak daerah tersebut yang jarang memakai seragam. Aksi mereka akan dikampanyekan pula secara digital, agar dapat diterapkan di daerah lain di Sulewesi.

 

Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk merealisasikan rencana proyek mereka mulai Mei 2016 dan diharapkan telah selesai pada Oktober 2016. Setelah terwujud, XL mendorong para mahasiswa untuk mewariskan ke masyarakat. Keterlibatan masyarakat dan masyarakat menjadi center adalah kunci dari program ini. Jadi semua Inovasi akan dikembalikan kepada masyarakat.