Published On: Tue, Mar 8th, 2016

Strategi Manfaatkan Karyawan untuk Meningkatkan Brand Engagement di Ranah Media Sosial

Memanfaatkan Karyawan Sebagai Aset Terbaik untuk Meningkatkan Brand Engagement di Media Sosial

Karyawan dinilai sebagai pencerita yang lebih tepercaya di media sosial dan jika dimanfaatkan secara optimal sudah terbukti mampu mendongkrak kinerja perusahaan.

“Saya tumbuh di dunia fisik dan saya berbicara bahasa Inggris. Generasi selanjutnya bertumbuh di dunia digital, dan mereka berbicara sosial” – Angela Ahrendts[1]

Tidak diragukan lagi bahwa sekarang ini keberadaan media sosial mengubah cara kita menceritakan sesuatu. Faktanya, didorong oleh pertumbuhan audiens yang cepat, media sosial kini sudah menjadi tradisi baru. Kutipan dari Angela Ahrends di atas menjadi pengingat bagi para komunikator dan pemasar harus selalu memikirkan ulang strategi mereka dalam merangkul audiens di ranah media sosial.

Ketika berbicara tentang keterlibatan dengan audiens di media sosial, perusahaan membutuhkan bantuan sebanyak-banyaknya. Bahkan, para CEO perusahaan pun turut terjun ke dalam ranah ini. Menurut laporan terakhir dari CEO.com[2], 39% CEO dari perusahan-perusahaan yang termasuk dalam Fortune 500 menggunakan setidaknya 1 platform media sosial di tahun 2015 (naik dari 32% di tahun 2014). Lebih spesifik lagi, 32% (naik dari 7% dari tahun 2014) dari CEO-CEO Fortune 500 memiliki profil aktif di LinkedIn. Lebih dalam lagi, jumlah professional yang kini menjadi anggota LinkedIn sudah lebih dari 414 juta orang. Selain menunjukan bahwa CEO dan profesioal semakin memanfaatkan media social, angka ini juga menggarisbawahi kesempatan besar untuk merangkul audiens di platform seperti LinkedIn dalam konteks profesional. Lalu, bagaimana memanfaatkan potensi ini secara optimal?

Secara tradisional, komunikator merupakan gatekeeper, memastikan petinggi perusahaan atau juru bicara menyampaikan pesan yang tepat. Namun, seiring dengan pesatnya pertumbuhan dan harapan audiens, menjalin percakapan dan membuat cerita yang menyentuh kini menjadi faktor yang lebih penting, guna membuat interaksi di media sosial menjadi lebih efektif.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mendorong karyawan menjadi pencerita di media sosial. Berkaca dari besarnya jumlah karyawan dan professional yang memanfaatkan sosial media di dalam keseharian mereka, ditambah lagi dengan pengaruh yang mereka bawa ke dalam lingkungan sosialnya – karena karena kerap dinilai sebagai influencer yang tepercaya[3], menjadikan karyawan sebagai pencerita yang efektif di media sosial.

Kelebihan lain adalah besarnya jangkauan mereka di platform seperti LinkedIn. Bayangkan kekuatan yang mereka bawa. Jika mereka bisa didorong untuk menjadi pencerita, maka mereka akan menjadi ‘corong’ bagi perusahaan. Ambil contoh nyata berikut. Ada sebuah perusahaan yang memiliki sekitar 9.000 karyawan yang terhubung dengan 850.000 profesional lain yang ada dalam koneksi koneksi tingkat ke-1– angka ini sekitar 90 kali lebih  besar dari ukuran keseluruhan karyawan. Dan ini baru koneksi tingkat ke-1. Tidak sulit membayangkan seberapa luas jangkauan ke audiens jika mereka memposting suatu cerita.

Mendorong karyawan untuk bercerita di media sosial memang berisiko, namun hal ini bisa diminimalisir. Sebelum membuka gerbang, komunikator sebagai gatekeeper perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Pedoman pemakaian sosial media harus dimiliki dan lebih penting lagi harus dimengerti oleh seluruh karyawan.
  • Apakah karyawan sudah mewakili diri mereka sendiri dan perusahaan dengan semestinya di ranah media sosial? Contohnya, karyawan Anda sebaiknya memiliki profil LinkedIn yang bagus, dimulai dari foto profesional di profil mereka (hal ini menggenjot kesempatan untuk dilihat 14 kali lipat lebih banyak di LinkedIn), jika mereka ingin merepresentasikan perusahaan dan lebih dipercaya.
  • Konten adalah inti dari pemasaran modern, dan juga kunci dalam strategi media sosial apapun. Apakah komunikator perusahaan telah menciptakan konten positif dan menarik yang dapat dibagikan oleh karyawan di media sosial mereka dan menciptakan percakapan dalam konteks profesional?

Mendorong karyawan untuk menjadi ‘corong’ perusahaan akan membuka jalan baru merangkul audiens di ranah sosial. Menurut The Altimeter Group, perusahaan yang secara sosial merangkul audiens-nya (mereka yang mendorong karyawannya untuk terlibat di sosial) akan memiliki kinerja yang lebih baik, misalnya mereka mampu meningkatkan penjualan 57% dan 58% lebih banyak dan menarik sumber daya manusia yang mumpuni. Pada akhirnya, hasil ini berdampak positif ke brand dan juga citra perusahaan.

Banyak perusahaan yang mengatakan bahwa karyawan adalah aset mereka yang paling bernilai dan berharga. Namun sayangnya saat berbicara tentang interaksi di sosial media, aset ini kerap disepelekan. Inilah saatnya untuk mendorong mereka menjadi perwakilan perusahaan di ranah media sosial guna mendorong terjadinya interaksi dan keterlibatan dengan audiens yang lebih efektif.

Roger Pua, Senior Director of Corporate Communication, APAC, LinkedInTentang Penulis

Roger Pua, Senior Director of Corporate Communication, APAC di LinkedIn.

[1] Angela Ahrendts  membahas tentang Burberry di media sosial, ketika dirinya menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut.

[2] Ceo.com, It’s 2016, Are CEOs are finally going social?

[3] Edelman Trust Barometer 2015