Published On: Fri, Apr 21st, 2017

Studi VMware: 1 dari 3 Pekerja Indonesia Gunakan Perangkat Pribadi untuk Kerja Tanpa Persetujuan Perusahaan

Share This
Tags

JAKARTA, INDONESIA – 12 April 2017 – VMware. Inc. (NYSE: VMW), pemimpin global di kancah infrastruktur cloud dan business mobility, hari ini merilis temuan-temuan menarik yang dihasilkan dari VMware Digital Workspace Study. Salah satu temuan menarik yang patut mendapatkan perhatian serius adalah adanya risiko besar yang kini berpotensi mengancam sistem keamanan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Betapa tidak, sebab 1 di antara 3 pekerja di Indonesia (34 persen) ternyata menggunakan perangkat pribadi mereka untuk bekerja tanpa sepengetahuan dan tanpa mendapatkan persetujuan dari tim TI perusahaan terlebih dahulu. Sebanyak 38% responden bahkan mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui dan tidak mematuhi standar kelaikan TI yang telah ditetapkan perusahaan terkait penggunaan perangkat pribadi untuk bekerja. Kondisi ini tentu saja dapat berpotensi membukakan pintu lebar terhadap masuknya upaya-upaya serangan dan peretasan data, sekaligus meningkatkan risiko terhadap bisnis perusahaan.

Di dalam VMware Digital Workspace Study dikemukakan bahwa dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Korea, Indonesia berada di peringkat teratas untuk kategori jumlah perusahaan yang mengizinkan karyawannya membawa dan menggunakan perangkat pribadinya untuk bekerja. Empat dari 10 (41 persen) pekerja Indonesia meyakini bahwa departemen TI mereka mendorong digunakannya perangkat pribadi untuk alasan peningkatan produktivitas. Konsekuensinya, 68 persen pekerja Indonesia memanfaatkan perangkat bergerak miliknya untuk mengecek email-email kantor. Signifikansi jumlah pekerja Indonesia yang menggunakan perangkat pribadi untuk bekerja tanpa persetujuan perusahaan ini dapat pula meningkatkan kerentanan terhadap upaya-upaya peretasan maupun berbagai serangan siber lainnya.

“Departemen TI perlu memahami implikasi atau makna keamanan dari penerapan program BYOD secara serampangan tanpa terlebih dulu mengadopsi kerangka kerja yang komprehensif dan aman. Temuan-temuan dari survei ini menegaskan fakta bahwa organisasi atau perusahaan yang tidak memiliki digital workspace yang aman membuat mereka kian rentan terekspos ke pelbagai celah yang menjadi titik masuk ke jaringan, terlebih apabila pengguna abai akan persyaratan dan kebijakan-kebijakan keamanan TI perusahaan dan berkelit tatkala mereka beranggapan bahwa perusahaan dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka akan tersedianya layanan-layanan TI seperti dambaan mereka,”  ujar Santoso Suwignyo, Senior Director of Technical Services, Southeast Asia dan Korea, VMware.

Tantangan yang muncul dari penerapan BYOD tidak sekadar pada persoalan keamanan. Tujuhpuluh persen responden Indonesia mengatakan bahwa mereka menghadapi masalah ketika hendak mengakses aplikasi-aplikasi pendukung kerja. Problem teratas antara lain adalah “terlalu banyak password yang harus diingat” (32 persen) dan “aplikasi tidak dapat diakses sempurna di perangkat yang berlainan” (28 persen). Untuk mengatasi problem tersebut, karyawan cenderung menggunakan password yang sama untuk seluruh perangkat dan aplikasi (35 persen) yang mereka gunakan atau menuliskannya dalam catatan dan menyimpannya di perangkat bergerak mereka (32 persen).

Penggunaan password yang sama untuk pengaksesan semua aplikasi kerja dan perangkat yang digunakan untuk mendukung produktivitas pekerjaan sesungguhnya membawa risiko keamanan bagi perusahaan. Risiko kian bertambah ketika makin banyak karyawan yang membuat password sederhana yang dengan mudah dapat dibajak hanya dengan coba-coba memasukkan password berulang-kali atau trial and error. Sekali password dapat terbaca pihak yang tidak memiliki kewenangan, maka seluruh data – baik data pekerjaan/kantor maupun data pribadi – dapat diakses oleh orang tak bertanggung jawab, termasuk juga informasi-informasi bisnis penting lainnya yang berada di dalam jaringan,” kata Santoso Suwignyo.

Untuk menjawab tantangan keamanan siber yang dihadapi oleh departemen TI, serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh karyawan tatkala mengakses informasi bisnis penting dan melakukan pekerjaan di atas aplikasi-aplikasi kerja, VMware telah memperkenalkan manajemen akses dan kemampuan keamanan melalui salah satu solusi terbarunya VMware Workspace ONE™. Dibangun di atas inovasi-inovasi Workspace ONE sebelumnya, VMware akan memudahkan tim TI dalam menghadirkan akses terintegrasi dan sebuah pengalaman sign-on tunggal atau single sign-on ke aplikasi-aplikasi intranet, serta menawarkan kemampuan akses yang lebih kaya yang memadukan sterilisasi keamanan atau security hygiene secara real-time dengan otomatisasi penerapan kelaikan atau compliance automation. Workspace ONE menggabungkan pengelolaan identitas dan enterprise mobility management (EMM) untuk membantu organisasi atau perusahaan mengimplementasikan seluruh aplikasi bisnis dan layanan secara aman dan dengan pengalaman penggunaan yang semakin meningkat.

Santoso Suwignyo juga menekankan bahwa perusahaan-perusahaan perlu memiliki pemikiran di luar persoalan keamanan dan pemenuhan standar peraturan saja. “Sejak lama telah muncul ketidakselarasan antara prioritas TI dan tuntutan kebutuhan pengguna. End-user menginginkan sistem yang simple namun efisien dalam mengakses beragam aplikasi yang mereka butuhkan. Sementara, bagian TI utamanya sangat mementingkan kepastian kontrol dan keamanan. Seringkali pihak perusahaan hanya sekadar menerapakan sistem keamanan yang berorientasi pada tingkat kemudahan dalam penggunaannya. Namun, melalui penerapan VMware Workspace ONE, perusahaan dapat meraih keselarasan antara penyediaan kebijakan keamanan yang komprehensif dan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, dengan kemudahan dalam penggunaan dan tidak memusingkan para karyawan. Solusi ini menjadi satu-satunya platform terintegrasi yang mampu menghadirkan akses kontekstual ke seluruh aplikasi serta menghadirkan manajemen endpoint terbaik di industri.”

 

###

 

 

Tentang VMware Digital Workspace Study

The VMware Digital Workspace Study yang dilaksanakan oleh YouGov dan didukung oleh VMware, melakukan survei terhadap 2.500 pekerja dewasa (500 per negara) di Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia dan Korea di Bulan Maret 2017. Survei menyasar para pekerja profesional di rentang usia 18 hingga 55+ tahun yang bekerja baik di swasta maupun layanan publik dan di beragam sektor industri yang antara lain meliputi otomotif, manufaktur, FSI, kesehatan, hospitality, dan ritel. Responden diminta untuk menyampaikan preferensi serta pengalamannya dalam menggunakan perangkat bergerak untuk bekerja – baik perangkat bergerak milik pribadi maupun inventaris kantor. Hasil dari survei ini menggambarkan perilaku karyawan dalam penerapan BYOD, kompeksitas permasalahan yang terciptakan, dan yang lebih penting adalah risiko terkait yang harus dihadapi oleh dunia bisnis.

 

 

Tentang VMware

VMware, pemimpin global di kancah infrastruktru cloud dan business mobility, mendukung pelanggan dalam mempercepat terwujudnya transformasi digital di lingkungan mereka. VMware mendukung enterprise sukses dalam menerapkan pendekatan software-defined ke lini bisnis dan IT dengan VMware Cross-Cloud Architecture™ serta solusi-solusi lain untuk data center, mobility, dan keamanan. Di tahun 2016, VMware berhasil meraih revenue sebesar $7,09 miliar. VMware berkantor pusat di Palo Alto, CA dan memiliki lebih dari 500.000 pelanggan serta 75.000 mitra di seluruh dunia.