Published On: Thu, Jan 7th, 2016

Teknologi dalam Pendidikan: Meningkatkan Daya Saing Indonesia dalam Menyambut MEA

Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke, tentu menjadi tantangan tersendiri untuk memberikan akses pendidikan yang berkualitas secara merata. Bagaimana teknologi dapat menjembatani jurang pemisah tersebut?

Tahun 2016 menjadi awal berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Artinya, Indonesia dan negara lain di wilayah Asia Tenggara kini telah terintegrasi dalam rangka meningkatkan daya saing demi menyaingi negara di wilayah lain yang telah lebih dulu maju. Salah satu tolok ukur utama daya saing sebuah negara adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri. Dan untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas diperlukan sistem pendidikan yang berkualitas pula. Indonesia memang telah mempersiapkan diri untuk meningkatkan kualitas SDM-nya. Namun, masih menghadapi tantangan pemerataan akses pendidikan yang berkualitas. Hal ini terjadi karena lokasi geografis Indonesia yang lebih rumit dari negara lainnya. Di sinilah teknologi dapat berperan.

Teknologi memungkinkan terciptanya akses pendidikan yang lebih merata, didukung dengan semakin banyak tersedianya perangkat pintar yang bisa menjangkau lebih banyak lagi penduduk Indonesia, bahkan lebih luas dari teknologi lainnya. Salah satu contoh yang sudah terlihat adalah program e-Sabak[1] <#_ftn1>, di mana program ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mendapatkan konten pembelajaran. Perangkat pintar tersebut menjadi pintu akses bagi para siswa/i ke banyak konten pendidikan yang dapat mendukung aktivitas belajar mengajar, demi membangun SDM yang lebih berkualitas.

Di Asia Tenggara, tren saat ini memang mengarah kepada digitalisasi konten untuk mempermudah proses pembelajaran. Singapura misalnya. Pergeseran menuju perpustakaan digital bahkan telah dipelopori sejak tahun 2001. Bahkan pada April 2012 silam, perpustakaan digital nasional (The National Library Board) telah diakses lebih dari 8,2 juta kali[2] <#_ftn2>. Di Malaysia, tren serupa juga mengarah ke perpustakaan digital. Setiap warga negara Malaysia diberi kemudahan dengan akses tak terbatas dan gratis menuju Perpustakaan Negara Malaysia[3] <#_ftn3> (perpustakaan nasional di negara tersebut) untuk meminjam berbagai bukuliteratur – yang telah didigitalisasikan –dari berbagai penerbit.

Beberapa contoh di atas merupakan Ini merupakan bukti nyata tentang peran teknologi dalam upaya membangun kualitas SDM suatu negara dan solusi tersebut tentu diharapkan mampu menjembatani jurang pemisah antara daerah perkotaan dan pelosok menuju akses pendidikan yang berkualitas.

Tidak menutup kemungkinan Indonesia juga mengarah pada hal sama. Namun dalam pengembangannya sangat ada dua hal yang perlu diperhatikan dengan saksama. Kedua hal tersebut adalah pengontrolan konten dan aksesibilitas.

Dari segi pengontrolan konten, institusi pendidikan harus mampu memastikan bahwa konten yang disediakan kepada para murid merupakan konten yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahaya yang mungkin timbul adalah penjahat siber menyusupi trafik data dan mampu mengirimkan konten yang merusak kepada para murid. Karena itu penting bagi institusi pendidikan untuk mampu memastikan pengontrolan konten dengan cara menegakan kebijakan penggunaan di aplikasi hingga sistem; dengan memanfaatkan identifikasi pengguna dan akses kebijakan; dan juga mengamankan proses pengiriman konten.

Dari sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Mengirimkan konten dan memberikan akses kepada jutaan orang merupakan tantangan tersendiri. Kebutuhan untuk memastikan agar sistem mampu menyediakan akses yang lancar, cepat, sangat aman, dan dapat di akses di mana saja serta kapan saja menjadi sangat genting.

Semakin tingginya kebutuhan tersebut membuat institusi pendidikan cenderung memilih model layanan terpusat, memanfaatkan teknologi komputasi cloud yang memiliki fleksibilitas tinggi. Dengan begitu, institusi pendidikan dapat dengan mudah mempercepat akses dari/menuju aplikasi pendidikan, yang pada akhirnya dapat memperkaya pengalaman pelajar dalam memperoleh pembelajaran.

Cloud memang menjadi salah satu jawaban yang tepat untuk mengatasi tantangan pemerataan pendidikan yang berkualitas. Hal ini disebabkan karena tingkat skalabilitas dan fleksibilitas yang ditawarkan oleh teknologi cloud. Namun, hal tersebut saja tidak cukup. Setiap aplikasi yang terdapatnya perlu di lengkapi dengan berbagai /application service/ yang mampu memastikan ketersediaan, kecepatan, hingga keamanan pengiriman aplikasi bagi para pengguna aplikasi, dan memberikan kemampuan untuk menegakan kebijakan pengontrolan konten di manapun aplikasi diterapkan. F5 Networks merupakan ahli dalam penyediaan a/pplication service/ yang memastikan aplikasi terkirim dengan cepat, aman, dan tetap tersedia untuk membantu para penyedia layanan mencapai tujuan mereka.

Teknologi telah menjadi jawaban bagi beberapa negara maju di Asia Tenggara. Berkaca dari hal tersebut, tidak menutup kemungkinan bagi Indonesia melakukan hal yang sama demi mewujudkan pendidikan berkualitas yang merata, demi peningkatan kualitas SDM, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

***

Fetra Syahbana/Biskom.w

Fetra Syahbana/Biskom.web.id

Tentang Penulis

Fetra Syahbana adalah Country Manager F5 di Indonesia. Dia bertanggung jawab untuk mengelola serta mengembangkan pasar di Indonesia secara keseluruhan, dan memegang peranan penting untuk menjadikan F5 sebagai mitra strategis bagi seluruh pelanggannya.

 

[1] http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/node/3739

[2] http://www.straitstimes.com/singapore/jurong-primary-school-to-set-up-digital-library

[3] http://pnm.elib.com.my/?lang=english