Published On: Tue, Jun 9th, 2015

Tiga Alasan di Balik Meningkatnya Adopsi Komputasi Cloud di Bisnis

Share This
Tags

Fetra SyahbanaDalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan bisnis di seluruh dunia mulai bergerak menuju komputasi cloud. Kita juga telah melihat sebuah transformasi komputasi cloud dari hanya sekadar tempat penyimpanan data pribadi menjadi lebih kompleks, seperti salah satu kementerian di Indonesia yang telah menerapkannya dalam kerja sehari-hari[1] dan universitas terkemuka Indonesia yang memanfaatkan solusi cloud untuk memberi kemudahan akses informasi bagi mahasiswanya[2], serta salah satu maskapai penerbangan pelat merah baru saja mengumumkan pengaplikasian komputasi cloud dalam pengelolaan perusahaannya[3] guna memperluas fungsionalitas IT demi meningkatkan percepatan dan kemudahan layanan bagi penumpangnya.

Melihat dari tren di Asia Pasifik, sebuah studi hasil kolaborasi F5 Networks dan Frost & Sullivan[4] yang berjudul ‘The New Language of Cloud Computing’ mengungkap fakta bahwa hanya 9% enterprise di Asia Pasifik saja yang belum punya rencana untuk mengimplementasikan komputasi cloud. Sementara, 23,8% enterprise di wilayah yang sama sudah dalam tahap perencanaan, 32,6% enterprise sudah dalam proses implementasi komputasi cloud, dan juga 34,5% sudah menggunakan teknologi tersebut.

Melihat tren yang berkembang di Asia Pasifik dan lebih spesifik contoh-contoh penerapan di Indonesia, dapat terlihat bahwa ada alasan-alasan pendorong lainnya di luar sekadar mendapatkan manfaat penghematan biaya. Ketiga alasan tersebut antara lain:

  • Meningkatnya peran eksekutif bisnis dalam pengadopsian komputasi cloud: Bisnis semakin menjadi pendorong utama dalam pengadopsian cloud di perusahaan seiring dengan penambahan layanan melalui aplikasi, baik kepada pelanggan maupun karyawannya. Studi ‘The New Language of Cloud Computing’ mengungkap fakta adanya peningkatan keterlibatan eksekutif C-level lain – seperti CEO / direktur eksekutif, CFO / direktur keuangan, dan COO / direktur operasional – di luar CTO / direktur IT dalam pengambilan keputusan untuk menerapkan layanan cloud. Bahkan, eksekutif bisnis kini memiliki peranan lebih untuk mendorong penerapan komputasi cloud di dalam perusahaan.
  • Bisnis mulai memperluas fungsionalitas IT ke cloud: Bisnis mulai berkembang dan menyambut penggunaan ekosistem IT everything as a Service atau sebagai layanan. Langkah ini akan “mengganggu” cara teknologi dikonsumsi dan menginspirasi model bisnis inovasi. Kini, perusahaan juga mulai mencari layanan dan fungsionalitas baru yang menggunakan model sebagai layanan / as-a-service ketimbang mengeluarkan biaya untuk infrastruktur (hardware dan software) serta tenaga ahli yang mengoperasikannya. Mereka mencari kemungkinan untuk memperluas fungsionalitas IT menggunakan platform cloud dan mengombinasikannya dengan infrastruktur on-premise yang telah dimiliki.

 

  • Internet of things: Tingkat penggunaan smartphone dan smart devices lain (smartwatch, smart TV, bahkan gelang pintar / smart wearable!) semakin tumbuh tiap tahunnya. Pengguna tentu menginginkan tiap layanan dan data yang ditawarkan melalui platform tersebut dapat diakses secara cepat di manapun dan kapanpun. Demi menjawab tantangan tersebut, kini makin banyak perusahaan penyedia layanan dan data yang mulai menerapkan komputasi cloud.

 

Dengan meningkatnya popularitas dan adopsi komputasi cloud pada bisnis, peran aplikasi menjadi semakin penting di dalam infrastruktur IT. Di sisi lain, aksesibilitas aplikasi menjadi kunci kepuasan pengguna. Pada kenyataannya, pengguna tidak peduli di mana aplikasi yang mereka akses diterapkan (on-premise, cloud, ataupun hybrid). Yang penting bagi mereka adalah aplikasi selalu tersedia untuk dapat diakses dengan cepat, kapanpun dan di manapun, serta aman. Aksesibilitas aplikasi inilah yang menjadi salah satu kunci penentu pengalaman pengguna, yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kepuasan mereka. Karenanya, dibutuhkan solusi seperti F5® BIG-IQ™ Cloud yang secara khusus dikembangkan untuk membantu bisnis mengatur dan mengotomasi layanan pengiriman aplikasi hybrid tanpa hambatan.

Khususnya dalam segi keamanan, penerapan aplikasi yang mulai beragam di dalam infrastruktur IT membutuhkan keamanan yang hybrid pula. Dengan platform F5 Silverline™, F5 Networks menyediakan layanan keamanan yang memberikan kemampuan bagi perusahaan untuk menangkal DDoS dan sehingga akses dari/menuju aplikasi selalu tersedia, dan dapat diakses dengan cepat, serta aman, apapun model penerapan yang dipilih oleh enterprise.

***

 

 

Tentang Penulis

Fetra Syahbana adalah Country Manager F5 di Indonesia. Dia bertanggung jawab untuk mengelola serta mengembangkan pasar di Indonesia secara keseluruhan, dan memegang peranan penting untuk menjadikan F5 sebagai mitra strategis bagi seluruh pelanggannya.

[1] http://cloudindonesia.com/implementasi-cloud-computing-di-bidang-pemerintahan/

[2] http://swa.co.id/technology/universitas-airlangga-terapkan-teknologi-cloud-dari-microsoft

[3] http://www.bumninsight.co.id/kerja-kerja-kerja/garuda-aplikasikan-cloud-computing

[4] https://f5.com/about-us/news/press-releases/f5-and-frost-sullivan-study-reveals-evolution-in-cloud-decision-making-and-implementation-defined-by-a-b-c-d-framework